Jakarta — IHSG Pulih Setelah Trading Halt, Ditutup Turun 1,06%
Suasana di lantai Bursa Efek Indonesia pagi tadi begitu mencekam. Belum genap satu menit setelah bel pembukaan berdentang, layar-layar monitor di sudut rua
Suasana di lantai Bursa Efek Indonesia pagi tadi begitu mencekam. Belum genap satu menit setelah bel pembukaan berdentang, layar-layar monitor di sudut ruang perdagangan langsung memerah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok begitu tajam, meninggalkan level penutupan sebelumnya yang masih bertengger di 8.320,555. Tepat pukul 09.00 WIB, indeks dibuka di posisi 8.027,82—langsung terpangkas 292,735 poin atau setara 3,52 persen. Deru mesin dan teriakan pialang bercampur dengan rasa harap-harap cemas para investor yang melihat nilai portofolio mereka luruh dalam sekejap.
Langkah Pemicu Trading Halt
Tekanan jual tidak berhenti di level pembukaan. Gelombang aksi lepas saham terus menggulung, menyeret IHSG semakin dalam hingga menyentuh ambang kritis. Berdasarkan data RTI, dalam kurang dari 15 menit pertama, indeks sempat longsor hingga lebih dari 5 persen dibanding penutupan kemarin. Penurunan sedalam itu secara otomatis mengaktifkan mekanisme trading halt—penghentian sementara perdagangan—selama 30 menit. Sesuai aturan Bursa Efek Indonesia, jika IHSG merosot lebih dari 5 persen, perdagangan dihentikan sementara untuk meredam kepanikan dan memberi ruang bagi pelaku pasar mencerna informasi.
Perlahan Bangkit di Sesi Sore
Saat perdagangan kembali dibuka sekitar pukul 09.45 WIB, indeks masih bergerak liar. Namun, aksi beli selektif mulai muncul, terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar dan beberapa emiten energi. Sesi siang menjadi ajang pemulihan: IHSG perlahan merangkak naik dari level terendahnya. Akhirnya, pada pukul 16.00 WIB, indeks ditutup di level 8.232,201, turun 88,354 poin atau 1,06 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya. Meskipun tetap melemah, posisi ini jauh lebih baik daripada titik nadir pagi tadi yang sempat menyentuh kisaran 7.900-an. Data perdagangan menunjukkan volume transaksi mencapai 18,7 miliar saham dengan nilai Rp12,4 triliun, mencerminkan likuiditas yang tetap tinggi di tengah turbulensi.
Sentimen Global dan Domestik Berpadu
Sejumlah analis menilai penyebab utama kejatuhan pagi ini dipicu oleh rambatan kekecewaan pasar terhadap data inflasi global yang dirilis semalam. Tiongkok dan Amerika Serikat sama-sama merilis angka produksi manufaktur yang meleset dari ekspektasi. Di dalam negeri, investor juga mengantisipasi rilis data cadangan devisa dan surprise defisit neraca perdagangan yang bocor ke publik jelang pembukaan. Kombinasi ini menciptakan gelombang risk-off yang menyapu bersih optimisme beberapa hari sebelumnya.
“Pasar terlalu cepat membaca data inflasi Tiongkok yang justru mengindikasikan pendinginan konsumsi. Itu langsung direspons negatif, ditambah isu devisa domestik yang beredar di grup-grup investor ritel sebelum pasar buka. Tapi fundamental kita sebenarnya tidak seburuk itu, makanya setelah trading halt ada kesempatan bagi institusi untuk masuk kembali,” ujar Andi Sentosa, analis pasar modal dari NH Korindo Sekuritas, saat dihubungi di sela-sela perdagangan.
Harapan di Tengah Pelambatan
Meski hari ini IHSG kembali menguji psikologis para investor, banyak pihak menilai trading halt justru menjadi penyelamat dari kejatuhan lebih dalam. Tanpa jeda 30 menit itu, kepanikan bisa berujung pada aksi jual massal tak terkendali. “Mekanisme itu berfungsi sesuai desainnya,” kata seorang sumber di otoritas bursa. Napas lega pun menyelimuti pelaku pasar saat sesi penutupan memberi kepastian bahwa level support 8.200 berhasil dipertahankan. Pasar kini bersiap menunggu rilis data ekonomi lanjutan pekan depan, yang akan menentukan apakah pelemahan ini sekadar koreksi teknikal atau awal tren penurunan yang lebih panjang.
Comments (0)