Pameran Arsip Bang Ali Hadirkan Rekam Jejak Gubernur Legendaris

Jakarta – Pameran arsip bertajuk “Bang Ali: Jejak Pembangunan Jakarta” resmi dibuka untuk masyarakat umum di Gedung Arsip Nasional, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/11/2025). Pameran yang digelar o...

Jul 12, 2026 - 03:53
0 0
Pameran Arsip Bang Ali Hadirkan Rekam Jejak Gubernur Legendaris

Jakarta – Pameran arsip bertajuk “Bang Ali: Jejak Pembangunan Jakarta” resmi dibuka untuk masyarakat umum di Gedung Arsip Nasional, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/11/2025). Pameran yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan keluarga besar Ali Sadikin ini menyajikan lebih dari 150 dokumen, foto, dan benda bersejarah yang merekam masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977 tersebut. Pameran akan berlangsung hingga 30 November 2025 dan dapat dikunjungi tanpa dipungut biaya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Surya Pratomo, dalam sambutannya menyatakan bahwa pameran ini merupakan upaya untuk menghadirkan kembali memori kolektif warga Jakarta tentang sosok pemimpin yang telah meletakkan fondasi kota modern. “Kami ingin generasi muda mengenal langsung gagasan dan kebijakan Ali Sadikin yang mengubah wajah Jakarta. Arsip adalah jendela sejarah yang otentik,” ujarnya.

Koleksi Langka dan Dokumen Kebijakan

Pameran dibagi ke dalam empat zona tematik: Zona Awal Kepemimpinan, Zona Pembangunan Infrastruktur, Zona Sosial dan Budaya, serta Zona Warisan. Di Zona Awal Kepemimpinan, pengunjung dapat melihat surat pengangkatan Ali Sadikin sebagai Gubernur yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 28 April 1966. Sebuah dokumen langka berupa rancangan awal Rencana Induk Jakarta 1965–1985 juga dipajang dalam vitrin khusus. Sementara itu, di Zona Pembangunan Infrastruktur, dipamerkan peta proyek pelebaran Jalan Thamrin, foto pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM), serta surat keputusan gubernur tentang pendirian rumah susun pertama di Tanah Abang pada 1972. Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah buku catatan pribadi Ali Sadikin yang berisi sketsa dan catatan tangan tentang penataan kawasan Monumen Nasional (Monas) yang saat itu masih berupa lapangan terbuka.

Sejarawan Universitas Indonesia, Prof. Dr. Nina Herlina Lubis, yang hadir sebagai narasumber dalam diskusi pembuka, menilai pameran ini sangat penting untuk memahami visi Ali Sadikin.

“Ali Sadikin adalah gubernur yang berani mengambil keputusan di tengah keterbatasan anggaran pasca-Orde Lama. Kebijakan menutup tempat perjudian dan memindahkan dana sosialnya untuk beasiswa adalah contoh keteladanan yang harus dicatat sejarah,”
jelasnya.

Kenangan Keluarga dan Pesan untuk Generasi Muda

Putra sulung Ali Sadikin, Irwan Sadikin, turut hadir dan membagikan kenangan pribadi tentang ayahnya. Ia menuturkan bahwa banyak dokumen yang dipamerkan berasal dari arsip keluarga yang selama ini tersimpan rapi di rumah pribadi. “Ayah kami selalu menekankan bahwa memimpin Jakarta bukan hanya soal membangun gedung, tetapi membangun manusia Jakarta. Arsip-arsip ini menjadi saksi bisu bagaimana beliau bekerja hingga larut malam, bahkan sering mengetik sendiri naskah pidatonya di mesin tik tua,” ungkap Irwan. Di salah satu sudut pameran, pengunjung dapat mendengarkan rekaman suara asli pidato Ali Sadikin saat meresmikan proyek air bersih pertama di Jakarta Utara pada 1973. Rekaman tersebut baru pertama kali diperdengarkan untuk publik.

Seorang pengunjung, Andini Pratiwi (24), mahasiswi jurusan Ilmu Sejarah, mengaku terkesan dengan pendekatan interaktif pameran. “Saya baru tahu bahwa ide membangun pedestrian dan taman kota seperti sekarang sudah dirintis sejak era Bang Ali. Ini membuka mata saya bahwa perencanaan kota tidak bisa instan,” katanya.

Warisan yang Tetap Hidup di Jakarta Modern

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, Agus Himawan, dalam sambutannya menegaskan bahwa sejumlah kebijakan Ali Sadikin masih relevan dan menjadi acuan pembangunan Jakarta saat ini. “Konsep pengembangan kawasan terpadu, penataan transportasi publik, hingga penanganan banjir yang beliau gagas masih kami jadikan rujukan dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah 2025–2045,” kata Agus. Ia mencontohkan bahwa program normalisasi sungai dan pembangunan waduk yang kini dipercepat menggunakan teknologi mutakhir merupakan kelanjutan dari rencana induk yang disusun di era Ali Sadikin.

Pameran juga menampilkan data statistik pembangunan selama periode 1966–1977: pembangunan 342 gedung sekolah, 117 puskesmas, 52 pasar tradisional, dan 3.200 hektare ruang terbuka hijau berhasil diwujudkan. Data tersebut disandingkan dengan kondisi Jakarta sebelum tahun 1966 yang minim infrastruktur dasar. Kepala Unit Pengelola Arsip DKI Jakarta, M. Yusuf, menjelaskan bahwa pihaknya membutuhkan waktu enam bulan untuk mengkurasi dan memverifikasi keaslian seluruh koleksi yang dipamerkan. “Kami melibatkan tim ahli dari Arsip Nasional dan sejarawan untuk memastikan konteks dan akurasi setiap dokumen. Target kami, setelah pameran ini, seluruh arsip akan didigitalisasi dan dapat diakses secara daring oleh peneliti maupun masyarakat umum,” ujar Yusuf.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan juga menyelenggarakan serangkaian kegiatan pendukung, di antaranya lokakarya penulisan sejarah lokal, lomba esai untuk pelajar bertema “Jakarta Impian Bang Ali”, serta tur khusus bagi komunitas difabel dengan pemandu bahasa isyarat. “Kami memastikan pameran inklusif dan menjangkau semua lapisan warga,” tambah Surya Pratomo. Pameran ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan 2025 dan diharapkan mampu menginspirasi para pemimpin muda untuk meneruskan semangat pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User