Sep 02, 2026
Politik

Orang Tua di Jakarta Waspadai Grup WhatsApp Tambang Siswa SD-SMP

Sejumlah orang tua siswa di wilayah Jakarta diminta meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas digital anak-anak mereka. Peringatan tersebut muncul setelah ditemukan grup percakapan daring yang secara...

Orang Tua di Jakarta Waspadai Grup WhatsApp Tambang Siswa SD-SMP

Sejumlah orang tua siswa di wilayah Jakarta diminta meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas digital anak-anak mereka. Peringatan tersebut muncul setelah ditemukan grup percakapan daring yang secara acak mengundang pelajar dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.

Percakapan Berbahaya dalam Grup

Berdasarkan informasi yang beredar, kelompok percakapan tersebut bernama "Add People As Much As You Can" dan telah memiliki lebih dari 1.000 anggota. Para anggota yang diundang secara acak didominasi oleh pelajar dari berbagai sekolah di Jakarta.

Seorang kreator daring bernama Yuda Fajrin mengungkapkan bahwa dirinya mengetahui keberadaan kelompok tersebut setelah salah satu rekan kerjanya mendapat informasi dari seorang ayah yang anaknya ikut bergabung dalam grup tersebut. "Ayah tersebut bercerita bahwa anaknya diundang masuk grup saat sedang mengikuti turnamen bola bersama teman-teman dari sekolah yang sama," jelas Yuda saat dikonfirmasi, Selasa (1/9).

Setelah anaknya bergabung, sang ayah langsung memerintahkan anaknya untuk keluar dari grup tersebut. "Mulanya anak tersebut tidak menyadari apa yang terjadi di dalam grup. Namun setelah diamati, mulai muncul percakapan-ppercakapan yang tidak pantas untuk anak seusia mereka," terang Yuda.

Voting Orientasi Seksual di Kalangan Pelajar

Yuda menjelaskan bahwa di dalam grup tersebut ditemukan aktivitas voting yang membahas orientasi seksual. Para anggota diminta memilih antara beberapa opsi identitas seksual. "Pertanyaan yang muncul di dalam voting tersebut berbunyi 'Are you gay, lesbian, straight, or others?' dengan nada yang sangat santai seolah-olah hal tersebut adalah hal wajar," papar Yuda.

Ia menyoroti bahwa aktivitas voting semacam itu sangat tidak pantas mengingat mayoritas anggota grup adalah anak-anak usia sekolah dasar dan menengah. "Pembahasan semacam ini sangat mengkhawatirkan karena anak-anak di usia tersebut belum memiliki kemampuan untuk menyaring informasi yang mereka terima," tegas Yuda.

Potensi Bahaya di Balik Akun Anonim

Selain masalah konten yang berkaitan dengan orientasi seksual, Yuda menyatakan bahwa kekhawatiran orang tua sebenarnya lebih kepada siapa saja yang berada di balik akun-akun tersebut. Dengan jumlah anggota yang mencapai lebih dari 1.000 orang, mustahil untuk memantau seluruh aktivitas di dalam grup.

"Kita tidak bisa memastikan siapa yang sebenarnya ada di balik setiap akun. Seseorang bisa saja mengklaim berusia 10 tahun atau 13 tahun padahal usianya jauh lebih tua. Inilah yang menjadi kekhawatiran utama, yakni potensi indikasi pedofilia," jelas Yuda.

Ia juga menyebutkan bahwa pelajar dari sekolah lain juga turut diundang ke dalam grup tersebut. "Dengan jumlah yang sangat besar, para orang tua tidak memiliki kemampuan untuk memantau seluruh aktivitas dan interaksi yang terjadi di dalam grup," tambah Yuda.

Ajakan untuk Orang Tua

Yuda mendorong seluruh orang tua untuk segera memeriksa perangkat gawai anak-anak mereka dan menanyakan apakah ada grup percakapan mencurigakan yang perlu diwaspadai. Ia juga meminta agar orang tua segera melaporkan temuan apa pun yang mencurigakan kepada pihak berwajib.

"Kami berharap sekolah-sekolah juga dapat memperkuat edukasi mengenai keamanan digital agar para siswa memahami risiko bergabung dalam grup-grup yang tidak dikenal," harap Yuda.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User