New Delhi, Apaberita.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa satelit buatan dalam negeri akan diluncurkan dari India pada Januari 2027. Peluncuran ini menjadi tonggak penting bagi kemandirian teknologi antariksa Indonesia, sekaligus menandai kerja sama strategis dengan Organisasi Penelitian Antariksa India (ISRO).
Kepala BRIN, Arif Satria, dalam konferensi pers virtual yang digelar Selasa (8/7/2026), mengungkapkan bahwa satelit tersebut telah memasuki tahap akhir int
Kepala BRIN, Arif Satria, dalam konferensi pers virtual yang digelar Selasa (8/7/2026), mengungkapkan bahwa satelit tersebut telah memasuki tahap akhir integrasi dan pengujian di fasilitas perakitan BRIN di Rancabungur, Bogor. “Ini adalah satelit pertama yang sepenuhnya dirancang, dibangun, dan diuji oleh para periset kita sendiri. Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama di industri keantariksaan regional,” ujarnya.
Nama dan Misi Satelit
Satelit yang diberi nama Nusantara-S1 itu merupakan satelit observasi Bumi kelas menengah. Ia akan mengemban misi ganda: pemantauan sumber daya alam dan mitigasi bencana. Dengan bobot sekitar 450 kilogram, Nusantara-S1 akan ditempatkan di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO) pada ketinggian 550 kilometer. Orbit tersebut memungkinkan satelit melintas di atas wilayah Indonesia hingga enam kali sehari, sehingga dapat memberikan data hampir real-time tentang perubahan tutupan lahan, titik panas kebakaran hutan, serta pergerakan awan dan cuaca ekstrem.
“Kami menargetkan resolusi spasial hingga 2,5 meter untuk sensor multispektralnya. Ini cukup untuk mendeteksi pembukaan lahan ilegal, memonitor proyek infrastruktur nasional, serta membantu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam merespons bencana dengan lebih cepat,” jelas Arif.
Mengapa Diluncurkan dari India?
Pemilihan India sebagai lokasi peluncuran bukan tanpa pertimbangan matang. Pusat Antariksa Satish Dhawan di Sriharikota, India, menawarkan keandalan tinggi dengan biaya yang kompetitif. Roket Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) milik ISRO telah sukses mengantarkan lebih dari 300 satelit asing ke orbit, termasuk satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI pada 2015 dan LAPAN-A3 pada 2016.
Kontrak peluncuran ini ditandatangani pada pertemuan bilateral Indonesia-India di sela-sela KTT G20 tahun lalu. Selain aspek komersial, kerja sama ini diperkuat oleh program transfer pengetahuan. Sepuluh insinyur BRIN telah menjalani pelatihan integrasi muatan dan prosedur peluncuran di Bengaluru selama enam bulan terakhir.
“Ini bukan sekadar jasa peluncuran. Kami membangun kapasitas sumber daya manusia Indonesia agar ke depan kita bisa mandiri dalam mengoperasikan dan, pada waktunya nanti, memiliki infrastruktur peluncuran sendiri dari Biak atau Morotai,” tegas Arif Satria.
Investasi dan Dampak Ekonomi
Proyek Nusantara-S1 menelan anggaran sekitar Rp850 miliar yang berasal dari APBN multiyears 2024–2027. Angka ini mencakup riset, pengembangan, konstruksi, serta biaya peluncuran dan asuransi. Pemerintah memperkirakan bahwa satelit ini akan menghemat kebutuhan data penginderaan jauh hingga 40 persen, karena Indonesia selama ini mengandalkan pembelian citra satelit dari penyedia komersial asing.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya menambahkan bahwa data dari Nusantara-S1 akan menjadi tulang punggung kebijakan tata ruang dan pengelolaan kelautan nasional. “Setiap tahun kita kehilangan triliunan rupiah akibat penangkapan ikan ilegal dan kerusakan lingkungan. Satelit ini ibarat mata langit yang menjaga kedaulatan sumber daya kita,” ujarnya dalam kesempatan terpisah.
Rentang Waktu Peluncuran
Jendela peluncuran (launch window) Nusantara-S1 dibuka pada 10–25 Januari 2027, dengan tanggal utama yang direncanakan pada 15 Januari 2027. Satelit akan diangkut menggunakan pesawat kargo Antonov dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Chennai pada pertengahan Desember 2026, sebelum menjalani pemeriksaan akhir di fasilitas ISRO.
BRIN juga telah menyiagakan stasiun bumi utama di Rancabungur dan stasiun cadangan di Biak, Papua, untuk menerima telemetri dan mengendalikan satelit begitu terpisah dari roket peluncur. Tim insinyur akan bersiaga penuh selama fase kritis launch and early orbit phase (LEOP) yang berlangsung sekitar 72 jam pertama setelah peluncuran.
Langkah Menuju Kemandirian Antariksa
Nusantara-S1 hanyalah permulaan. BRIN telah menyusun peta jalan pengembangan satelit nasional hingga 2045. Tahap berikutnya adalah penyelesaian satelit komunikasi eksperimental Nusantara-K1 yang ditargetkan mengorbit pada 2029–2030. Proyek jangka panjang ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada satelit asing sekaligus membuka peluang komersialisasi data dan jasa peluncuran di kawasan Asia Tenggara.
“Dengan SDA yang melimpah dan posisi geografis strategis, Indonesia tidak boleh absen dalam revolusi ekonomi antariksa yang diproyeksikan bernilai 1,8 triliun dolar AS pada 2035. Nusantara-S1 adalah pernyataan bahwa Indonesia hadir dan siap bersaing,” pungkas Arif Satria.
Kontributor: Laporan Redaksi Apaberita.com dari Jakarta
Comments (0)