JAKARTA — Kebiasaan Kerja Berlebihan Tingkatkan Risiko Jantung Koroner

Kebiasaan bekerja melebihi batas wajar atau yang dikenal dengan istilah overwork terbukti secara signifikan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner (P

Jul 09, 2026 - 08:49
0 0
JAKARTA — Kebiasaan Kerja Berlebihan Tingkatkan Risiko Jantung Koroner

Kebiasaan bekerja melebihi batas wajar atau yang dikenal dengan istilah overwork terbukti secara signifikan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner (PJK). Temuan ini didasarkan pada studi longitudinal terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal kardiologi internasional, European Heart Journal, edisi Maret 2025. Penelitian yang melibatkan lebih dari 85.000 partisipan di 14 negara itu menunjukkan bahwa individu yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu memiliki risiko 38% lebih tinggi mengalami serangan jantung koroner dibandingkan mereka yang bekerja 35–40 jam per minggu.

Studi ini menggunakan desain kohort prospektif dengan masa pemantauan rata-rata 7,2 tahun. Para peneliti mengontrol variabel pengganggu seperti usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kebiasaan merokok, dan riwayat penyakit kardiovaskular keluarga. Hasilnya tetap konsisten: jam kerja panjang menjadi faktor risiko independen untuk kejadian koroner akut. Secara spesifik, kelompok yang bekerja 41–48 jam/minggu menunjukkan peningkatan risiko sebesar 12%, sementara kelompok 49–54 jam/minggu naik ke 23%. Lonjakan paling tajam terjadi pada pekerja dengan durasi >55 jam/minggu.

Mekanisme biologis di balik hubungan ini melibatkan stres kronis yang memicu disregulasi sistem saraf otonom. Dr. Andini Pratiwi, Sp.JP, konsultan kardiologi dari RS Jantung Harapan Kita, menjelaskan bahwa, "Pekerjaan berlebih memicu pelepasan hormon kortisol dan katekolamin secara terus-menerus. Kondisi ini meningkatkan tekanan darah, mempercepat aterosklerosis, dan memicu ketidakstabilan plak di arteri koroner." Selain itu, overwork seringkali berdampak pada gaya hidup tidak sehat: kurang tidur, pola makan buruk, minim aktivitas fisik, dan peningkatan konsumsi kafein atau rokok, yang semuanya memperparah beban pada jantung.

Analisis Kuantitatif Dampak Jam Kerja terhadap Risiko Jantung Koroner

Data dari studi tersebut memperlihatkan gradasi risiko yang jelas berdasarkan durasi kerja mingguan. Tabel berikut merangkum rasio bahaya (hazard ratio) yang disesuaikan:

Kategori Jam Kerja/Minggu Risiko Relatif (HR) Peningkatan Risiko vs 35–40 jam
35–40 jam (referensi) 1,00
41–48 jam 1,12 +12%
49–54 jam 1,23 +23%
≥55 jam 1,38 +38%

Analisis subkelompok menunjukkan bahwa dampak overwork lebih kuat pada pekerja laki-laki dan kelompok usia 45–64 tahun. Pada subjek dengan hipertensi stadium 1 yang bekerja >55 jam/minggu, risiko absolut kejadian koroner dalam 10 tahun melonjak hingga 17,4%, berdasarkan kalkulasi skor risiko Framingham yang dimodifikasi. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi di tingkat tempat kerja, khususnya bagi populasi pekerja usia produktif yang merupakan tulang punggung ekonomi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) sebelumnya telah merilis estimasi global bahwa pada 2021, sekitar 397.000 kematian akibat penyakit jantung iskemik terkait dengan jam kerja panjang. Data Kementerian Ketenagakerjaan RI pada 2024 mencatat bahwa 27% pekerja formal di Indonesia rutin bekerja di atas 48 jam per minggu, mendekati ambang risiko tinggi. Angka ini menempatkan Indonesia pada urutan ke-4 di Asia Tenggara dalam hal prevalensi overwork.

Para ahli menyarankan agar perusahaan menerapkan kebijakan jam kerja fleksibel, memastikan hak cuti, serta menyediakan program manajemen stres dan skrining kesehatan berkala. Dari sisi individu, penting untuk mengenali tanda awal seperti nyeri dada, palpitasi, sesak napas tanpa sebab jelas, dan kelelahan ekstrem. Dr. Andini menegaskan, "Jantung bukan mesin yang bisa dipacu 24 jam. Setiap tambahan jam kerja tanpa istirahat sepadan adalah tabungan risiko yang suatu saat bisa berubah menjadi serangan mematikan."

Dengan semakin kaburnya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi akibat teknologi digital, risiko overwork diperkirakan akan terus meningkat. Literasi kesehatan kardiovaskuler dan regulasi ketenagakerjaan yang protektif menjadi kunci untuk memitigasi epidemi penyakit jantung koroner di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User