Nasdem Bimbang Tentukan Jagoan di Pilgub Sumut
JAKARTA — Partai Nasional Demokrat (Nasdem) hingga saat ini masih belum mencapai titik final dalam menentukan figur yang akan diusung sebagai calon gubernur pada arena Pemilihan Gubernur Sumatra Uta...
JAKARTA — Partai Nasional Demokrat (Nasdem) hingga saat ini masih belum mencapai titik final dalam menentukan figur yang akan diusung sebagai calon gubernur pada arena Pemilihan Gubernur Sumatra Utara (Pilgub Sumut) 2024. Dua nama kuat yang tengah dipertimbangkan secara serius oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) adalah Gubernur petahana Edy Rahmayadi serta Wali Kota Medan Bobby Nasution. Proses penjaringan internal yang dinamis menempatkan partai besutan Surya Paloh itu pada posisi dilematis lantaran kedua kandidat dinilai memiliki basis elektoral yang solid sekaligus rekam jejak yang mumpuni dalam memimpin wilayah strategis di Sumatera Utara.
Proses Penjaringan dan Godokan Internal
Berdasarkan hasil Rapat Koordinasi yang digelar di markas pusat Nasdem beberapa waktu lalu, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan strategis menyangkut nama calon kepala daerah. "Kami masih mendengarkan masukan dari struktur partai di bawah, khususnya dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nasdem Sumatra Utara. Kami juga terus memantau hasil survei dan dinamika sosiologis pemilih di lapangan. Keputusan final akan ditetapkan setelah melalui mekanisme pleno yang melibatkan seluruh jajaran dewan pertimbangan," ujar politikus senior Nasdem di Jakarta, Selasa pekan lalu.
Dalam struktur internal, dua kubu yang menyokong masing-masing nama terus melakukan komunikasi politik secara intensif. Tim pemenangan di tingkat wilayah diminta untuk menyandingkan data elektabilitas kedua tokoh ini secara obyektif. Data awal dari sejumlah lembaga survei menempatkan baik Edy Rahmayadi maupun Bobby Nasution dalam posisi kompetitif. Perbedaannya terletak pada segmentasi pemilih; petahana cenderung kuat di segmen pemilih tradisional dan birokrasi, sementara menantu Presiden Joko Widodo itu unggul di kalangan pemilih perkotaan dan pemilih muda yang melek digital.
Keunggulan Bobby Nasution: Pemimpin Muda Wali Kota Medan
Salah satu nama yang memperoleh penilaian tinggi dari tim penjaringan adalah Bobby Afif Nasution. Ia dinilai berhasil membawa perubahan signifikan di Kota Medan selama masa kepemimpinannya. Berdasarkan data yang dihimpun DPP, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Wali Kota Medan itu cenderung stabil di atas 75 persen. Capaian ini menjadi salah satu variabel kunci yang tengah dihitung oleh Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Nasdem. Bobby dipandang sebagai representasi kepemimpinan milenial yang mampu mengeksekusi program infrastruktur dan penataan kawasan perkotaan dengan baik.
Sekretaris Jenderal DPP Partai Nasdem, Hermawi Taslim, menyatakan bahwa keputusan untuk mengusung Bobby Nasution sangat bergantung pada hasil negosiasi koalisi dan kepastian dukungan dari partai politik lain. "Kami melihat Pak Bobby sebagai figur pekerja yang punya visi jelas untuk pengembangan kawasan perkotaan. Namun, pengusungan seorang calon bukan hanya tentang popularitas melainkan juga tentang bangunan koalisi yang kokoh agar mesin partai bekerja maksimal hingga ke tingkat ranting," kata Hermawi kepada awak media.
Kekuatan Edy Rahmayadi: Petahana dengan Basis Massa Kuat
Di sisi lain, Edy Rahmayadi bukanlah lawan yang bisa diabaikan begitu saja oleh Partai Nasdem. Sebagai gubernur yang masih menjabat, Edy memiliki jaringan politik yang sangat luas, terutama di kalangan organisasi keagamaan dan tokoh masyarakat tradisional di Sumatera Utara. Kedekatannya dengan simpul-simpul kekuasaan di luar wilayah perkotaan Medan menjadi aset berharga yang membuat Nasdem harus berpikir seribu kali sebelum berpaling dari mantan Pangkostrad tersebut. Petahana ini juga dinilai berhasil mempertahankan stabilitas pembangunan di sektor pertanian dan infrastruktur pedesaan selama masa jabatannya.
Berdasarkan hasil Rapat Pleno internal yang digelar terbatas di Kantor DPW Nasdem Sumut, Ketua DPW Nasdem Sumatra Utara menyampaikan laporan bahwa mesin partai di kabupaten dan kota masih solid dan cenderung menginginkan calon yang sudah terbukti mampu menjaga harmoni di tengah masyarakat Sumatra Utara yang majemuk. "Pak Edy Rahmayadi adalah figur yang sangat dikenal. Rekam jejaknya panjang, dan itu menjadi pertimbangan matang kami. Kami tidak bisa hanya melihat fenomena sesaat di media sosial, tetapi juga harus membaca peta kekuatan di akar rumput," demikian laporan yang dikutip dari hasil rapat koordinasi tersebut.
Konsolidasi Koalisi dan Strategi Menuju Pendaftaran
Nasdem menyadari bahwa untuk mendaftarkan calon ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), mereka membutuhkan setidaknya 9 kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut. Hingga berita ini diturunkan, komunikasi politik tengah dijajaki dengan sejumlah partai seperti Partai Gerindra dan PKS untuk membentuk poros koalisi yang lebih gemuk. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Bappilu Nasdem yang menyatakan bahwa tidak ada ruang bagi ego sektoral. "Kami menargetkan deklarasi resmi paling lambat dua pekan sebelum batas akhir pendaftaran calon. Seluruh pilihan masih terbuka, baik mengusung petahana maupun mengusung wajah baru. Yang pasti, keputusan akan diambil berdasarkan keputusan bersama partai koalisi," tegasnya.
Partai Nasdem terus menindaklanjuti dinamika politik yang berkembang dengan menggelar serangkaian rapat dengar pendapat bersama kedua bakal calon. Keputusan final akan disahkan setelah adanya kesepakatan bersama antara DPP dan struktur partai di tingkat wilayah.
Comments (0)