NasDem Belum Putuskan Dukungan di Pilkada Sumut, Edy vs Bobby
JAKARTA — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem menyatakan belum mengambil keputusan final terkait arah dukungan pada pemilihan gubernur Sumatera Utara 2024. Dua nama yang menjadi pertimbangan ut...
JAKARTA — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem menyatakan belum mengambil keputusan final terkait arah dukungan pada pemilihan gubernur Sumatera Utara 2024. Dua nama yang menjadi pertimbangan utama adalah mantan Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, dan Wali Kota Medan, Bobby Nasution. Penundaan ini disampaikan langsung oleh Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai NasDem, Prananda Surya Paloh, dalam keterangan pers usai rapat terbatas di Jakarta, Selasa.
"Kami masih mematangkan sejumlah variabel. Ini bukan sekadar soal popularitas, tetapi menyangkut keselarasan visi pembangunan dan komitmen koalisi jangka panjang," tegas Prananda. Ia menambahkan, survei internal dan masukan dari pengurus daerah masih dikaji secara mendalam. Partai berlambang bintang emas itu tidak ingin tergesa-gesa dalam menentukan sikap, mengingat posisi Sumut sebagai salah satu provinsi strategis dengan basis pemilih besar.
Sikap Resmi NasDem
Prananda menegaskan bahwa mekanisme penjaringan di DPP masih berjalan sesuai prosedur. Tim kecil telah dibentuk untuk mendalami rekam jejak dan program unggulan masing-masing kandidat. "Kami perlu melihat lebih dari sekadar angka elektabilitas. Kapasitas memimpin, jejak integritas, dan kemampuan merangkul semua kekuatan politik di Sumut menjadi pertimbangan utama," ujarnya.
Internal partai, menurutnya, terbelah antara kubu yang menginginkan dukungan kepada Edy Rahmayadi karena pengalaman dan basis massa tradisionalnya, dan mereka yang condong ke Bobby Nasution karena dinilai mewakili regenerasi dan kedekatan dengan pemilih muda. "Tidak ada keputusan tanpa konsensus di tingkat tertinggi. Kami akan menggelar rapat pleno khusus sebelum mengumumkan sikap resmi," tambah Prananda.
Peta Kekuatan Dua Kandidat
Edy Rahmayadi, purnawirawan TNI yang pernah menjabat Gubernur Sumut periode 2018–2023, dikenal memiliki jaringan solid di kalangan relawan dan organisasi kemasyarakatan. Dukungan dari basis massa di luar Medan menjadi modal penting. Sementara itu, Bobby Nasution, menantu Presiden Joko Widodo, mengantongi popularitas tinggi di kawasan perkotaan serta di kalangan pemilih perempuan dan milenial. Survei terbaru yang dilakukan lembaga internal partai menempatkan kedua tokoh dalam rentang elektabilitas yang ketat, dengan selisih tipis di bawah margin of error.
"Keduanya memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing. Edy kuat di akar rumput, tetapi kami perlu memetakan ulang sejauh mana loyalitas tim pemenangannya. Bobby muda dan adaptif, namun kami harus menghitung dampak persepsi politik terhadap kemandirian NasDem," ungkap seorang fungsionaris Bappilu yang enggan disebutkan namanya.
Respons dari Kandidat dan Partai Lain
Pihak Edy Rahmayadi menyatakan siap menerima apa pun keputusan NasDem, seraya mengklaim telah mengantongi dukungan dari sejumlah partai lain. "Kami menghormati proses internal di NasDem. Silaturahmi terus terjalin, dan kami optimistis dapat membangun koalisi besar," kata juru bicara tim pemenangan Edy. Sementara itu, kubu Bobby Nasution memilih bersikap tenang dan menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme di tubuh partai. "Komunikasi berjalan baik. Kami yakin NasDem akan memilih pemimpin yang terbaik untuk Sumut," ucap seorang politikus muda yang dekat dengan Bobby.
Di sisi lain, dinamika koalisi di tingkat provinsi juga memanas. Beberapa partai anggota Koalisi Indonesia Maju (KIM) dikabarkan tengah merapat ke Bobby, sementara poros partai berbasis nasionalis dan agamis mulai mengerucut ke Edy. NasDem, yang pada Pemilu 2024 lalu menjalin kerja sama cair dengan banyak pihak, dinilai menjadi penentu keseimbangan. "Keputusan NasDem bisa menjadi katalis pembentukan poros baru di Sumut," kata pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara, Haryo Prasetyo.
Implikasi Keterlambatan Keputusan
Penundaan pengumuman ini memunculkan spekulasi mengenai manuver negosiasi di balik layar. Sejumlah kalangan menilai, semakin lama sikap NasDem digantung, semakin besar peluang tawar-menawar kursi wakil gubernur atau komposisi kabinet. "Ini strategi yang lumrah dalam politik. NasDem sedang memaksimalkan posisi tawarnya agar tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi penentu peta koalisi," jelas Haryo.
Namun, ada risiko kehilangan momentum jika keputusan terlalu lama. "Kampanye sudah dekat. Basis massa butuh kepastian untuk bergerak. Jika terlalu larut, mesin partai di bawah bisa kehilangan arah," ujar pengamat lainnya, Dina Mariana. Ia menambahkan, ketidakpastian juga berpotensi dimanfaatkan lawan politik untuk membangun narasi bahwa NasDem ragu dan terpecah. Meski demikian, Prananda menegaskan bahwa partainya tidak akan mengorbankan prinsip hanya demi kecepatan. "Kualitas keputusan lebih penting daripada sekadar kecepatan," pungkasnya.
Comments (0)