Napi Lapas Takalar Panen Puluhan Kilogram Sayur Budidaya Mandiri

Takalar, 17 Juli 2026 — Seorang narapidana Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Takalar berinisial KL menunjukkan antusiasme tinggi saat memanen puluhan kilogram sayuran hasil budidaya mandiri di area p...

Jul 18, 2026 - 15:34
0 0
Napi Lapas Takalar Panen Puluhan Kilogram Sayur Budidaya Mandiri

Takalar, 17 Juli 2026 — Seorang narapidana Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Takalar berinisial KL menunjukkan antusiasme tinggi saat memanen puluhan kilogram sayuran hasil budidaya mandiri di area pertanian lapas, Kamis pagi. Kegiatan panen ini merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang dirancang untuk membekali warga binaan dengan keterampilan praktis sekaligus mendukung ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.

Panen Perdana yang Membanggakan

KL, yang telah menjalani masa pembinaan di Lapas Takalar selama dua tahun terakhir, terlihat cekatan memotong batang kangkung dan mencabut sawi hijau dari lahan seluas 200 meter persegi yang dikelolanya bersama tiga rekan sesama warga binaan. Berdasarkan keterangan petugas lapas, total hasil panen pada periode kali ini mencapai 35 kilogram yang terdiri dari kangkung, bayam, sawi hijau, dan selada segar. Seluruh hasil panen langsung diserahkan ke dapur lapas untuk dimanfaatkan dalam penyediaan konsumsi bagi seluruh penghuni Lapas Kelas IIB Takalar yang berjumlah 187 orang.

"Saya tidak menyangka bisa memanen sebanyak ini. Melihat tanaman tumbuh subur dari benih yang saya tanam sendiri, rasanya ada kebanggaan tersendiri. Ini membuat saya percaya bahwa setelah bebas nanti, saya punya bekal keterampilan yang bisa dimanfaatkan," ujar KL saat ditemui di sela-sela kegiatan panen, dengan wajah berseri memegang ikat bayam segar hasil petikannya.

"Bahagia sekali rasanya melihat hasil kerja sendiri. Selama di sini saya belajar bahwa kerja keras selalu membuahkan hasil."

Program Pembinaan Berbasis Kemandirian Pangan

Kepala Lapas Kelas IIB Takalar, Andi Muh. Syahrir, A.Md.IP, S.H., M.H., menjelaskan bahwa kegiatan budidaya pertanian ini merupakan implementasi dari Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan serta menindaklanjuti instruksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan terkait penguatan program kemandirian pangan di seluruh unit pelaksana teknis pemasyarakatan.

Menurut Andi Muh. Syahrir, lahan pertanian seluas 1.200 meter persegi yang berada di area belakang lapas telah dimanfaatkan secara optimal sejak awal tahun 2026. Selain sayuran, lahan tersebut juga ditanami cabai, tomat, terong, dan beberapa jenis tanaman obat keluarga. Program ini melibatkan 24 warga binaan yang terbagi dalam enam kelompok kerja, masing-masing mendapatkan bimbingan teknis dari penyuluh pertanian setempat yang dihadirkan melalui kerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Takalar.

"Ini bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Kami mendesain program ini sebagai bagian integral dari sistem pembinaan. Warga binaan mendapatkan pelatihan mulai dari pengolahan tanah, pembibitan, perawatan tanaman, hingga teknik panen yang baik," tegas Andi Muh. Syahrir dalam keterangan tertulisnya.

"Kami ingin memastikan bahwa setiap warga binaan yang keluar dari sini membawa pulang keterampilan yang dapat menjadi modal kemandirian ekonomi."

Efisiensi Anggaran dan Dampak Positif

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Takalar, Herman, S.H., mengungkapkan bahwa program pertanian mandiri ini telah memberikan kontribusi signifikan terhadap efisiensi anggaran belanja bahan makanan lapas. Berdasarkan data yang dihimpun, penghematan mencapai 15 hingga 20 persen per bulan dari total anggaran konsumsi yang sebelumnya sepenuhnya bergantung pada pasokan eksternal. Hasil panen sayuran secara rutin mampu memenuhi kebutuhan dapur lapas selama tiga hingga empat hari dalam setiap siklus panen dua mingguan.

Selain dampak ekonomi, Herman mencatat adanya perubahan perilaku positif di kalangan warga binaan yang terlibat dalam program ini. Tingkat partisipasi dan kedisiplinan meningkat, sementara pelanggaran tata tertib di asrama menurun. "Ada keterkaitan antara kegiatan produktif dengan kesehatan mental warga binaan. Mereka yang aktif dalam program pertanian cenderung lebih tenang dan memiliki orientasi masa depan yang lebih jelas," papar Herman.

Kegiatan panen yang berlangsung pada Kamis pagi tersebut disaksikan langsung oleh jajaran struktural Lapas Takalar serta perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Sulawesi Selatan. Dalam kunjungannya, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Sulsel menyampaikan apresiasi atas konsistensi Lapas Takalar dalam menjalankan program pembinaan berbasis keterampilan yang sejalan dengan kebijakan nasional kemandirian pangan.

Ke depan, Lapas Kelas IIB Takalar berencana memperluas area tanam hingga 2.000 meter persegi dan menjajaki kerja sama pemasaran hasil panen berlebih ke pasar tradisional sekitar. Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat aspek pembinaan, melainkan juga memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian masyarakat di Kabupaten Takalar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User