MUI Paparkan 10 Keutamaan Puasa Sunnah Senin Kamis
Jakarta, 30 Mei 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menegaskan keistimewaan ibadah puasa sunnah Senin-Kamis dalam sebuah tausiah yang digelar di Masjid Istiqlal, Jumat (30/5). Ketua Bidang ...
Jakarta, 30 Mei 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menegaskan keistimewaan ibadah puasa sunnah Senin-Kamis dalam sebuah tausiah yang digelar di Masjid Istiqlal, Jumat (30/5). Ketua Bidang Fatwa MUI, Prof. Dr. K.H. Asrorun Ni'am Sholeh, MA., secara terperinci menguraikan sepuluh keutamaan beserta landasan dalil yang mendasari anjuran menahan diri dari segala pembatal puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari pada dua hari tersebut. Pernyataan ini disampaikan untuk memperkuat pemahaman dan pengamalan sunnah di kalangan umat Islam Indonesia.
“Puasa Senin Kamis merupakan amalan sunnah muakkad yang memiliki pijakan syariat yang sangat kokoh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya, dan ini menjadi teladan bagi kita semua,” tegas Asrorun saat menyampaikan materi di depan ratusan jamaah yang hadir secara langsung maupun daring. Ia menekankan bahwa selain bernilai ibadah vertikal, praktik menahan lapar dan dahaga secara rutin setiap pekan juga membawa dampak positif bagi kesehatan fisik dan ketahanan mental.
Landasan Syariat dan Dalil
Asrorun menjelaskan, dalil utama puasa Senin Kamis merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Amal perbuatan manusia diperlihatkan di hadapan Allah pada hari Senin dan Kamis. Maka aku suka bila amalanku diperlihatkan sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani). Selain itu, dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi mengungkapkan alasan khusus berpuasa di hari Senin karena hari tersebut merupakan hari kelahirannya sekaligus hari diturunkannya wahyu pertama.
“Dua hadis ini menjadi fondasi yang tidak terbantahkan. Hari Senin dan Kamis adalah waktu diangkatnya catatan amal, sehingga sangat dianjurkan bagi seorang hamba untuk menutup catatan mingguannya dengan ibadah puasa,” paparnya. MUI melalui Bidang Fatwa telah lama menetapkan bahwa ibadah ini termasuk sunnah yang sangat ditekankan, dan tidak pernah tercatat ada perbedaan pendapat yang signifikan di kalangan ulama empat mazhab mengenai keutamaannya.
Sepuluh Keutamaan Puasa Senin Kamis
Dalam paparannya, Prof. Asrorun merangkum sepuluh keutamaan yang bisa diraih oleh muslim yang konsisten menjalankan puasa sunnah ini. Pertama, puasa Senin Kamis menjadi sarana penghapus dosa-dosa kecil yang pernah diperbuat. “Setiap kebaikan akan menghapus keburukan, dan puasa adalah perisai dari api neraka,” ujarnya mengutip makna hadis Nabi. Kedua, puasa ini secara langsung meningkatkan derajat ketakwaan seseorang karena membiasakan diri untuk menahan keinginan duniawi semata-mata karena Allah. Ketiga, dari sisi kesehatan, ibadah ini memberikan waktu istirahat bagi sistem pencernaan dan membantu proses detoksifikasi alami tubuh, sebagaimana telah banyak diteliti oleh ilmu kedokteran modern.
Keempat, puasa rutin dua kali sepekan melatih kedisiplinan waktu dan pengendalian diri yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam manajemen amarah dan pengelolaan stres. Kelima, menumbuhkan rasa syukur atas nikmat makan dan minum yang sering kali terlupakan saat dalam keadaan kenyang. Keenam, ibadah ini memperkuat empati sosial, karena dengan menahan lapar, seorang muslim diingatkan langsung pada penderitaan saudara-saudaranya yang kekurangan, sehingga mendorong solidaritas dan sedekah. Ketujuh, pahala yang dijanjikan sangat besar, sebagaimana dijamin dalam hadis qudsi bahwa setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya kecuali puasa, yang pahalanya langsung ditentukan oleh Allah SWT.
Kedelapan, orang yang berpuasa akan mendapatkan syafaat di hari kiamat. “Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada hamba pada hari kiamat,” terang Asrorun merujuk pada hadis riwayat Ahmad. Kesembilan, termasuk golongan yang doanya mustajab; Rasulullah menyebutkan bahwa doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka tidak akan tertolak. Kesepuluh, puasa Senin Kamis merupakan bentuk nyata meneladani sunnah Nabi secara penuh, sebuah cinta yang akan mengantarkan pada kedekatan dengan Sang Pencipta. “Menghidupkan sunnah di tengah-tengah tantangan zaman seperti sekarang adalah bukti kecintaan kita kepada Rasulullah,” pungkasnya.
Panduan Niat dan Tata Cara
Selain keutamaan, Asrorun turut menjelaskan tata cara dan lafaz niat yang benar. Niat puasa Senin Kamis dapat diucapkan pada malam hari sebelum tidur, atau jika terlupa, masih diperbolehkan berniat pada pagi hari sebelum matahari tergelincir, asalkan yang bersangkutan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa terhitung sejak fajar. Lafaz niatnya: نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى untuk hari Senin, dan untuk Kamis mengganti kata al-itsnain menjadi al-khamis. Kedua lafaz ini memiliki makna “Saya niat puasa hari Senin (atau Kamis), sunnah karena Allah Ta’ala.”
Terkait teknis pelaksanaan, sejak terbitnya fajar sidik hingga terbenamnya matahari, seorang muslim yang berpuasa wajib menjaga diri dari segala hal yang membatalkan, termasuk konsumsi makanan, minuman, dan perbuatan lain yang dilarang saat menjalankan ibadah puasa. Disunnahkan untuk segera berbuka begitu waktu magrib tiba, mengikuti tuntunan Nabi yang menganjurkan menyegerakan iftar dengan kurma atau air putih. MUI mengimbau agar umat Islam tidak hanya menjadikan puasa ini sebagai rutinitas fisik, melainkan juga momentum memperbanyak ibadah sunnah lain seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan bersedekah. Dengan pemahaman yang komprehensif ini, diharapkan semakin banyak muslim yang menghidupkan sunnah shaum Senin-Kamis secara berkesinambungan.
Baca juga:
Comments (0)