Mogok Angkot M44 Perpanjang Antrean Jaklingko di Stasiun Tebet

JAKARTA — Aksi mogok yang dilakukan sopir mikrolet M44 di Balai Kota berdampak langsung pada pelayanan transportasi umum di kawasan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Antrean penumpang Jaklingko di hal...

Mogok Angkot M44 Perpanjang Antrean Jaklingko di Stasiun Tebet

JAKARTA — Aksi mogok yang dilakukan sopir mikrolet M44 di Balai Kota berdampak langsung pada pelayanan transportasi umum di kawasan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Antrean penumpang Jaklingko di halte stasiun tersebut dilaporkan memanjang secara signifikan pada Kamis, 6 Agustus 2026, menyusul penghentian operasional angkutan kota trayek M44.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sejak pukul 06.00 WIB, puluhan penumpang terlihat mengantre untuk menaiki bus Jaklingko yang melayani rute penyambung dari Stasiun Tebet menuju berbagai kawasan permukiman di sekitarnya. Para penumpang yang mayoritas merupakan pekerja dan pelajar mengaku harus menunggu lebih lama dari biasanya karena berkurangnya jumlah armada yang melintas.

“Biasanya saya naik M44 dari rumah ke stasiun, tapi hari ini tidak ada yang beroperasi. Saya terpaksa jalan kaki ke sini dan sekarang harus antre panjang untuk Jaklingko,” ujar seorang penumpang bernama Rina (34) yang ditemui di lokasi. Ia menambahkan bahwa waktu tunggu bus Jaklingko kini mencapai 20 hingga 30 menit, padahal pada hari normal hanya sekitar 10 menit.

Penyebab Mogok dan Dampak Operasional

Mogoknya sopir mikrolet M44 merupakan bagian dari aksi unjuk rasa yang digelar di depan Balai Kota DKI Jakarta. Para sopir menuntut evaluasi terhadap kebijakan integrasi transportasi yang dinilai merugikan pendapatan mereka. Dalam orasinya, perwakilan sopir menyatakan bahwa skema pembagian pendapatan dengan sistem aplikasi belum sesuai dengan kesepakatan awal.

Ketua Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan, dalam keterangannya menegaskan bahwa aksi mogok ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan yang belum memihak pada pengemudi angkutan umum kecil. “Kami meminta pemerintah daerah untuk segera melakukan rapat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk operator Jaklingko dan asosiasi pengemudi, agar persoalan ini tidak berlarut-larut,” ujarnya.

Dampak dari mogok ini tidak hanya dirasakan di Stasiun Tebet. Sejumlah titik pemberhentian M44 di sepanjang trayek yang menghubungkan kawasan Tebet, Manggarai, hingga Pasar Minggu juga dilaporkan sepi dari aktivitas angkutan. Kondisi ini memaksa warga beralih ke moda transportasi lain, termasuk Jaklingko yang disubsidi pemerintah.

Lonjakan Penumpang Jaklingko dan Respons Transjakarta

PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) selaku operator Jaklingko menyatakan telah menindaklanjuti situasi ini dengan menambah frekuensi keberangkatan bus pada jam sibuk. Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Transjakarta, Apriastini Bakti Bugiansri, menyatakan bahwa penambahan armada dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang yang terdampak mogoknya M44.

“Kami telah mengerahkan sejumlah bus cadangan untuk melayani rute di sekitar Stasiun Tebet. Kami berharap penambahan ini dapat mengurangi waktu tunggu penumpang,” kata Apriastini dalam keterangan resmi. Ia juga mengimbau warga untuk memantau informasi terkini melalui aplikasi resmi agar dapat merencanakan perjalanan dengan lebih baik.

Meski demikian, sejumlah penumpang menilai penambahan armada belum cukup untuk mengatasi kepadatan. Salah seorang penumpang bernama Budi (28) menyatakan bahwa meski ada bus tambahan, kapasitas tetap tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang meningkat drastis. “Saya berharap pemerintah segera menyelesaikan masalah ini, karena kami yang menjadi korban,” ujarnya.

Pemerintah Diminta Segera Mediasi

Menanggapi situasi ini, DPRD DKI Jakarta melalui Komisi B mendesak Dinas Perhubungan untuk segera memfasilitasi dialog antara sopir M44 dan operator Jaklingko. Anggota Komisi B DPRD DKI, Gilang Ramadhan, menyatakan bahwa mogok kerja tidak boleh dibiarkan berkepanjangan karena mengganggu pelayanan publik.

“Kami meminta Dinas Perhubungan untuk segera menggelar rapat koordinasi dengan melibatkan seluruh pihak, termasuk kepolisian, agar aksi mogok ini dapat dicabut dan layanan angkutan umum kembali normal,” tegas Gilang dalam pernyataannya. Ia juga menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem integrasi transportasi agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Hingga berita ini diturunkan, Dinas Perhubungan DKI Jakarta belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait langkah mediasi yang akan diambil. Namun, pihak kepolisian dari Polres Metro Jakarta Selatan telah dikerahkan untuk mengatur lalu lintas di sekitar Stasiun Tebet agar tidak terjadi kemacetan berkepanjangan akibat meningkatnya aktivitas penumpang.

Para pengamat transportasi menilai bahwa insiden ini menunjukkan perlunya perbaikan tata kelola integrasi angkutan umum di ibu kota. Kebijakan yang berpihak pada kepentingan pengemudi dan penumpang harus menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Warga pun berharap agar pemerintah segera mengambil keputusan yang adil dan menyeluruh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User