Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menetapkan target penempatan 40.000 pekerja migran Indonesia pada 2026, dengan lebih dari 7.000 di antaranya berasal dari Provinsi Jawa Barat. Penetapan target tersebut disampaikan setelah peresmian Migrant Center di Universitas Teknologi Bandung (UTB) pada Jumat (9/10), sebuah fasilitas yang dibentuk untuk menyiapkan calon pekerja migran berketerampilan sesuai kebutuhan negara tujuan.
"Target penyerapan tahun 2026 itu 40.000. Tapi untuk Jawa Barat sebesar 7.000 sekian. Insya Allah ini target akan selesai Desember 2026," kata Mukhtarudin dalam keterangan kepada wartawan usai peresmian.
Migrant Center Bagian dari Ekosistem SMK Go Global
Mukhtarudin menyatakan pendirian Migrant Center UTB merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman atau MoU yang ditandatangani pada Desember 2025. Keberadaan pusat tersebut juga ditetapkan sebagai bagian dari ekosistem program SMK Go Global, yang merupakan program direktif Presiden Prabowo Subianto.
"Ini bagian dari tindak lanjut MoU yang kita tanda tangani pada Desember 2025 yang lalu. Dan Migrant Center UTB merupakan bagian ekosistem program SMK Go Global yang merupakan program direktif Bapak Presiden," ujar Mukhtarudin.
Berdasarkan penjelasan Menteri P2MI, pemerintah saat ini menindaklanjuti penguatan ekosistem penyiapan calon pekerja migran, terutama pada aspek keterampilan teknis dan kemampuan bahasa. Melalui langkah tersebut, tenaga kerja Indonesia yang ditempatkan di luar negeri ditetapkan memiliki kompetensi yang sejalan dengan kebutuhan sektor pekerjaan di negara tujuan.
Pelatihan Teknis dan Bahasa Sebelum Uji Kompetensi
Mukhtarudin merinci bahwa penyiapan keterampilan mencakup sejumlah bidang, mulai dari manufaktur, perhotelan atau hospitality, kesehatan, hingga operator produksi. Selain keterampilan teknis, calon pekerja migran juga akan menerima pelatihan bahasa asing, terutama bahasa Jepang dan Inggris, sebelum menjalani uji kompetensi.
"Penyiapan talenta dari penyiapan skill teknis, seperti pelatihan teknis, ada manufaktur, hospitality, kemudian kesehatan, dan juga operator produksi. Termasuk bahasa, bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Nanti akan diuji kompetensi," ujarnya.
Dalam rapat koordinasi penyiapan penempatan tersebut, pemerintah disebut telah menjalin kerja sama penempatan pekerja migran dengan sejumlah negara. Negara tujuan itu antara lain Malaysia, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan, yang ditetapkan sebagai pasar utama penempatan tenaga kerja terampil Indonesia.
Target 2027 Ditingkatkan, Rincian Belum Ditetapkan
Mukhtarudin menambahkan bahwa target penempatan pekerja migran pada tahun berikutnya akan ditingkatkan. Namun, ia belum merinci angka target nasional maupun daerah untuk 2027 karena masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut.
"Target penempatan pada 2027 akan ditingkatkan, namun angkanya belum dapat kami sampaikan karena masih dalam proses penghitungan bersama pihak terkait," tutur Mukhtarudin.
Peresmian Migrant Center UTB tersebut dihadiri jajaran Kementerian P2MI, pengelola universitas, serta pihak-pihak yang terlibat dalam program penyiapan calon pekerja migran. Fasilitas ini ditetapkan sebagai pusat pelatihan yang mendukung penyiapan sumber daya manusia sebelum diberangkatkan ke negara tujuan.
Dengan penetapan target Jawa Barat sebesar lebih dari 7.000 pekerja migran, Provinsi Jawa Barat ditetapkan sebagai salah satu kantong penyumbang terbesar pekerja migran Indonesia pada 2026. Pemerintah menegaskan komitmen penyiapan keterampilan sejak dini agar penempatan berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan pada Desember 2026.
Comments (0)