Meruncing Adu Komentar PSI dan PDIP karena Jokowi

Jakarta, Apaberita.com — Langkah politik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi perbincangan hangat. Safari perdananya ke Provinsi Lampung bukan hanya menyedot perhatian publik, tetap

Jul 07, 2026 - 23:24
0 0
Meruncing Adu Komentar PSI dan PDIP karena Jokowi

Jakarta, Apaberita.com — Langkah politik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi perbincangan hangat. Safari perdananya ke Provinsi Lampung bukan hanya menyedot perhatian publik, tetapi juga memanaskan perseteruan verbal antara dua partai besar: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berlambang banteng dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berlambang gajah. Salah satu momen yang paling banyak menuai reaksi adalah saat Jokowi mengikuti upacara pemberian gelar adat Muakhi, di mana ia terekam menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah.

Prosesi Adat Menuai Tafsir Politik

Bagi masyarakat Lampung, ritual menginjak kepala kerbau merupakan simbol penghormatan dan pengukuhan status sosial. Namun, di tengah memanasnya suhu politik, adegan itu memicu interpretasi yang beragam. Pihak PDIP, melalui juru bicaranya Guntur Romli, menyuarakan kecurigaan bahwa aksi tersebut bisa jadi bukan semata cerminan adat, melainkan sarat muatan politik yang bersifat merendahkan.

"Apakah yang dilakukan Jokowi sebagai adat, ekspresi kesombongan, atau simbolisasi perendahan politik? Saya menduga para pendukung Jokowi tengah berhalusinasi bahwa yang sedang diinjak adalah kepala banteng," ungkap Gunrom kepada Apaberita.com.

Pernyataan ini langsung memicu reaksi dari kubu PSI. Para pendukung dan kader partai berlambang gajah menilai tafsir tersebut berlebihan. Mereka menegaskan bahwa menginjak kepala kerbau adalah bagian utuh dari tradisi Muakhi yang sakral dan tidak bisa dikaitkan dengan upaya merendahkan simbol partai mana pun. Menurut mereka, justru upacara itu menegaskan kedekatan Jokowi dengan akar budaya Nusantara.

Adu komentar di media sosial kian meruncing. Kubu banteng terus mempertanyakan niat di balik prosesi, sementara pihak gajah membela bahwa penghormatan adat tidak layak dipolitisasi. Pengamat politik yang dihubungi Apaberita.com mengingatkan agar publik tidak terjebak pada tafsir liar yang bisa merusak kohesi sosial. "Ritual adat seperti Muakhi memiliki dimensi spiritual dan kultural yang dalam. Menyeretnya ke gelanggang politik hanya akan menimbulkan polarisasi yang tidak perlu," ujar salah seorang akademisi.

Hingga berita ini diturunkan, Jokowi belum memberikan tanggapan langsung. Masyarakat adat Lampung yang hadir dalam prosesi pun kembali menekankan bahwa pemberian gelar Muakhi adalah bentuk penghargaan tertinggi yang tidak mengandung agenda politik praktis. Mereka berharap polemik ini segera mereda agar nilai luhur budaya tetap terjaga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Editor Ekonomi. Editor isu pasar, bisnis, dan moneter.

Comments (0)

User