Menekraf: Integrasi Olahraga dan Gaya Hidup Pacu Ekonomi Kreatif
JAKARTA — Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa penguatan ekonomi nasional melalui pendekatan olahraga yang memadukan gaya hidup serta partisipa...
JAKARTA — Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa penguatan ekonomi nasional melalui pendekatan olahraga yang memadukan gaya hidup serta partisipasi publik akan menjadi katalis pertumbuhan sektor ekonomi kreatif. Pernyataan itu disampaikan dalam jumpa pers di Kantor Kemenekraf, Jakarta, Kamis (13/6/2024).
Menurut Riefky, olahraga telah mengalami pergeseran dari sekadar aktivitas fisik menjadi bagian integral dari gaya hidup masyarakat urban. Fenomena ini membuka peluang bisnis baru di berbagai subsektor ekonomi kreatif. "Kita tidak bisa lagi memandang olahraga hanya sebagai kompetisi. Aktivitas lari maraton, yoga komunitas, hingga olahraga ekstrem telah melahirkan pasar produk dan jasa kreatif yang sangat besar," ujarnya.
Pengarusutamaan Olahraga dalam Ekonomi Kreatif
Riefky memaparkan bahwa selama ini sektor ekonomi kreatif tumbuh pesat, namun kontribusi dari pendekatan olahraga sebagai gaya hidup masih belum dioptimalkan. Data dari Badan Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa subsektor yang terkait langsung dengan olahraga seperti fesyen, kuliner, dan pariwisata memiliki potensi pertumbuhan hingga 8,5 persen per tahun apabila dikaitkan dengan event-event olahraga berskala nasional dan internasional.
Ia mencontohkan gelaran seperti Jakarta Marathon, Tour de Singkarak, dan Bali Triathlon yang tidak hanya mendatangkan atlet, tetapi juga wisatawan yang berkontribusi pada sektor perhotelan, transportasi, dan kuliner. "Setiap event olahraga berskala menengah saja mampu menggerakkan ekonomi lokal hingga Rp200 miliar dalam seminggu," kata Riefky merujuk hasil riset internal kementerian.
Peluang Baru Bagi Pelaku Usaha Kreatif
Keterkaitan antara olahraga dan ekonomi kreatif juga terlihat dari pertumbuhan industri sport wear lokal yang mengusung desain inovatif dan identitas budaya. Menekraf mendorong para desainer muda untuk mengeksplorasi material ramah lingkungan dalam memproduksi perlengkapan olahraga. "Subsektor fesyen dan kriya dapat bersinergi dengan sport industry. Ini adalah keniscayaan yang harus kita respon dengan kebijakan afirmatif," tutur Riefky.
Lebih lanjut, ia menyoroti potensi konten digital berbasis olahraga. YouTuber, influencer, dan kreator media sosial yang membahas gaya hidup sehat dan olahraga mendapatkan audiens yang sangat masif. Kemenekraf mencatat bahwa konten video olahraga di platform digital mengakumulasi lebih dari 1,2 miliar tampilan sepanjang tahun 2023. Ia mengajak para pelaku ekonomi kreatif untuk memanfaatkan momentum ini guna menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja.
Sinergi Lintas Sektor dan Regulasi
Riefky menekankan pentingnya sinergi antara Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. "Kami sedang merancang peta jalan pengembangan ekonomi kreatif berbasis olahraga bersama Kemenpora dan pemangku kepentingan lainnya," ungkapnya.
Ia juga menyebut bahwa program-program seperti pendampingan UMKM, pelatihan branding, hingga akses permodalan akan difokuskan kepada wirausaha yang bergerak di sektor terkait sport lifestyle. Pemerintah, lanjutnya, telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi kreatif sebesar 6,5 persen pada tahun depan, dan sport-based creative economy diharapkan berkontribusi sekitar 15 persen dari target tersebut.
Inspirasi dari Praktik Global
Riefky mengutip keberhasilan beberapa negara seperti Inggris yang menjadikan Liga Primer sebagai mesin ekonomi kreatif, tidak hanya dari penjualan tiket tetapi juga dari lisensi, merchandise, dan tayangan televisi. "Kita memiliki potensi serupa melalui Liga 1 atau turnamen bulutangkis. Data dari Badan Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa setiap gelaran Piala Thomas dapat menggerakkan ekonomi lokal hingga Rp500 miliar," ujarnya.
Sementara itu, di Amerika Serikat, ekosistem olahraga seperti NBA telah melahirkan subkultur fesyen dan musik yang mendunia. Menekraf berharap Indonesia bisa menciptakan fenomena serupa dengan mengapitalisasi potensi lokal, seperti seni bela diri pencak silat atau sepak takraw. "Indonesia memiliki warisan budaya olahraga tradisional yang jika dikemas dengan narasi kreatif dapat menembus pasar global," tambahnya.
Pengembangan Talenta dan Ekosistem Digital
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Ekosistem Digital Badan Ekonomi Kreatif, Dian Pertiwi, mengatakan bahwa pihaknya tengah menyusun kurikulum pelatihan bagi content creator olahraga. Langkah ini diharapkan dapat menambah daya saing konten digital Indonesia. "Target kami adalah menghasilkan 10.000 kreator baru yang tersertifikasi pada akhir 2025," kata Dian.
Ia juga menyampaikan bahwa program inkubasi bisnis sport-tech akan dimulai pada Agustus mendatang, bekerja sama dengan sejumlah platform digital dan investor. Program ini menargetkan 500 startup rintisan yang memadukan teknologi dengan olahraga dan gaya hidup sehat.
Tantangan dan Langkah Strategis
Meski optimistis, Riefky mengakui adanya tantangan seperti keterbatasan infrastruktur di daerah dan literasi pasar yang masih rendah. Untuk itu, pihaknya akan menggencarkan kampanye "Olahraga Kreatif Indonesia" di 10 kota prioritas mulai triwulan ketiga tahun ini. Kampanye tersebut akan melibatkan komunitas lokal, sekolah, dan pemerintah daerah.
Di akhir keterangannya, Menekraf kembali menegaskan bahwa kolaborasi seluruh pemangku kepentingan adalah kunci. "Penguatan ekonomi lewat olahraga bukan hanya jargon. Ini adalah strategi terpadu yang akan kita kawal bersama agar mampu memberikan dampak nyata bagi rakyat," tutupnya.
Acara tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), serta sejumlah pelaku industri kreatif. Mereka sepakat membentuk satgas bersama untuk mempercepat implementasi peta jalan ekonomi kreatif berbasis olahraga.
Comments (0)