Skrining TB di Ponpes Tebuireng: 26 Santri Terindikasi, Menkes Tinjau Langsung

JOMBANG — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menindaklanjuti tingginya beban tuberkulosis (TB) nasional dengan menghadirkan layanan skrining langsung ke lingkungan pesantren. Menteri Kesehatan Budi Gu...

Skrining TB di Ponpes Tebuireng: 26 Santri Terindikasi, Menkes Tinjau Langsung

JOMBANG — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menindaklanjuti tingginya beban tuberkulosis (TB) nasional dengan menghadirkan layanan skrining langsung ke lingkungan pesantren. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan skrining TB melalui rontgen dada di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Kamis (20/8).

Dalam kunjungan tersebut, Budi didampingi sejumlah pejabat, antara lain Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Hexawan Tjahja Widada, Hj. Lelly Lailiyah, serta dr. Gia Pratama. Kehadiran pimpinan Kemenkes di tengah kegiatan skrining itu merupakan wujud kebijakan menjemput bola dalam percepatan deteksi dini penyakit menular di fasilitas pendidikan berbasis asrama, yang dinilai rentan menjadi lokasi penularan.

Angka Kematian TB Lebih Tinggi dari Covid-19

Di sela peninjauan, Budi memaparkan data nasional yang menempatkan TB sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan catatan Kemenkes, sekitar 120 ribu hingga 140 ribu orang meninggal dunia akibat TB setiap tahun.

Jumlah tersebut, menurut Budi, melampaui korban meninggal akibat Covid-19 dalam periode setahun. Ia menjelaskan bahwa jika dihitung rata-rata, dua orang meninggal setiap lima menit karena penyakit yang menyerang paru-paru tersebut.

Budi juga menyatakan bahwa TB merupakan penyakit menular dengan prevalensi Indonesia berada pada peringkat kedua terbesar di dunia, tepat di bawah India. Posisi tersebut, ujarnya, menegaskan perlunya percepatan penanganan agar rantai penularan dapat diputus sedini mungkin, tidak hanya di rumah sakit, tetapi juga di komunitas padat penduduk seperti pesantren.

Obat Tersedia, Deteksi Dini Jadi Kendala

Menariknya, lanjut Budi, ketersediaan obat TB sebenarnya bukan persoalan utama. Ia justru menyoroti lambatnya proses skrining sebagai akar tingginya angka kematian. Banyak pasien baru mengetahui terinfeksi TB setelah kondisi kesehatannya menurun, sehingga pengobatan terlambat dimulai.

"Obatnya sebenarnya ada. Yang menjadi masalah adalah proses deteksi yang sering kali berjalan sangat lama. Pemeriksaan rontgen tidak selalu mudah dilakukan, dan kadang diperlukan tes lanjutan seperti Polymerase Chain Reaction (PCR)," papar Budi di hadapan para siswa dan tenaga kesehatan setempat.

Menurut Budi, keterbatasan alat rontgen di sejumlah daerah menjadi salah satu hambatan utama. Akibatnya, pasien harus menunggu lama untuk memperoleh kepastian diagnosis, sementara penyakit terus berkembang. Kehadiran layanan skrining langsung di lingkungan pesantren dinilai sebagai solusi untuk memperpendek rentang waktu antara dugaan dan kepastian diagnosis, sekaligus mempercepat akses pengobatan.

26 Santri Terindikasi TB Setelah Rontgen

Hasil skrining di Pondok Pesantren Tebuireng menunjukkan temuan yang signifikan. Sebanyak 26 siswa terindikasi menderita TB setelah menjalani pemeriksaan rontgen dada. Seluruh siswa yang terindikasi selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lanjutan dan penanganan medis agar tidak terjadi penularan lebih luas di lingkungan asrama.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Hexawan Tjahja Widada, dalam kesempatan itu menyatakan dukungannya terhadap program ini. Ia menegaskan bahwa hasil skrining akan menjadi dasar penyusunan langkah penanganan, termasuk pengobatan dan pendampingan bagi santri yang terindikasi, serta pemetaan kontak erat di lingkungan sekolah.

Pelaksanaan skrining di SMA A. Wahid Hasyim merupakan bagian dari program Cek Kesehatan Gratis yang digulirkan Kemenkes. Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya diperiksa terkait TB, tetapi juga menerima pemeriksaan kesehatan umum tanpa dipungut biaya. Ke depan, skrining serupa direncanakan menjangkau lebih banyak satuan pendidikan di wilayah Jawa Timur.

Menjemput Bola ke Lingkungan Pesantren

Kebijakan menjemput bola ini, menurut Budi, ditempuh karena pesantren merupakan komunitas dengan mobilitas dan interaksi tinggi antarpenghuninya. Lingkungan asrama yang padat berpotensi mempercepat penularan TB apabila terdapat satu saja kasus yang tidak terdeteksi sejak awal.

Kemenkes berharap pelaksanaan skrining massal serupa dapat diperluas ke pesantren dan sekolah berasrama lain di berbagai daerah. Dalam rapat koordinasi internal, Kemenkes menegaskan target penurunan angka kematian akibat TB secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan, sejalan dengan komitmen pemerintah dalam upaya eliminasi TB nasional.

Budi menegaskan bahwa semakin dini seorang pasien terdeteksi, semakin cepat pengobatan dapat dimulai, dan semakin kecil peluang penularan kepada orang lain. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pengelola pesantren dapat terus diperkuat dalam menekan angka kematian akibat TB di Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User