Menbud Fadli Zon Resmikan Festival Liangkobori, Dorong Pelestarian Gua Muna

Muna, Apaberita – Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara resmi membuka Festival Liangkobori IV di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Sabtu (12/7/2026). Pembukaan yang berlangsung di kawasan Gua Metandu...

Jul 13, 2026 - 13:44
0 0
Menbud Fadli Zon Resmikan Festival Liangkobori, Dorong Pelestarian Gua Muna

Muna, Apaberita – Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara resmi membuka Festival Liangkobori IV di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Sabtu (12/7/2026). Pembukaan yang berlangsung di kawasan Gua Metanduno itu menandai langkah strategis pemerintah pusat dalam memperkuat perlindungan warisan budaya prasejarah sekaligus mengakselerasi pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan di wilayah tersebut.

Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa kompleks gua Liangkobori bukan sekadar situs arkeologi biasa. “Kawasan ini menyimpan bukti peradaban manusia yang telah menghuni jazirah Muna sejak ribuan tahun silam. Lukisan-lukisan dinding gua, artefak, dan bentang alam karst adalah aset tak ternilai yang harus kita jaga bersama,” ujar Fadli Zon di hadapan ratusan peserta festival dan tamu undangan. Ia menekankan bahwa pelestarian situs-situs semacam ini merupakan amanat konstitusi, khususnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Jejak Peradaban 40.000 Tahun

Gua Metanduno dan puluhan gua lain di gugusan Liangkobori diperkirakan mengandung lukisan cadas berusia hingga 40.000 tahun, menjadikannya salah satu situs seni prasejarah tertua di Asia Tenggara. Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di kompleks ini terdapat sedikitnya 56 gua dengan sebaran motif gambar telapak tangan, hewan buruan, serta simbol-simbol geometris yang hingga kini terus diteliti. Fadli Zon menyebut perlindungan terhadap situs tersebut harus diperkuat melalui penetapan cagar budaya peringkat nasional yang komprehensif.

“Kami di Kementerian Kebudayaan sedang menindaklanjuti rekomendasi tim ahli untuk memperluas delineasi kawasan cagar budaya di Muna. Tidak hanya satu atau dua gua, tetapi seluruh bentang kawasan karst yang terintegrasi. Ini penting untuk mencegah kerusakan akibat aktivitas manusia maupun perubahan iklim,” kata Fadli Zon. Ia menambahkan, pihaknya juga tengah menyusun rencana induk pelestarian yang melibatkan pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat adat setempat.

Festival sebagai Motor Penggerak Ekonomi

Ketua Panitia Festival Liangkobori IV, La Ode Asri, melaporkan bahwa perhelatan tahun ini mengalami peningkatan jumlah peserta dan pengunjung hingga 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Festival ini bukan hanya seremoni budaya, tetapi telah menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Selama sepekan ke depan, kami akan menampilkan tarian tradisional, pameran tenun Muna, lokakarya arkeologi untuk pelajar, serta kunjungan malam ke gua-gua prasejarah,” jelasnya.

Data Dinas Pariwisata Kabupaten Muna menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan ke situs Liangkobori pada semester pertama 2026 telah mencapai 42.000 orang, meningkat tajam dari 28.000 pada periode yang sama tahun 2025. Menteri Fadli Zon melihat angka ini sebagai potensi besar yang harus dikelola dengan prinsip keberlanjutan. “Peningkatan kunjungan harus berbanding lurus dengan penguatan kapasitas pengelolaan. Kami akan mendukung melalui program Dana Indonesiana dan pelatihan tata kelola wisata budaya yang ramah lingkungan,” tegasnya.

Komitmen Lintas Sektor

Dalam Rapat Koordinasi yang digelar seusai pembukaan, Fadli Zon bersama Penjabat Bupati Muna, La Ode Mustari, menyepakati percepatan revisi Peraturan Daerah tentang Cagar Budaya. Regulasi baru ini ditargetkan disahkan pada akhir 2026 dan akan mengatur zonasi ketat di sekitar gua, pembatasan aktivitas tambang di kawasan karst, serta sanksi tegas bagi pelaku vandalisme. “Kita tidak ingin peristiwa perusakan situs seperti yang terjadi di beberapa tempat terulang di sini. Liangkobori adalah milik dunia, dan Muna adalah penjaganya,” ucap La Ode Mustari dalam forum tersebut.

Kementerian Kebudayaan, menurut Fadli Zon, juga akan mengusulkan agar Kawasan Karst Muna masuk dalam daftar awal nominasi Warisan Dunia UNESCO. “Prosesnya panjang, tetapi langkah-langkah administratif sudah kami siapkan. Tim sudah bekerja sama dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO,” ujarnya. Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sulawesi Tenggara, Andi Mappanyukki, yang hadir dalam kegiatan itu, menegaskan bahwa pemerintah provinsi siap mendukung penuh inisiatif tersebut dengan menyediakan anggaran pendamping untuk program zonasi dan revitalisasi fasilitas pendukung.

Festival Liangkobori IV akan berlangsung hingga 19 Juli 2026. Berbagai agenda dirancang untuk melibatkan elemen masyarakat secara luas, antara lain pagelaran seni prasejarah, peluncuran buku “Liangkobori: Jejak Awal Manusia Nusantara” karya peneliti BRIN, serta konferensi internasional mini yang menghadirkan arkeolog dari Australia, Malaysia, dan Thailand. Menbud Fadli Zon menutup sambutannya dengan pesan: “Warisan ini bukan beban, melainkan jembatan yang menghubungkan kita dengan akar peradaban. Kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi?”

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User