IHSG Berhasil Ditutup Positif, Tarik Ulur AI dan Timur Tengah

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan catatan positif, menutup sesi perdagangan Senin (hari ini) di zona hijau. Penguatan ini tidak terlepas dari tarik-menarik sent...

Jul 13, 2026 - 14:31
0 0

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan catatan positif, menutup sesi perdagangan Senin (hari ini) di zona hijau. Penguatan ini tidak terlepas dari tarik-menarik sentimen antara optimisme terhadap valuasi saham berbasis kecerdasan buatan (AI) global dan ketegangan yang terus bergulir di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka menguat 0,17 persen ke level 5.934 dan terus melanjutkan kenaikannya hingga akhir sesi. Pergerakan ini menandai respons pelaku pasar yang mencermati dua variabel eksternal dominan: reli sektor teknologi yang dipicu kolaborasi raksasa teknologi asal Amerika Serikat dan eskalasi geopolitik di Jalur Gaza.

Pemicu dari Wall Street: Lonjakan Minat pada AI

Sentimen positif yang mengalir ke bursa Asia, termasuk Jakarta, berpangkal pada lonjakan harga saham perusahaan pengembang semikonduktor dan infrastruktur AI di bursa Amerika Serikat. Dalam tiga hari terakhir, sejumlah emiten yang terlibat langsung dalam rantai pasok AI mencatatkan kenaikan kapitalisasi pasar hingga dua digit. “Investor global sedang melakukan repricing terhadap potensi pertumbuhan laba jangka panjang dari penerapan AI generatif. Aliran modal asing pun kembali masuk ke emerging market yang memiliki saham teknologi dan digital,” ujar Kepala Riset PT Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, dalam keterangan tertulisnya sore ini.

Kondisi itu mendorong investor institusi untuk melakukan aksi beli selektif terhadap saham-saham perbankan digital dan perusahaan telekomunikasi dalam negeri yang tengah mengembangkan infrastruktur komputasi awan. Tercatat, sektor teknologi dan finansial mencatatkan penguatan tertinggi pada sesi pertama, masing-masing naik 0,89 persen dan 0,64 persen.

Ketegangan Geopolitik: Harga Energi Melonjak, Sektor Komoditas Diuntungkan

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah ikut membentuk pola pergerakan IHSG. Serangan yang semakin meluas di perbatasan Lebanon-Israel menciptakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak mentah. Harga minyak mentah jenis Brent melesat ke kisaran 82 dolar AS per barel, mengerek saham-saham emiten energi dan pertambangan di lantai bursa.

“Konflik di Timur Tengah ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, investor mewaspadai risiko pelambatan ekonomi global, tetapi di sisi lain, emiten di sektor energi dan komoditas justru mendapatkan momentum kenaikan harga jual,” jelas Ekonom Senior Bank Mandiri, Andry Asmoro. Data perdagangan menunjukkan, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) membukukan kenaikan masing-masing 2,1 persen dan 1,6 persen, menjadi motor penggerak indeks sektor energi.

Data Perdagangan: Asing Catat Net Buy, Rupiah Turut Terapresiasi

Pantauan Apaberita hingga penutupan perdagangan, IHSG berhasil bertahan di level 5.972, menguat 0,64 persen dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Volume transaksi mencapai 18,3 miliar lembar saham dengan frekuensi sebanyak 1,2 juta kali. Investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) senilai Rp567 miliar di seluruh pasar, menunjukkan bahwa dana global perlahan kembali merambah instrumen berdenominasi rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun turut merespons positif aliran modal tersebut. Di pasar spot, rupiah ditutup menguat tipis 0,12 persen ke level Rp15.670 per dolar AS. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai penguatan ini masih bersifat teknikal, tetapi tetap membuka ruang bagi IHSG untuk melanjutkan penguatan apabila tidak ada kejutan inflasi dari rilis data ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan ini.

Proyeksi: Konsolidasi Menanti Katalis Domestik

Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan agar pelaku pasar tidak terlena euforia sesaat. Direktur Utama PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The, menyarankan agar investor bersikap taktis. Menurutnya, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dan memerlukan katalis domestik yang kuat untuk menembus level resistensi psikologis di 6.000.

“Pasar akan menanti rilis data cadangan devisa Indonesia serta keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia bulan depan. Apabila BI mampu mempertahankan suku bunga di level saat ini dan inflasi inti tetap terjaga, IHSG berpotensi menuju level 6.040,” kata Moleonoto. Ia menambahkan, pembagian dividen oleh emiten pelat merah di sektor konstruksi yang akan jatuh tempo dalam dua pekan ke depan juga menjadi sentimen penopang yang patut dicermati.

Dengan kombinasi sentimen global yang terfragmentasi—antara optimisme kecerdasan buatan dan ketegangan geopolitik—IHSG tampaknya akan terus bergerak dinamis. Investor disarankan tetap memantau perkembangan perundingan gencatan senjata di Timur Tengah serta laporan keuangan kuartal II emiten teknologi global yang akan menjadi tolok ukur keberlanjutan reli saham berbasis AI.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User