Ucapan seorang anak yang tiba-tiba melontarkan kalimat "Aku benci Mama" atau "Aku benci Papa" kerap mengejutkan orang tua. Reaksi pertama yang muncul sering kali berupa kesedihan mendalam, bahkan kemarahan yang ikut terpicu. Namun, Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, menegaskan bahwa kalimat tersebut pada umumnya tidak benar-benar mencerminkan kebencian seorang anak terhadap orang tuanya.
"Ucapan tersebut biasanya bukan berarti anak benar-benar benci orang tuanya. Anak mungkin sedang sangat marah, kecewa, frustrasi, atau merasa tidak dipahami, tetapi belum mampu menemukan kata yang tepat," ujar Vera dalam keterangannya kepada media, beberapa waktu lalu.
Berdasarkan penjelasan tersebut, orang tua diminta untuk menyelami emosi dan kebutuhan yang tersembunyi di balik ucapan anak, alih-alih hanya terpaku pada kata "benci" yang terdengar menyakitkan. Pendekatan ini dinilai penting agar orang tua tidak salah menafsirkan pesan yang sebenarnya ingin disampaikan anak.
Menjaga Ketenangan sebagai Langkah Awal
Ketika anak mengucapkan kalimat yang melukai perasaan, Vera menyarankan agar orang tua berupaya tetap tenang dan tidak membalas dengan kata-kata yang berpotensi menyakiti anak. Reaksi emosional yang berlebihan, menurutnya, justru dapat memperkeruh situasi dan membuat anak semakin merasa tidak dipahami.
Ia menyarankan orang tua untuk tetap menerima emosi anak, tetapi sekaligus memberikan batasan yang jelas mengenai cara penyampaiannya. Sebagai contoh, orang tua dapat mengatakan, "Mama tahu kamu sedang sangat marah, tapi kita tidak menggunakan kata-kata yang menyakiti."
"Setelah anak lebih tenang, barulah ajak bicara mengenai penyebab kemarahannya," imbuh Vera.
Dengan cara demikian, anak belajar bahwa perasaan marah atau kecewa merupakan hal yang wajar untuk dirasakan. Meski begitu, tetap terdapat batasan dalam mengungkapkan perasaan tersebut agar tidak melukai orang lain di sekitarnya.
Membantu Anak Mengenali dan Menamai Emosi
Orang tua juga dapat berperan aktif membantu anak memberi nama pada emosi yang sedang dirasakannya. Misalnya, ketika anak marah karena tidak diizinkan bermain, orang tua bisa merespons dengan kalimat, "Kamu kecewa karena tidak diizinkan bermain, ya?"
Menurut Vera, anak perlu diajarkan kalimat alternatif untuk menyampaikan perasaannya, seperti "Aku marah", "Aku kecewa", atau "Aku sedih". Langkah ini bertujuan agar anak memiliki kosakata emosional yang memadai sehingga tidak lagi menggunakan kata-kata yang bersifat menyakiti ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai keinginannya.
Proses pengenalan emosi ini dinilai krusial dalam pembentukan kecerdasan emosional anak. Dengan pemahaman yang baik, anak akan lebih mampu mengelola perasaannya secara sehat dan konstruktif seiring bertambahnya usia.
Membangun Komunikasi yang Terbuka
Vera menekankan bahwa komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi kunci dalam menghadapi situasi semacam ini. Orang tua dianjurkan untuk tidak menghindari pembicaraan mengenai perasaan anak, melainkan membuka ruang dialog yang aman dan penuh penerimaan.
Pendekatan ini membantu anak merasa didengar dan dihargai, sehingga mereka lebih mudah mengungkapkan isi hatinya dengan cara yang lebih tepat. Pada akhirnya, kemampuan mengenali dan menyampaikan emosi secara sehat akan menjadi bekal berharga bagi anak dalam menjalani hubungan sosial di masa depan.
Comments (0)