Megawati Resmikan Monumen Kudatuli, Refleksi Perjuangan dan Ajaran Bung Karno
JAKARTA, Apaberita — Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Kudatuli di halaman kantor Dewan Pimpinan Pusat partai, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, pada Mi...
JAKARTA, Apaberita — Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Kudatuli di halaman kantor Dewan Pimpinan Pusat partai, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (27/7/2026). Peresmian yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 PDI Perjuangan itu digelar khidmat dengan menghadirkan senandung lagu kebangsaan serta doa bersama.
Megawati hadir didampingi langsung oleh putranya, M. Prananda Prabowo, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Kebudayaan DPP PDI Perjuangan, serta sejumlah pengurus teras partai. Monumen berbahan perunggu setinggi tiga meter itu berdiri tegak di sisi timur halaman kantor, menampilkan siluet rakyat yang berdiri bergandengan tangan melingkari lambang banteng moncong putih.
Monumen Hasil Kontemplasi Panjang
Dalam sambutannya, Megawati menegaskan bahwa Monumen Kudatuli bukanlah sekadar penghias taman atau simbol estetika semata. Gagasan membangun monumen tersebut, ia tuturkan, lahir dari proses perenungan mendalam terhadap nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno.
“Saya ingin kader, simpatisan, dan seluruh rakyat Indonesia yang berkunjung ke sini memahami bahwa monumen ini adalah hasil kontemplasi panjang. Ia lahir dari ingatan kolektif kita tentang sebuah peristiwa yang menguji keimanan kita terhadap demokrasi dan konstitusi,”
tegas Megawati di hadapan hadirin.
Ia menjelaskan bahwa setiap lekuk relief pada monumen merepresentasikan keteguhan sikap rakyat kecil—kaum Marhaen—yang tidak gentar meski hak-hak politiknya dirampas. Monumen tersebut juga menjadi pengingat akan tegaknya marwah kedaulatan rakyat yang pernah tercoreng pada 27 Juli 1996.
Kesabaran Revolusioner dan Cita-cita Bung Karno
Peristiwa 27 Juli 1996—yang kemudian diabadikan sebagai singkatan Kudatuli—terjadi ketika kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro diserbu oleh massa yang didukung kekuatan aparat. Saat itu, Megawati yang sah memimpin partai berdasarkan keputusan kongres, justru dihadang untuk menjalankan kepemimpinannya. Namun, alih-alih mengajak kader melakukan perlawanan fisik, Megawati memilih jalur hukum dan konstitusional.
Dalam pidatonya, Megawati menekankan bahwa semangat “kesabaran revolusioner” itulah yang menjadi roh dari Monumen Kudatuli. Baginya, sabar bukan berarti pasrah, melainkan kekuatan strategis untuk menanti momentum yang tepat dalam merebut kembali keadilan.
“Bung Karno selalu berpesan, perjuangan itu harus berkesudahan. Tapi perjuangan belum selesai selama rakyat Indonesia belum merasakan kesejahteraan lahir batin. Monumen ini adalah penanda bahwa kita tidak boleh lelah menyuarakan kepentingan rakyat. Kita harus terus bergerak, tapi dengan nalar, moral, dan cinta tanah air,”
ujar Megawati dengan suara bergetar, mengenang sang proklamator.
Dalam pidato kenegaraannya yang dibacakan di hadapan peserta rapat, Megawati juga mengutip sejumlah ajaran Bung Karno tentang Trisakti—berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Ketiga pilar itulah yang diklaim Megawati sebagai fondasi utama PDI Perjuangan hingga kini.
Dihadiri Tokoh dan Simbol Perlawanan Damai
Acara peresmian turut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Puan Maharani, serta para menteri dari Kabinet Gotong Royong yang hadir secara daring. Tampak pula sejumlah seniman dan budayawan yang turut mengawal proses kreatif pembangunan monumen.
Monumen Kudatuli dirancang oleh seniman patung terkemuka Yogyakarta, S. Teddy D., dengan ornamen batu andesit sebagai alas dan ukiran perunggu yang dibentuk menyerupai obor kecil di bagian puncak. Relief utama menampilkan potongan adegan: tangan-tangan mengepal simbol perlawanan, dan seorang ibu tua yang tetap tegar duduk di depan pintu gerbang. Di bagian bawah terukir tulisan “Kesabaran Adalah Kekuatan Abadi” yang sengaja dipilih Megawati sendiri sebagai pesan inti monumen.
Hasto menambahkan, pendirian monumen ini sekaligus menjadi instruksi kepada seluruh struktur partai hingga tingkat ranting agar menyelenggarakan pendidikan politik bertema sejarah PDI Perjuangan secara rutin. “Ini penting agar generasi milenial dan Gen Z paham bahwa demokrasi yang mereka nikmati sekarang tidak diperoleh secara gratis,” kata Hasto kepada Apaberita seusai acara.
Rangkaian peresmian ditutup dengan pelepasan burung merpati oleh Megawati dan Prananda sebagai simbol perdamaian dan kebebasan berpendapat. Megawati pun berpesan agar seluruh kader partai tidak terjebak dalam nostalgia semata, melainkan mampu mentransformasikan nilai sejarah menjadi agenda perjuangan yang relevan dengan zaman.
Dengan berdirinya Monumen Kudatuli, DPP PDI Perjuangan kini memiliki situs pengingat permanen yang bukan hanya berfungsi sebagai objek wisata politik, tetapi juga sebagai ruang refleksi publik. Masyarakat umum dipersilakan mengunjungi monumen tersebut tanpa dipungut biaya, sepanjang menghormati tata tertib yang berlaku di lingkungan kantor partai.
Comments (0)