Margono Djojohadikusumo Gagas Berdirinya BNI sebagai Bank Pertama

JAKARTA — Perjalanan panjang perbankan nasional Indonesia menyimpan kisah heroik yang belum banyak diketahui generasi masa kini. Di balik kokohnya gedung-g

Jul 12, 2026 - 20:47
0 0
Margono Djojohadikusumo Gagas Berdirinya BNI sebagai Bank Pertama

JAKARTA — Perjalanan panjang perbankan nasional Indonesia menyimpan kisah heroik yang belum banyak diketahui generasi masa kini. Di balik kokohnya gedung-gedung Bank Negara Indonesia (BNI) yang tersebar di seluruh Nusantara, terdapat sosok visioner bernama Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo yang menjadi arsitek utama berdirinya bank pertama milik Republik Indonesia.

Margono Djojohadikoesoemo, yang merupakan kakek dari Presiden Prabowo Subianto, bukan sekadar pendiri bank. Ia adalah seorang negarawan yang dengan gigih memperjuangkan kedaulatan ekonomi Indonesia di tengah tekanan kolonial yang belum sepenuhnya berakhir. Sosoknya menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi keuangan Belanda yang berusaha mencekik republik yang baru lahir ini melalui De Javasche Bank atau DJB.

Awal Mula Pendirian BNI

Pada tahun 1946, situasi Indonesia sangat kritis. Proklamasi kemerdekaan sudah dikumandangkan, namun Belanda terus berupaya mengembalikan cengkeramannya melalui berbagai cara, termasuk upaya menghidupkan kembali DJB sebagai bank sirkulasi. Margono melihat ini sebagai ancaman serius. Kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan ekonomi hanya akan menjadi ilusi belaka—prinsip inilah yang mendorongnya maju.

"Kita memerlukan bank sirkulasi sendiri sebagai lambang kedaulatan ekonomi dan keuangan negara," demikian keyakinan Margono yang kemudian disampaikannya kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Atas mandat pemerintah melalui surat kuasa tertanggal 15 Juli 1946, Margono Djojohadikoesoemo bersama timnya mulai merintis pendirian Bank Negara Indonesia. Hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu, tepatnya pada 5 Juli 1946, BNI resmi berdiri dan mulai beroperasi sebagai bank sentral sekaligus bank komersial pertama milik Indonesia. Kecepatan ini mencerminkan sense of urgency yang luar biasa dari para pendiri bangsa.

Yang menarik, modal awal BNI hanya sebesar Rp 10 juta dalam bentuk uang kertas Oeang Repoeblik Indonesia atau ORI yang baru dicetak. Sejumlah kecil ini menjadi benih yang kemudian tumbuh menjadi salah satu bank terbesar di Asia Tenggara.

Konfrontasi dengan De Javasche Bank

Salah satu episode paling dramatis dalam sejarah BNI adalah pertarungan Margono melawan upaya Belanda menghidupkan kembali DJB. Pemerintah kolonial berusaha menjadikan DJB sebagai bank sirkulasi di wilayah yang mereka kuasai, termasuk Jakarta yang saat itu berada di bawah pendudukan NICA. Margono dengan tegas menolak. Baginya, mengizinkan DJB kembali beroperasi sama saja dengan menyerahkan kembali sebagian kedaulatan yang baru direbut.

Dalam berbagai sidang dan negosiasi, Margono bersikukuh bahwa Indonesia harus memiliki bank sendiri yang sepenuhnya dikelola oleh putra-putri bangsa. Sikapnya ini menuai resistensi besar dari pihak Belanda, tetapi justru memperkuat posisi tawar Republik di meja perundingan internasional.

Perjuangan ini membuahkan hasil. Meskipun DJB sempat kembali beroperasi pada masa transisi, setelah pengakuan kedaulatan penuh pada 1949, DJB akhirnya dinasionalisasi pada 1951 dan bertransformasi menjadi Bank Indonesia—bank sentral yang kita kenal sekarang. Sementara BNI beralih fokus menjadi bank komersial, fondasi yang diletakkan Margono tetap kokoh.

Warisan Pemikiran Ekonomi

Pemikiran ekonomi Margono Djojohadikoesoemo tidak berhenti pada pendirian BNI semata. Ia memahami bahwa pembangunan ekonomi Indonesia memerlukan fondasi kelembagaan keuangan yang kuat. Gagasan-gagasannya tentang kemandirian moneter kemudian diwariskan kepada putranya, Sumitro Djojohadikusumo, yang menjadi arsitek ekonomi Indonesia di era 1950-an dan 1970-an, serta kini dilanjutkan oleh cucunya, Prabowo Subianto, yang menjabat sebagai Presiden ke-8 RI.

BNI menjadi bukti nyata bahwa kemerdekaan bukan hanya soal pengibaran bendera, melainkan juga kemampuan mengelola sumber daya ekonomi sendiri. Dari cikal bakal yang dirintis Margono, BNI kini memiliki aset lebih dari Rp 900 triliun dengan jaringan yang menjangkau berbagai negara. Perjalanan ini dimulai dari keyakinan seorang kakek bahwa bangsanya mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Semangat itu tetap relevan hingga kini. Di tengah tantangan globalisasi dan persaingan ekonomi internasional, kisah Margono mengingatkan kita bahwa kedaulatan ekonomi adalah fondasi yang tak bisa ditawar. Ia bukan sekadar nama dalam buku sejarah; ia adalah simbol keteguhan yang menginspirasi generasi demi generasi.

[SOCIAL_TWEET]: Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo, adalah pendiri BNI—bank pertama RI yang berdiri sebagai simbol kedaulatan ekonomi. Dari modal Rp10 juta di 1946, kini asetnya Rp900T. Perjuangan melawan De Javasche Bank adalah kisah heroik kemandirian bangsa. #SejarahBNI #EkonomiRI #PahlawanEkonomi[SOCIAL_TG]: 🇮🇩🏦 Dari Rp10 Juta ke Rp900 Triliun: Jejak Kakek Prabowo Bangun Bank Pertama Indonesia R.M. Margono Djojohadikoesoemo mendirikan BNI pada 1946 sebagai tameng kedaulatan ekonomi RI. Dalam 3 minggu setelah mandat, BNI berdiri untuk melawan dominasi De Javasche Bank Belanda. Legasi itu terus hidup dalam perekonomian Indonesia hari ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User