Sutradara Gonjiam Janji Syuting Horor di Indonesia, Ada Syaratnya

JAKARTA — Kabar menggembirakan datang bagi para penggemar film horor Tanah Air. Sutradara kenamaan Korea Selatan, Jung Bum-shik, yang namanya melejit lewat

Jul 12, 2026 - 19:25
0 0

JAKARTA — Kabar menggembirakan datang bagi para penggemar film horor Tanah Air. Sutradara kenamaan Korea Selatan, Jung Bum-shik, yang namanya melejit lewat film horor ikonik Gonjiam: Haunted Asylum (2018), secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menggarap proyek horor di Indonesia. Namun, sineas yang kini tengah menikmati kesuksesan box office berkat film terbarunya itu mengajukan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sebelum ia bersedia membawa kameranya ke Nusantara.

Kilas Balik: Fenomena Gonjiam dan DNA Horor Jung Bum-shik

Bagi penggemar horor, nama Gonjiam: Haunted Asylum bukanlah sekadar judul biasa. Film bergaya found footage yang mengambil latar Rumah Sakit Jiwa Gonjiam yang benar-benar ada di Gwangju, Korea Selatan, ini berhasil meraup lebih dari USD 21 juta di box office dunia hanya dengan modal produksi sekitar USD 2,2 juta. Angka ini menempatkan Gonjiam sebagai salah satu film horor Korea paling menguntungkan sepanjang masa.

Kunci keberhasilan Jung Bum-shik terletak pada pendekatannya yang hampir dokumentatif terhadap horor. Ia tidak bergantung pada jump scare murahan atau efek khusus berlebihan. Sebaliknya, ia membangun teror secara psikologis melalui eksplorasi lokasi nyata yang menyimpan sejarah kelam. Pendekatan inilah yang membuat rumor soal ketertarikannya pada Indonesia menjadi begitu menarik untuk dicermati.

Kesuksesan Box Office Jadi Katalis

Dalam wawancara eksklusif yang digelar di sela-sela promosi proyek terbarunya yang bertajuk Room 402: The Cursed Ward, Jung mengonfirmasi bahwa kesuksesan komersial film tersebut menjadi titik balik yang memberinya keleluasaan untuk menjelajah pasar internasional. "Angka 3,2 juta penonton dalam 10 hari pertama tayang memberi saya kepercayaan diri dan modal negosiasi yang lebih kuat," ujar Jung, seperti dikutip dari media Korea.

Film Room 402: The Cursed Ward sendiri merupakan sempalan spiritual dari Gonjiam yang mengeksplorasi legenda urban tentang lorong dan ruangan tersembunyi di rumah sakit-rumah sakit tua di Asia. Proyek ini memperkuat reputasi Jung sebagai spesialis horor berbasis lokasi dan cerita rakyat.

Syarat yang Diajukan: Bukan Sekadar Gimik

Dalam pernyataannya, Jung mengajukan tiga syarat utama sebelum ia bersedia memulai produksi di Indonesia. Pertama, ia menginginkan akses penuh ke lokasi-lokasi yang benar-benar memiliki sejarah angker atau kelam, bukan sekadar set buatan. "Saya tidak tertarik membuat horor di studio. Kengerian sejati hanya bisa lahir dari tempat yang memiliki memori traumatis," tegasnya.

Kedua, Jung mensyaratkan keterlibatan mendalam dengan storyteller dan budayawan lokal. Ia ingin naskah filmnya berakar pada mitologi dan kisah hantu asli Indonesia, bukan adaptasi longgar dari horor Korea. "Setiap negara memiliki DNA ketakutannya sendiri. Saya perlu memahami apa yang membuat orang Indonesia tidak bisa tidur di malam hari," tambahnya.

Ketiga, dan ini yang paling krusial, Jung menginginkan kolaborasi setara dengan sineas dan kru lokal, bukan sekadar model produksi "orang asing datang, syuting, lalu pergi." Ia membayangkan format co-production di mana tim Indonesia memegang kendali kreatif yang signifikan. "Ini bukan tentang saya mengajari kalian cara membuat horor. Ini tentang belajar bersama," pungkasnya.

Respons Industri Perfilman Indonesia

Pernyataan Jung langsung disambut antusias oleh sejumlah rumah produksi Tanah Air. Andi Suryanto, produser eksekutif dari salah satu PH besar di Jakarta, menyebut bahwa syarat-syarat yang diajukan Jung justru menjadi nilai tambah. "Ini bukan syarat yang memberatkan. Justru ini standar emas yang seharusnya diterapkan di setiap kolaborasi internasional. Kami sudah menjajaki komunikasi awal," ungkap Andi saat dihubungi awak media.

Di sisi lain, pengamat film Dr. Retno Wulandari dari Universitas Indonesia memberi catatan kritis. "Antusiasme ini wajar, tapi kita harus memastikan ini bukan sekadar eksploitasi eksotisme horor Indonesia. Kehadiran sutradara sekaliber Jung Bum-shik memang bisa mendongkrak kualitas dan eksposur internasional, tapi industri lokal harus punya posisi tawar yang jelas."

Peluang Emas bagi Sinema Horor Indonesia

Jika proyek ini terealisasi, dampaknya bisa sangat signifikan. Film horor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan pertumbuhan pesat, dengan judul-judul seperti KKN di Desa Penari yang mencetak rekor 10 juta penonton dan Sewu Dino yang mengukuhkan tren horor berbasis folklore. Namun, kehadiran perspektif internasional dari sutradara sekelas Jung bisa membuka pintu bagi distribusi yang lebih luas ke pasar Asia dan global.

Data dari Badan Perfilman Indonesia menunjukkan bahwa ekspor film nasional masih didominasi oleh genre drama dan aksi. Genre horor, meski populer di domestik, belum banyak menembus festival dan jaringan bioskop internasional. Kolaborasi dengan sineas Korea yang sudah terbukti sukses secara global bisa menjadi game changer.

Apa Kata Penggemar?

Kabar ini pun viral di media sosial. Tagar #GonjiamDiIndonesia sempat menempati trending topic di platform X selama lebih dari enam jam. Mayoritas warganet menyambut positif, meski tak sedikit yang skeptis. "Kalau syuting di Lawang Sewu atau Rumah Sakit Militer lama, auto nonton berkali-kali!" tulis seorang pengguna. Sementara yang lain mengingatkan, "Syaratnya berat, tapi justru itu yang bikin proyek ini potensial. Bukan sekadar numpang nama."

Perbandingan: Gonjiam vs Potensi Proyek Indonesia
AspekGonjiam: Haunted Asylum (2018)Potensi Proyek Indonesia
LokasiRumah sakit jiwa nyata di GwangjuLokasi angker asli Indonesia (RS, benteng, dll)
Sumber ceritaLegenda urban lokal Korea + dokumentasiMitologi hantu & folklore Nusantara
FormatFound footageMasih belum diumumkan
Anggaran~USD 2,2 jutaEstimasi awal ~USD 3-5 juta (co-production)
Box officeUSD 21 juta+Target: pasar Asia Tenggara + global

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi soal timeline produksi. Namun, sumber dekat dengan negosiasi menyebut bahwa survei lokasi awal direncanakan berlangsung pada kuartal pertama 2026. Jika segala sesuatunya berjalan lancar, Indonesia bisa menjadi tuan rumah bagi salah satu proyek horor paling ambisius yang pernah digarap oleh sineas Korea di Asia Tenggara. Publik kini hanya bisa menunggu, berharap bahwa janji itu bukan sekadar gimik promosi belaka.

[SOCIAL_TWEET]: Sutradara Gonjiam: Haunted Asylum, Jung Bum-shik, siap syuting horor di Indonesia! Tapi ada 3 syarat: lokasi angker asli, keterlibatan budayawan lokal, dan co-production setara. Survei lokasi dijadwalkan awal 2026. Akankah horor Indonesia naik level? 🎬👻 #FilmHororIndonesia #Gonjiam #KolaborasiKorea[SOCIAL_TG]: 🎬🇰🇷🤝🇮🇩 Sutradara Gonjiam, Jung Bum-shik, janji bikin horor di Indonesia! Tapi syaratnya: lokasi angker asli + riset folklore lokal + co-production sejajar. Survei awal dijadwalkan Q1 2026. Horor Indonesia siap go international!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User