Putri Temon Kenang Obrolan Terakhir Sebelum Ayahanda Berpulang

JAKARTA — Kabar duka menyelimuti dunia hiburan Tanah Air. Temon, sosok seniman serbabisa yang telah menghiasi layar kaca dan panggung teater selama lebih d

Jul 12, 2026 - 19:05
0 0

JAKARTA — Kabar duka menyelimuti dunia hiburan Tanah Air. Temon, sosok seniman serbabisa yang telah menghiasi layar kaca dan panggung teater selama lebih dari tiga dekade, mengembuskan napas terakhir pada Minggu (12/7) pukul 08.42 WIB. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, terutama bagi putri tercinta, Rambu, yang setia mendampingi hingga detik-detik terakhir sang ayah.

Dalam suasana haru di rumah duka kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Rambu membagikan kenangan tentang percakapan terakhir yang begitu membekas di hatinya. Dengan suara bergetar namun penuh ketegaran, ia menceritakan momen yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.

Kronologi Hari Terakhir: Dari Sarapan Hingga Perpisahan

Rambu menuturkan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam 24 jam terakhir sebelum sang ayah berpulang. Berikut kronologi yang ia bagikan kepada awak media:

  1. Sabtu pagi (11/7), pukul 07.30 WIB — Temon masih terlihat segar dan menikmati sarapan bubur ayam kesukaannya. "Papa makan dengan lahap, bahkan sempat bercanda soal bubur yang kurang asin," kenang Rambu sambil tersenyum getir.
  2. Sabtu siang, pukul 13.00 WIB — Temon menghabiskan waktu di teras rumah, membaca naskah drama lama yang pernah ia sutradarai tahun 1990-an. Rambu melihat ayahnya sesekali tertawa kecil membaca dialog-dialog lawas.
  3. Sabtu sore, pukul 16.30 WIB — Kondisi Temon mulai menurun. Ia mengeluh lemas dan memilih beristirahat di kamar. Rambu yang mulai waspada langsung menghubungi dokter keluarga.
  4. Sabtu malam, pukul 20.00 WIB — Dokter tiba dan memeriksa kondisi Temon. Tekanan darahnya fluktuatif. Keluarga diminta bersiap untuk kemungkinan terburuk.
  5. Minggu dini hari, pukul 02.15 WIB — Temon terbangun dan memanggil Rambu. Inilah momen percakapan terakhir yang paling membekas.

Percakapan Terakhir yang Mengharukan

Rambu mengisahkan bahwa pada dini hari itu, sang ayah tiba-tiba memegang tangannya erat. Dengan suara lirih, Temon menyampaikan pesan-pesan yang kini terasa seperti wasiat tak tertulis.

"Papa bilang, 'Rambu, kamu sudah jadi anak yang hebat. Papa bangga sama kamu. Jangan pernah berhenti jadi orang baik. Teruslah berkarya, teruslah mencintai seni seperti yang Papa ajarkan dulu.' Itu kata-kata terakhir yang jelas beliau ucapkan sebelum akhirnya lebih banyak berkomunikasi lewat tatapan mata,"

Rambu mengaku tak kuasa menahan air mata saat menceritakan kembali momen tersebut. Ia mengatakan bahwa tatapan sang ayah di jam-jam terakhir begitu teduh dan damai, seolah sudah mengikhlaskan segalanya.

"Papa sudah tidak banyak bicara setelah subuh. Tapi matanya terus memandang saya dan Mama. Seperti ingin memastikan kami baik-baik saja. Pukul 08.42 WIB, Papa mengembuskan napas terakhir dengan sangat tenang. Tidak ada rasa sakit. Itu yang sedikit menghibur kami," tambahnya.

Sosok Temon: Lebih dari Sekadar Aktor

Bagi publik Indonesia, Temon bukan nama asing. Lahir di Yogyakarta pada 15 Maret 1958, pria bernama lengkap Temon Suryohadikusumo ini mengawali karier di panggung teater kampus sebelum akhirnya merambah ke layar perak pada era 1980-an. Total lebih dari 60 judul film dan puluhan produksi teater telah ia bintangi sepanjang kariernya.

Beberapa film ikonik yang dibintanginya antara lain Catatan Seorang Demonstran (1985), Langit Ketujuh (1992), dan Surat Cinta untuk Bapak (2001). Di usianya yang menginjak 68 tahun, Temon masih aktif mengajar akting di sanggar teater kecil yang ia dirikan bersama rekan-rekan seangkatannya.

Rekan sesama aktor, Butet Kartaredjasa, melalui sambungan telepon menyampaikan duka citanya. "Temon itu panutan. Dia aktor yang total, guru yang sabar, dan sahabat yang setia. Kepergiannya adalah kehilangan besar bagi kita semua," ujar Butet.

Jenazah Dimakamkan di Yogyakarta

Pihak keluarga memutuskan untuk memakamkan jenazah Temon di Taman Pemakaman Umum Sasonoloyo, Yogyakarta, sesuai wasiat lisan yang pernah ia sampaikan. Prosesi pemberangkatan jenazah dari Jakarta direncanakan pada Senin (13/7) pagi menggunakan kereta api, mengikuti permintaan almarhum yang dikenal sederhana dan membumi.

"Papa selalu bilang, kalau nanti meninggal, jangan ribet-ribet. Bawa pulang ke Jogja, makamkan dekat Eyang. Papa ingin pulang dengan tenang," kata Rambu mengulangi pesan sang ayah.

Pantauan di rumah duka, sejak Minggu siang, karangan bunga duka cita mulai berdatangan dari berbagai kalangan—rekan artis, komunitas teater, hingga pejabat daerah. Suasana dipenuhi isak tangis dan doa dari para pelayat yang hadir memberikan penghormatan terakhir.

Warisan yang Tak Ternilai

Di tengah duka, Rambu bertekad melanjutkan perjuangan sang ayah di dunia seni peran. Ia yang saat ini berusia 32 tahun dan juga berkarier sebagai aktris, mengatakan akan menjaga sanggar teater peninggalan ayahnya agar tetap hidup.

"Papa sudah menanam benih yang luar biasa. Tugas saya sekarang menyiraminya supaya terus tumbuh. Sanggar ini akan tetap buka. Mimpi Papa untuk melahirkan aktor-aktor hebat tidak boleh mati," tegas Rambu penuh keyakinan.

Kisah perpisahan Temon dan Rambu menjadi pengingat bagi kita semua tentang berharganya setiap momen kebersamaan dengan orang tercinta. Sebuah percakapan sederhana di dini hari bisa menjadi harta karun kenangan yang tak ternilai harganya.

[SOCIAL_TWEET]: Detik-detik mengharukan sebelum Temon berpulang. Putrinya, Rambu, mengenang percakapan terakhir di dini hari yang penuh pesan cinta dan kebanggaan. Selamat jalan, Maestro. #Temon #AktorSenior #RIP[SOCIAL_TG]: 🕊️ Duka mendalam bagi dunia seni Indonesia. Temon, aktor legendaris, telah berpulang. Putri tercintanya, Rambu, membagikan percakapan terakhir yang penuh haru pada dini hari sebelum sang ayah pergi selamanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User