Mahasiswa DKV IDB Bali Pamerkan Instalasi Seni di KEK Kura Kura
Denpasar – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali resmi membuka ruang pameran bagi mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Desain dan Bisnis (IDB) Bali untuk mempertunjukkan instalasi...
Denpasar – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali resmi membuka ruang pameran bagi mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Desain dan Bisnis (IDB) Bali untuk mempertunjukkan instalasi seni bertema lingkungan dan kebudayaan, Kamis (13/2/2026). Pameran bertajuk “Rupa Lestari: Visualisasi Alam dan Budaya Bali” itu berlangsung selama tiga hari di area terbuka KEK dan menjadi penanda sinergi antara kawasan ekonomi strategis dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan industri kreatif daerah.
Puluhan karya instalasi yang dipajang di lobi utama serta pelataran KEK Kura Kura merupakan hasil dari proses kreatif 45 mahasiswa semester akhir DKV IDB Bali dalam kurun waktu empat bulan. Setiap karya mengolah material daur ulang, bambu, dan limbah kayu yang dipadukan dengan teknologi pencahayaan sederhana. Direktur Operasional PT Kura Kura Bali, I Gede Putu Arya Kusuma, dalam sambutan pembukaan menyatakan, “Kami melihat mahasiswa bukan sekadar sebagai calon tenaga kerja, melainkan mitra inovasi yang mampu menghadirkan gagasan segar untuk kawasan ini.”
Transformasi Ruang Publik Menjadi Galeri Seni
Manajemen KEK Kura Kura Bali sengaja mengubah beberapa titik akses publik, seperti koridor masuk dan taman sentral, menjadi etalase seni terbuka. Langkah ini menindaklanjuti Rapat Koordinasi Bersama antara Badan Pengelola KEK, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, dan pimpinan IDB Bali pada 6 September 2025 yang menetapkan program “Ruang Kreatif Mahasiswa” sebagai agenda tahunan. Dalam rapat tersebut, disepakati bahwa kawasan berstatus khusus itu harus menjadi laboratorium hidup bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Kepala Subbidang Promosi dan Kerja Sama KEK, Ni Kadek Sri Widari, menegaskan bahwa kebijakan ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2021 tentang Kawasan Ekonomi Khusus yang mengamanatkan diversifikasi kegiatan penunjang. “Kami tidak ingin kawasan ini hanya sibuk pada aktivitas perdagangan dan jasa, tetapi juga menjadi ruang terbuka yang mendorong apresiasi seni dan kreativitas anak muda Bali,” jelasnya. Seluruh instalasi akan tetap dipajang selama dua pekan dan dapat dinikmati oleh wisatawan serta masyarakat umum tanpa biaya masuk.
Kolaborasi Kampus dan Kawasan Ekonomi Dorong Inovasi
Rektor IDB Bali, Prof. Dr. Ni Luh Putu Ariani, M.Sn., menyebut pameran ini sebagai wujud nyata dari penandatanganan Nota Kesepahaman antara kampusnya dengan PT Kura Kura Bali pada Juli 2025. “Kami ingin mahasiswa terbiasa bekerja dengan standar industri dan dalam konteks ruang publik yang sesungguhnya. Pameran di KEK ini menjadi ujian sekaligus portofolio bergengsi bagi mereka,” ujarnya saat meninjau karya mahasiswa didampingi para dosen pembimbing. Prof. Ariani menambahkan, keberhasilan kolaborasi tersebut akan menjadi dasar bagi perancangan kurikulum yang lebih adaptif terhadap kebutuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Ketua Program Studi DKV, I Wayan Agus Darma Putra, S.Sn., M.Ds., menjelaskan bahwa sebanyak 12 kelompok mahasiswa ditantang untuk mengangkat isu-isu lokal seperti pelestarian subak, sampah plastik di pesisir, hingga reinterpretasi motif tenun Bali dalam bentuk patung kinetik. “Kami memberikan bobot penilaian tinggi pada konsep keberlanjutan dan kemampuan bercerita melalui medium instalasi. Hasilnya, banyak karya yang justru menggunakan potongan bambu sisa konstruksi dari bangunan di kawasan ini,” ungkapnya. Salah satu karya yang menjadi sorotan adalah instalasi berjudul “Gelombang Sunyi” yang dirangkai dari 2.000 botol kaca bekas dan diterangi lampu LED hemat energi, menampilkan siluet ombak yang bercerita tentang abrasi pantai selatan Bali.
Karya Instalasi Angkat Isu Lingkungan dan Identitas Budaya
Mahasiswa peserta, Ni Komang Ayu Trisnawati, mengatakan bahwa kesempatan pameran di KEK Kura Kura Bali memberinya pengalaman berharga dalam memahami tata kelola ruang publik dan respons pengunjung. “Biasanya kami hanya pameran di kampus. Sekarang kami harus mempertimbangkan aspek keamanan, cuaca, hingga alur pejalan kaki di area komersial,” katanya. Instalasi buatannya yang berjudul “Bali Reka” menggunakan anyaman rotan sebagai metafora keterikatan antara modernitas dan tradisi.
Wakil Ketua Panitia yang juga dosen DKV, Putu Ratih Saraswati, S.Ds., M.A., menyatakan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang unjuk karya, melainkan juga forum evaluasi terbuka. Ia menambahkan, “Kami menempatkan buku tamu digital di setiap titik instalasi untuk menjaring komentar pengunjung. Data ini akan menjadi bahan riset bersama antara Prodi DKV dan tim arsitek KEK tentang bagaimana seni instalasi mampu meningkatkan kenyamanan dan daya tarik kawasan.” Sementara itu, beberapa pelaku usaha kuliner di sekitar area pameran melaporkan kenaikan jumlah pengunjung hingga 30 persen pada hari pertama, sehingga manajemen KEK mempertimbangkan untuk memperluas zona pameran pada edisi berikutnya.
Ketua Fraksi Partai Golongan Karya DPRD Bali, I Made Suardana, yang hadir mewakili Komisi IV, memberikan apresiasi dan menyatakan bahwa sinergi antara kawasan ekonomi khusus dan institusi pendidikan tinggi harus diperbanyak. “Ini model yang bisa direplikasi di KEK lain seperti Mandalika atau Tanjung Lesung. Pendidikan vokasi dan seni harus mendapat tempat di kawasan strategis agar pertumbuhan ekonomi tidak tercerabut dari akar budaya,” tegasnya usai berkeliling melihat instalasi.
Pameran “Rupa Lestari” akan ditutup dengan diskusi publik bertema “Seni sebagai Pengungkit Ekonomi Kreatif di Kawasan Khusus” yang menghadirkan pembicara dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, akademisi, serta pelaku industri kreatif. Manajemen KEK Kura Kura Bali dan IDB Bali berkomitmen untuk merealisasikan program serupa secara berkala dengan cakupan bidang yang lebih luas, termasuk desain interior, arsitektur lanskap, dan seni pertunjukan.
Baca juga:
Comments (0)