Lima Kebiasaan Pemicu Kerusakan Ponsel dan Langkah Pencegahannya

JAKARTA — Perangkat telepon seluler telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian masyarakat modern. Namun, banyak pengguna tanpa sadar menjalankan rutinitas yang justru memperpendek us...

Jul 13, 2026 - 11:44
0 0

JAKARTA — Perangkat telepon seluler telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian masyarakat modern. Namun, banyak pengguna tanpa sadar menjalankan rutinitas yang justru memperpendek usia pakai gawai kesayangan mereka. Berdasarkan data pusat layanan purnajual nasional, lebih dari separuh kasus kerusakan perangkat keras dan penurunan performa bukan disebabkan oleh cacat produksi, melainkan oleh pola pemakaian yang kurang tepat.

Direktur Teknologi Lembaga Riset Perangkat Bergerak (LRPB), Andi Mulyana, menegaskan bahwa edukasi mengenai perawatan ponsel masih sangat rendah di kalangan konsumen Indonesia. "Mayoritas pengguna baru menyadari ada kesalahan setelah perangkat menunjukkan gejala kerusakan yang parah. Padahal, langkah preventif sangat sederhana dan dapat dilakukan tanpa biaya tambahan," ungkapnya dalam konferensi pers daring, Rabu (9/5).

Kebiasaan Pengisian Daya yang Tidak Sesuai Standar

Praktik mengisi ulang baterai menggunakan adaptor dan kabel non-orisinal masih menjadi penyebab utama kerusakan pada sirkuit daya. Arus listrik yang tidak stabil akibat perangkat pengisi daya abal-abal dapat memicu korsleting hingga menggelembungnya komponen baterai lithium-ion. Selain itu, kebiasaan mengisi daya sepanjang malam—meskipun perangkat sudah mencapai kapasitas 100 persen—memicu tegangan mengambang (trickle charging) yang mempercepat degradasi sel baterai. Hasil survei LRPB mencatat 47 persen responden mengaku rutin meninggalkan ponsel dalam kondisi terhubung listrik lebih dari enam jam setelah penuh.

Paparan Suhu Ekstrem dan Lingkungan Lembap

Menempatkan ponsel pada dashboard mobil yang terpapar sinar matahari langsung atau menyimpannya di dalam jaket saat berolahraga di cuaca panas adalah dua skenario lazim yang mengakibatkan overheating. Temperatur di atas 40 derajat Celsius dapat mengurai lapisan perekat pada panel layar serta menurunkan efisiensi prosesor secara permanen. Di sisi lain, penggunaan ponsel di area dengan kelembapan tinggi seperti kamar mandi beruap—meskipun perangkat mengantongi sertifikasi tahan air—berisiko memicu korosi pada konektor dan komponen internal secara perlahan.

Minimnya Perlindungan Fisik dan Kelalaian Penyimpanan

Mengabaikan pemakaian pelindung layar serta casing penahan benturan adalah bentuk pengabaian yang paling mudah dihindari. Guncangan saat terjatuh, meski dari ketinggian rendah, kerap merusak digitizer dan modul kamera yang ongkos perbaikannya dapat mencapai separuh harga perangkat baru. Tidak kalah berbahaya adalah kebiasaan menyimpan ponsel bersama benda tajam seperti kunci atau koin di dalam saku, yang berpotensi menggores lensa dan bodi.

Penyimpanan Data Berlebih yang Membebani Performa

Kapasitas penyimpanan internal yang nyaris penuh tidak hanya menghalangi pemasangan aplikasi baru, melainkan juga mengganggu kecepatan baca-tulis data sistem. Ketika ruang kosong kurang dari 10 persen, mekanisme manajemen memori terpaksa bekerja lebih keras, menimbulkan lag dan memperpendek umur chip NAND flash. Pakar perangkat lunak dari Universitas Teknologi Digital Nusantara, Retno Wardhani, menyebut bahwa kebiasaan menumpuk foto, video, dan berkas cache secara masif tanpa pembersihan berkala adalah "bom waktu" bagi stabilitas sistem operasi.

Mengabaikan Pembaruan Perangkat Lunak dan Aplikasi

Notifikasi pembaruan sistem yang ditunda berbulan-bulan bukan hanya membuat ponsel rentan terhadap eksploitasi keamanan, melainkan juga mempertahankan bug yang dapat menguras daya baterai lebih cepat dan merusak efisiensi komponen. Begitu pula dengan aplikasi usang yang tidak dihapus—di samping menghabiskan ruang, aplikasi tersebut sering kali tetap berjalan di latar belakang dan mengonsumsi sumber daya secara diam-diam.

Rekomendasi Preventif dari Para Ahli

Guna menekan laju kerusakan perangkat, para teknisi independen yang tergabung dalam Asosiasi Perbaikan Gawai Indonesia (APGI) menyusun panduan perawatan sederhana. Pembersihan rongga pengisi daya dan lubang speaker secara berkala menggunakan sikat lembut atau blower kecil sangat dianjurkan untuk mencegah penumpukan debu yang dapat menghambat konektivitas. Selain itu, pemasangan tempered glass dan casing bersertifikasi MIL-STD merupakan investasi minim yang mampu meredam dampak benturan tidak terduga. APGI juga mengingatkan pentingnya menghapus aplikasi yang tidak lagi digunakan serta rutin memindahkan berkas besar ke media penyimpanan eksternal atau layanan awan.

Andi Mulyana menutup pemaparannya dengan menekankan bahwa kesadaran akan kebiasaan kecil ini tidak hanya menghemat biaya perbaikan, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan limbah elektronik nasional. "Ponsel yang dirawat dengan baik bisa bertahan hingga dua kali lebih lama dibandingkan rata-rata siklus penggantian perangkat konsumen saat ini yang hanya 18 hingga 24 bulan," tandasnya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User