Labu Siam Berlebih Sebabkan Kembung Akibat Fermentasi Serat Usus
Badan Riset Kesehatan Nasional (BRKN) merilis temuan terbaru yang mengonfirmasi bahwa konsumsi labu siam secara berlebihan dalam waktu singkat dapat memicu ketidaknyamanan pencernaan akibat produksi g...
Badan Riset Kesehatan Nasional (BRKN) merilis temuan terbaru yang mengonfirmasi bahwa konsumsi labu siam secara berlebihan dalam waktu singkat dapat memicu ketidaknyamanan pencernaan akibat produksi gas hidrogen, karbon dioksida, dan metana di usus besar. Laporan setebal 18 halaman yang diterbitkan di Jakarta pada Selasa (28/5/2024) itu menegaskan bahwa sayuran bernama latin Sechium edule tersebut, meskipun kaya manfaat, perlu dikonsumsi dalam batas wajar.
Peneliti senior BRKN, Prof. Dr. Darmawan Kusumo, M.Gizi, dalam paparannya menyatakan bahwa labu siam mengandung serat pangan sekitar 1,7 gram per 100 gram bobot segar. Ketika asupan serat harian melonjak secara mendadak, mikrobiota usus tidak memiliki waktu adaptasi yang cukup. “Proses fermentasi serat oleh bakteri komensal di kolon akan menghasilkan campuran gas, terutama hidrogen, karbon dioksida, dan metana. Volume gas yang terbentuk berbanding lurus dengan jumlah serat yang mencapai usus besar dalam periode singkat,” ujar Prof. Darmawan di hadapan awak media.
Mekanisme Fermentasi di Saluran Cerna
Tim riset BRKN menjelaskan bahwa serat tidak dapat dicerna oleh enzim manusia di lambung maupun usus halus, sehingga tiba di usus besar dalam keadaan utuh. Di bagian akhir saluran pencernaan inilah beragam bakteri dari filum Bacteroidetes dan Firmicutes mulai mengurai serat melalui proses fermentasi anaerobik. Hasil sampingan metabolisme bakteri tersebut adalah asam lemak rantai pendek yang berguna bagi kesehatan epitel usus, tetapi sekaligus melepaskan gas-gas yang telah disebutkan.
Skala produksi gas, menurut laporan BRKN, meningkat secara signifikan manakala seseorang mengonsumsi lebih dari 300 gram labu siam dalam satu sesi makan. Pada uji klinis yang melibatkan 48 responden sehat berusia 19–34 tahun, konsumsi 400 gram labu siam kukus menghasilkan volume gas usus rata-rata 210 mililiter dalam tiga jam pascamakan, naik 340 persen dibandingkan kelompok kontrol yang hanya mengonsumsi nasi putih. “Semakin banyak serat yang difermentasi dalam waktu singkat, semakin tinggi tekanan intraluminal usus, yang bermanifestasi sebagai kembung, kram perut, bahkan diare osmotik,” jelas dr. Sari Andayani, Sp.PD, anggota tim peneliti BRKN.
Manfaat Tetap Tak Terbantahkan
Meskipun demikian, laporan yang sama menekankan bahwa labu siam tetap merupakan sumber pangan fungsional yang dianjurkan. Kandungan vitamin C sebesar 7,7 miligram per 100 gram, folat 93 mikrogram, dan kalium 125 miligram menjadikan labu siam sebagai penunjang sistem imun, perkembangan sel darah merah, dan pengendalian tekanan darah. Polisakarida pektin yang larut di dalamnya juga terbukti membantu menurunkan indeks glikemik makanan sehingga cocok bagi penderita diabetes melitus tipe 2. “Manfaat ini baru bisa dirasakan optimal jika dikonsumsi secara rutin dalam porsi moderat, bukan dijadikan menu tunggal secara drastis,” tambah Prof. Darmawan.
Berdasarkan data Susenas 2023, rata-rata konsumsi labu siam penduduk Indonesia berada di kisaran 80 gram per hari di wilayah pedesaan Jawa Barat dan Sumatra Utara, masih jauh di bawah ambang batas pengganggu pencernaan. BRKN merekomendasikan agar peningkatan konsumsi dilakukan secara bertahap, misalnya ditambah 50 gram per minggu, untuk memberi waktu adaptasi bagi koloni bakteri usus.
Imbauan dan Strategi Pencegahan
BRKN menerbitkan panduan singkat bagi masyarakat yang ingin memasukkan labu siam secara lebih masif dalam diet. Panduan tersebut menyarankan konsumsi maksimal 200 gram per hari dalam bentuk matang—baik direbus, dikukus, atau ditumis—serta diimbangi asupan air minimal dua liter. Memasak labu siam hingga lunak terbukti mengurangi beban kerja fermentasi bakteri dibandingkan konsumsi mentah. “Pengolahan panas akan memecah sebagian serat tidak larut sehingga lebih mudah diurai, walau tetap mempertahankan mikronutrien esensial,” kata dr. Sari.
Bagi individu yang memiliki riwayat irritable bowel syndrome (IBS) atau sensitivitas terhadap FODMAP, BRKN mengimbau untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis gizi klinik sebelum menambah porsi sayuran tinggi serat. “Efek samping berupa distensi abdomen biasanya bersifat sementara dan mereda dalam 24 jam setelah tubuh menyesuaikan produksi enzim bakteri. Kami belum menemukan risiko permanen,” tutup Prof. Darmawan dalam sesi tanya jawab.
Rilis ini diharapkan menjadi acuan bagi dinas kesehatan provinsi dalam menyusun materi penyuluhan gizi seimbang di posyandu dan puskesmas yang kerap menjadikan labu siam sebagai komoditas pangan lokal unggulan.
Baca juga:
Comments (0)