Korban Perang Ukraina Tembus 2 Juta Jiwa, Rusia Alami Kerugian Terbesar
Jakarta - Perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina terus menelan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa total korban dari kedua belah pihak kini telah
Jakarta - Perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina terus menelan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa total korban dari kedua belah pihak kini telah melampaui angka dua juta orang, mencakup personel militer yang tewas, terluka, maupun hilang dalam tugas. Laporan yang diterima Apaberita.com pada Kamis (2/7/2026) ini menegaskan bahwa pasukan Rusia menjadi pihak yang paling banyak menanggung kerugian selama invasi yang telah berlangsung lebih dari empat tahun tersebut.
Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), lembaga think tank ternama asal Amerika Serikat, merilis data terbaru pada Rabu (1/7) yang menunjukkan skala destruktif dari konflik ini. Angka dua juta korban tersebut adalah gabungan dari seluruh kerugian personel di kubu Rusia maupun Ukraina, menjadikan perang ini sebagai salah satu konflik paling mematikan di abad ke-21.
Detail Laporan dan Dominasi Korban di Kubu Rusia
Dalam laporan yang dikutip Apaberita.com, CSIS menyoroti bahwa ketidakseimbangan jumlah korban sangat terasa. Pasukan Rusia dilaporkan mengalami jumlah korban yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Ukraina. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk strategi serangan besar-besaran, penggunaan taktik gelombang manusia, serta perlawanan sengit yang terus dilakukan oleh militer Ukraina dengan dukungan persenjataan modern dari negara-negara Barat.
"Gabungan korban Rusia dan Ukraina telah melebihi 2 juta," ungkap pernyataan resmi CSIS sebagaimana dilaporkan oleh media kami.
Meskipun tidak memberikan rincian pasti mengenai pembagian jumlah korban tewas, luka, dan hilang, para analis CSIS menyebutkan bahwa sebagian besar korban berasal dari angkatan darat kedua negara. Kerugian besar di pihak Rusia juga dikaitkan dengan kegagalan mempertahankan banyak posisi strategis yang justru menelan banyak personel, terutama setelah serangan balasan Ukraina dalam beberapa bulan terakhir.
Dampak dan Masa Depan Konflik
Jumlah korban yang terus meningkat menimbulkan tekanan besar bagi pemerintahan kedua negara. Di Rusia, mobilisasi parsial yang berulang kali dilakukan menuai keresahan di dalam negeri, sementara Ukraina harus berjuang keras untuk menjaga moral pasukan meski dukungan internasional terus mengalir. Perang yang awalnya diprediksi hanya akan berlangsung singkat kini telah menjadi krisis kemanusiaan dan militer jangka panjang yang menguras sumber daya kedua bangsa.
Pengamat militer yang dihubungi Apaberita.com menilai bahwa angka dua juta korban ini kemungkinan masih akan bertambah seiring belum adanya titik terang dalam proses perdamaian. Negosiasi yang berulang kali digelar belum membuahkan hasil konkret, sehingga konflik bersenjata diperkirakan akan terus berlanjut. Laporan CSIS ini kembali menjadi pengingat betapa mahalnya harga sebuah invasi, tidak hanya bagi pihak yang bertahan, tetapi juga bagi negara yang memulai agresi.
Comments (0)