Kondisi Bandara Internasional Minangkabau di Tengah Mahalnya Tiket Pesawat
Padang, Apaberita.com – Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang, Sumatera Barat, tengah menghadapi tekanan signifikan akibat penurunan tajam jumlah penumpang. Hingga akhir Mei 2026, total
Padang, Apaberita.com – Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang, Sumatera Barat, tengah menghadapi tekanan signifikan akibat penurunan tajam jumlah penumpang. Hingga akhir Mei 2026, total penumpang yang tercatat hanya mencapai 931.737 orang. Angka ini menunjukkan penurunan drastis sebesar 61 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama sepanjang tahun 2025. Penurunan ini terjadi di tengah situasi mahalnya harga tiket pesawat yang masih menjadi keluhan masyarakat luas, khususnya di wilayah Sumatera.
Penurunan Drastis Jumlah Penumpang dan Penerbangan
Berdasarkan data yang dihimpun Apaberita.com, General Manager Bandara Internasional Minangkabau, Dony Subardono, mengonfirmasi bahwa penurunan jumlah penumpang ini berbanding lurus dengan berkurangnya frekuensi penerbangan. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, tercatat hanya 7.492 pergerakan pesawat di bandara tersebut, turun 59 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Artinya, baik dari sisi permintaan penumpang maupun ketersediaan kursi penerbangan, terjadi kontraksi yang sangat dalam.
“Kami mencatat penurunan signifikan pada jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan. Hingga Mei 2026, trafik penumpang turun 61 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Jumlah penerbangan juga turun hampir 60 persen,” ujar Dony Subardono kepada Apaberita.com.
Data tersebut menggambarkan kondisi yang cukup berat bagi salah satu pintu gerbang utama Sumatera Barat ini. Sebelumnya, Bandara Internasional Minangkabau menjadi tumpuan mobilitas warga Sumbar, pelaku usaha, serta wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan penurunan setajam ini, dampaknya terasa pada berbagai sektor, mulai dari perhotelan, restoran, hingga usaha kecil menengah yang bergantung pada kunjungan wisatawan.
Mahalnya Tiket Pesawat Jadi Pemicu Utama
Banyak pihak menilai bahwa penyebab utama penurunan ini adalah mahalnya harga tiket pesawat yang terus berlanjut. Kenaikan harga avtur, tarif bandara, serta faktor biaya operasional maskapai membuat harga tiket rute-rute menuju dan dari Padang tidak lagi kompetitif. Akibatnya, banyak calon penumpang yang menunda perjalanan atau beralih ke moda transportasi darat dan laut yang lebih terjangkau meskipun memakan waktu lebih lama. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena Sumbar sangat bergantung pada konektivitas udara untuk menjaga denyut perekonomiannya.
Selain itu, penurunan ini juga dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah maskapai yang beroperasi di rute-rute tertentu menuju Padang. Beberapa maskapai mengurangi frekuensi atau bahkan menghentikan sementara rute karena rendahnya tingkat keterisian kursi. Lingkaran setan pun terjadi: tiket mahal membuat penumpang berkurang, lalu maskapai mengurangi penerbangan, yang pada akhirnya semakin mempersulit akses transportasi.
Dengan sisa tahun 2026 yang masih panjang, pihak manajemen bandara berharap ada kebijakan yang dapat menekan harga tiket agar minat terbang masyarakat kembali pulih. Tanpa intervensi yang berarti, dikhawatirkan trafik penumpang akan terus merosot dan berdampak lebih luas pada pemulihan ekonomi daerah pascapandemi.
Comments (0)