Komdigi & UB Kembangkan Sistem AI untuk Sekolah Rakyat
JAKARTA, Apaberita.com — Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Universitas Brawijaya (UB) mulai mengembangkan tata kelola dan sistem pembelajaran berbasis kecerd
JAKARTA, Apaberita.com — Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Universitas Brawijaya (UB) mulai mengembangkan tata kelola dan sistem pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (AI) yang akan diterapkan di Sekolah Rakyat. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus menjawab tantangan pemerataan mutu pengajaran di sekolah-sekolah yang dikelola Kementerian Sosial.
Teknologi ini lahir dari Program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang digagas oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi. Dalam program tersebut, mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) berperan aktif merancang prototipe dan aplikasi AI yang akan dipasang di lapangan. Sinergi ini diharapkan tidak hanya mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan, tetapi juga memperkuat talenta AI lokal yang siap terjun ke industri.
Proyeksi Penerapan di Ratusan Sekolah Rakyat
Proyek ambisius ini diproyeksikan mulai diimplementasikan di ratusan Sekolah Rakyat pada tahun ajaran 2026/2027. Sekolah Rakyat sendiri merupakan program strategis Kemensos yang menyediakan pendidikan berasrama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, dengan kurikulum yang memadukan akademik, keterampilan, dan penguatan karakter. Kehadiran sistem AI nantinya akan menjadi tulang punggung digital dalam operasional harian sekolah-sekolah tersebut.
Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial, Robben Rico, yang hadir mewakili Menteri Sosial Saifullah Yusuf, menyampaikan bahwa sistem ini akan menjadi terobosan besar. Para kepala sekolah dan guru akan dipermudah dalam menyusun kurikulum, merancang pembelajaran interaktif, hingga menyiapkan soal pre-test dan post-test secara otomatis. Hal ini dinilai krusial mengingat banyak Sekolah Rakyat yang masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik.
"Pemanfaatan AI akan membantu kepala sekolah dan guru menyusun kurikulum, pembelajaran, hingga membuat soal pre-test dan post-test. Dengan sistem ini, guru bisa lebih fokus pada pendampingan siswa karena beban administratif dan teknis pengajaran dapat dikurangi drastis," ujar Robben dalam keterangan resmi yang diterima Apaberita.com.
Program AITF sendiri dirancang sebagai wahana pengembangan talenta AI nasional yang mempertemukan mahasiswa dengan proyek nyata berdampak publik. Peserta tidak hanya mendapat pelatihan teknis dari mentor industri, tetapi juga mendalami aspek etika dan regulasi AI agar solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi dengan FILKOM UB menjadi model percontohan yang diharapkan dapat direplikasi dengan kampus lain di seluruh Indonesia.
Fitur-fitur yang sedang dikembangkan mencakup analisis kemajuan belajar setiap siswa, rekomendasi materi tambahan yang dipersonalisasi, serta dasbor pemantau kinerja bagi guru dan pengelola sekolah secara real-time. Modul-modul tersebut akan melalui serangkaian uji coba dan validasi oleh pakar pendidikan serta praktisi lapangan sebelum benar-benar diterapkan.
Apaberita.com melaporkan bahwa proses pengembangan saat ini tengah memasuki fase pengumpulan data dan penyempurnaan model. Pemerintah menargetkan seluruh sistem telah siap dioperasikan bersamaan dengan dimulainya angkatan baru Sekolah Rakyat pada pertengahan 2026. Dengan langkah ini, Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu pelopor pemanfaatan AI dalam pendidikan inklusif di kawasan.
Comments (0)