Ketenangan Jiwa sebagai Keterampilan yang Dapat Dilatih

Jakarta, Apaberita – Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan kehidupan modern yang serba cepat, kecemasan seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian. Tekanan pekerjaan, ekspe...

Ketenangan Jiwa sebagai Keterampilan yang Dapat Dilatih

Jakarta, Apaberita – Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan kehidupan modern yang serba cepat, kecemasan seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian. Tekanan pekerjaan, ekspektasi sosial, hingga notifikasi ponsel yang tidak pernah berhenti, memaksa otak dan jiwa manusia bekerja tanpa jeda. Banyak pihak kemudian beranggapan bahwa ketenangan batin merupakan sebuah keberuntungan atau karakter bawaan yang hanya dimiliki segelintir orang.

Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ketenangan jiwa bukanlah takdir yang kaku, melainkan sebuah keterampilan yang dapat dipelajari, dilatih, dan dibiasakan. Sama seperti otot tubuh yang memerlukan latihan rutin agar semakin kuat, jiwa manusia juga membutuhkan ruang latihan agar tidak mudah goyah saat menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Dalam tradisi Islam, instrumen utama untuk melatih ketenangan jiwa tersebut sangat mendasar dan telah menjadi rutinitas harian, yakni mengingat Allah (zikir) dan menunaikan salat. Kedua amalan ini tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memberikan dampak psikologis yang signifikan bagi pelakunya.

Zikir: Memutus Rantai Pikiran Liar

Secara psikologis, kecemasan sering kali bersumber dari pikiran yang melayang jauh ke masa depan, berupa kekhawatiran atas hal yang belum terjadi, atau tertambat di masa lalu, berupa penyesalan. Zikir, yang secara bahasa berarti mengingat, berfungsi memutus rantai pikiran liar tersebut dan mengembalikannya ke momen sekarang bersama Sang Pencipta.

Allah SWT secara tegas menegaskan korelasi langsung antara mengingat-Nya dengan ketenangan jiwa dalam Al-Quran. Dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28, Allah berfirman: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Zikir mendidik kesadaran manusia bahwa di balik segala riuh rendah kekuasaan dan masalah duniawi, terdapat Zat Yang Maha Mengatur. Ketika kesadaran tersebut hadir, beban di dada perlahan terangkat karena manusia sadar tidak sedang berjalan sendirian. Hal ini sejalan dengan konsep mindfulness dalam psikologi modern yang menekankan pentingnya kehadiran penuh pada momen saat ini.

Salat: Tempat Perhentian dan Reset Harian

Jika zikir merupakan pengingat yang dapat diucapkan kapan saja, maka salat adalah jeda terstruktur yang dilakukan lima kali sehari. Dalam setiap kesempatan, manusia diminta meninggalkan segala urusan duniawi, seperti komputer, rapat, gawai, dan pekerjaan rumah tangga, untuk berdiri tegak menghadap Tuhan.

Bagi Rasulullah SAW, salat bukanlah beban kewajiban yang memberatkan, melainkan tempat beristirahat dari lelahnya aktivitas duniawi. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud Nomor 4985 dan dishahihkan oleh Al-Albani, Rasulullah pernah berseru kepada muazinnya: "Wahai Bilal, kumandangkanlah iqamah untuk salat, istirahatkanlah kami dengan salat tersebut."

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa salat memiliki fungsi sebagai momen pemulihan energi mental. Dalam konteks neurosains modern, gerakan salat yang dilakukan secara tumakninah atau tenang, disertai dengan bacaan yang khusyuk, dapat menurunkan kadar hormon kortisol yang menjadi pemicu stres. Selain itu, ritme pernapasan yang teratur selama salat turut membantu menstabilkan sistem saraf otonom.

Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Ketenangan yang diperoleh melalui zikir dan salat bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghadapi dinamika kehidupan dengan lebih bijaksana. Seseorang yang terbiasa melatih ketenangan jiwa akan lebih mampu mengambil keputusan secara objektif, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu kebenarannya, serta memiliki empati yang lebih tinggi terhadap sesama.

Dalam era media sosial yang serba bising, kemampuan untuk tetap tenang menjadi semakin mahal dan langka. Informasi yang datang silih berganti tanpa henti sering kali memicu kecemasan kolektif. Oleh karena itu, keterampilan untuk mengelola pikiran dan emosi menjadi kebutuhan mendesak bagi setiap individu.

Para ahli psikologi menyarankan agar setiap orang meluangkan waktu khusus untuk berdiam diri dan merenung, terlepas dari keyakinan yang dianut. Namun, bagi umat Islam, zikir dan salat telah menyediakan kerangka waktu yang jelas dan terstruktur untuk melakukan hal tersebut. Dengan konsistensi dalam menjalankan kedua amalan ini, ketenangan jiwa bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan.

Pada akhirnya, ketenangan adalah pilihan yang harus diperjuangkan setiap hari. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak, mengatur napas, dan mengingat tujuan hidup merupakan investasi paling berharga bagi kesehatan mental dan spiritual. Dengan demikian, ketenangan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar manusia dapat menjalani kehidupan dengan penuh makna dan keseimbangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User