Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto Tangkap Buronan Interpol
Jakarta — Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto memimpin langsung penangkapan seorang buronan red notice Interpol yang selama ini menjadi target operasi in...
Jakarta — Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto memimpin langsung penangkapan seorang buronan red notice Interpol yang selama ini menjadi target operasi internasional. Buronan berinisial RAG, warga negara asing yang terlibat jaringan peredaran gelap narkotika lintas benua, ditangkap tanpa perlawanan di sebuah apartemen kawasan Pluit, Jakarta Utara, pada Selasa dini hari pukul 02.15 WIB, 8 April 2025.
Penangkapan ini merupakan puncak dari operasi senyap selama tiga bulan yang melibatkan kerja sama BNN dengan Interpol dan otoritas kepolisian negara asal pelaku. RAG diduga kuat menjadi koordinator penyelundupan lebih dari 400 kilogram sabu dan 150.000 butir ekstasi ke Indonesia sepanjang tahun 2023–2024. Komjen Suyudi, yang baru 78 hari menjabat sebagai Kepala BNN, menyebut operasi ini sebagai penegasan bahwa Indonesia bukan tempat aman bagi bandar narkoba kelas internasional.
Kronologi dan Rincian Operasi Senyap
Berdasarkan keterangan resmi BNN, tim intelijen mengendus keberadaan RAG di Jakarta sejak awal Februari 2025. Pelaku menggunakan identitas palsu dan berpindah-pindah tempat tinggal setiap dua minggu untuk menghindari deteksi. Pihak BNN mengerahkan 30 personel terlatih dari Direktorat Intelijen dan Direktorat Penindakan yang bekerja secara paralel dengan Interpol Washington dan Divisi Narkotika Kepolisian Kolombia.
Pengintaian intensif dilakukan selama delapan hari terakhir sebelum penggerebekan. Pada pukul 01.45 WIB, tim penindak memasuki lobi apartemen dan langsung menguasai akses darurat. Tepat pukul 02.15, tim dipimpin Komjen Suyudi mendobrak unit 3212 dan mendapati RAG bersama seorang perempuan yang diduga sebagai kurir lokal. Barang bukti yang diamankan: 8,7 kilogram sabu kemasan teh hijau, tiga telepon satelit, dokumen transaksi kripto senilai Rp 14,3 miliar, dan satu unit senjata api rakitan jenis revolver kaliber .38.
“Kami mengembangkan informasi red notice Interpol sejak Januari. Kolaborasi internasional menjadi kunci. Tidak ada tempat berlindung bagi mereka yang ingin merusak generasi bangsa melalui narkoba,” tegas Komjen Suyudi dalam konferensi pers di lobi Gedung BNN Cawang, Rabu pagi.
RAG dijerat Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman pidana mati atau penjara seumur hidup. Proses ekstradisi akan dikoordinasikan dengan Kejaksaan Agung dan Kementerian Luar Negeri setelah pemeriksaan intensif oleh penyidik BNN.
Profil Komjen Suyudi Ario Seto: Sang Pemburu Lintas Jabatan
Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto lahir di Jakarta pada 5 Maret 1968. Lulusan Akademi Kepolisian tahun 1991 ini menghabiskan lebih dari tiga dekade di berbagai posisi strategis Korps Bhayangkara sebelum akhirnya menerima amanat sebagai Kepala BNN pada 20 Januari 2025.
Perjalanan kariernya merepresentasikan perpaduan pengalaman intelijen dan penegakan hukum narkotika. Jabatan penting yang pernah diemban antara lain: Kapolres Metro Jakarta Pusat (2010–2012), Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri (2014–2016), Wakapolda Sumatera Utara (2017–2018), Kapolda Riau (2019–2020), hingga Kepala Badan Intelijen Keamanan (Kabaintelkam) Polri (2022–2025). Di setiap posisi, Suyudi menerapkan pendekatan analitis berbasis data intelijen yang tajam—ciri khas yang akhirnya membawanya menjadi orang nomor satu di BNN.
“Saya melihat ancaman narkotika sebagai perang sesungguhnya. Musuh tidak kasatmata, tetapi setiap hari merenggut nyawa. Filosofi saya: kejar, intai, lumpuhkan sebelum mereka sempat menghancurkan lebih banyak anak bangsa,” ucapnya saat serah terima jabatan pada Januari lalu.
Suyudi dikenal sebagai perwira tinggi yang tak segan turun langsung ke lapangan. Rekan-rekannya di Polri mengisahkan bagaimana saat menjabat Dirtipidnarkoba, ia menyamar sebagai pembeli dalam operasi tangkap tangan di Pelabuhan Tanjung Priok yang menggagalkan penyelundupan 250 kilogram ganja pada 2015. Reputasi itu kini ia bawa ke BNN dengan target ambisius: memotong jalur suplai narkotika asing sebesar 30 persen dalam satu tahun pertama.
Komitmen BNN di Bawah Nahkoda Baru
Dalam pidato perdananya sebagai Kepala BNN, Komjen Suyudi menggariskan tiga prioritas: penguatan intelijen berbasis teknologi siber, kolaborasi intensif dengan kepolisian 12 negara mitra, dan pendekatan pre-emptive strike—mencegah narkoba masuk sebelum menyebar. Sebagai realisasinya, BNN membentuk Satuan Tugas Khusus Penindakan Internasional pada 1 Februari 2025 beranggotakan 80 personel pilihan dari berbagai direktorat.
Hasilnya mulai terlihat. Sepanjang triwulan pertama 2025, BNN mencatat pengungkapan 21 kasus jaringan internasional, menyita barang bukti setara 1,2 ton narkotika, dan meringkus 17 tersangka warga negara asing—termasuk RAG. Angka tersebut melonjak 115 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, saat BNN masih di bawah kepemimpinan sebelumnya.
Pengamat intelijen dari Universitas Indonesia, Dr. Prayogo Kusumawijaya, menilai langkah Suyudi membawa dinamika baru. “Penangkapan buronan Interpol ini adalah pukulan telak bagi kartel internasional. Pendekatan pre-emptive yang dikombinasikan dengan analisis jejaring kripto menunjukkan bahwa BNN kini setara dengan lembaga antinarkoba kelas dunia,” ujarnya.
Suyudi sendiri enggan berpuas diri. Dalam rapat koordinasi internal tertutup yang digelar sehari setelah penangkapan RAG, ia menekankan agar seluruh jajaran tidak lengah. “Perang melawan narkoba adalah maraton, bukan sprint. Setiap buronan yang ditangkap membuka jalan untuk membongkar jaringan yang lebih besar,” demikian kutipannya yang disampaikan oleh juru bicara BNN.
Dengan penangkapan ini, BNN mengirim sinyal tegas kepada para buronan lain yang masih berkeliaran atau bersembunyi di Indonesia. Interpol sendiri mencatat 46 red notice terkait narkotika yang masih berstatus aktif di kawasan Asia Tenggara, dan tujuh di antaranya diyakini kerap melintasi wilayah Indonesia. Komjen Suyudi memastikan bahwa timnya telah memetakan semuanya.
Kini, publik menunggu gebrakan selanjutnya dari perwira tinggi bintang tiga itu. Jika konsistensi ini terjaga, wajah pemberantasan narkoba di Indonesia akan semakin tajam di bawah nahkoda baru.
Baca juga:
Comments (0)