Kementan Akuisisi Benih Jagung Hibrida ITS Senilai Rp10 Miliar
Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi menyahkan akuisisi benih jagung hibrida hasil penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan nilai kontrak Rp10 miliar. Keputusan...
Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi menyahkan akuisisi benih jagung hibrida hasil penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan nilai kontrak Rp10 miliar. Keputusan ini ditetapkan dalam rapat koordinasi bersama Kementerian Riset dan Teknologi pada 15 Oktober 2023 di Jakarta, dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan benih pada program tanam jagung seluas 13.000 hektare di provinsi sentra produksi seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Detil Kontrak dan Penandatanganan Perjanjian
Akuisisi benih dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 45/2023 tentang Pengadaan Benih Tanaman Pangan, dan ditindaklanjuti melalui penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kementan, ITS, dan PT Pertani (Persero) sebagai pelaksana teknis. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, menegaskan bahwa proses pengadaan ini melalui melelang sesuai aturan pengadaan barang dan jasa pemerintah. “Kami memastikan bahwa benih ini memenuhi standar mutu nasional dan siap didistribusikan ke petani guna meningkatkan produktivitas,” ujar Syahrul dalam konferensi pers di kantornya pada 17 Oktober 2023. Nilai kontrak senilai Rp10 miliar mencakup produksi, pengujian, dan pengemasan benih, dengan jadwal penyelesaian pada akhir November 2023.
Berdasarkan data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, benih jagung hibrida ITS memiliki potensi hasil mencapai 8-10 ton per hektare, lebih tinggi 20% dari varietas konvensional. Rektor ITS, Mochamad Ashari, menyatakan bahwa inovasi ini merupakan hasil riset selama lima tahun terakhir. “Benih ini dihasilkan melalui teknologi hibridisasi canggih yang tahan terhadap hama dan kekeringan, sehingga cocok untuk lahan kering di Indonesia bagian timur,” katanya saat penandatanganan. Proses akuisisi ini diawasi oleh Inspektorat Jenderal Kementan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas anggaran.
Signifikansi untuk Kebijakan Ketahanan Pangan
Program pengadaan benih ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mencapai kedaulatan pangan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18/2012 tentang Pangan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam rapat pleno kabinet pada 20 Oktober 2023, menyatakan bahwa investasi pada benih unggul menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan impor jagung. “Dengan benih hibrida ini, kami menargetkan peningkatan produksi jagung nasional sebesar 15% pada tahun 2024, yang akan mendukung kebutuhan pakan ternak dan industri pangan,” tegas Airlangga.
Kementan telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp50 miliar dalam APBN 2024 untuk program serupa, mencakup benih padi, kedelai, dan jagung. Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, menjelaskan bahwa distribusi benih akan dilakukan melalui sistem kupon kepada 26.000 petani penerima manfaat. “Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian daerah untuk memastikan benih sampai tepat waktu dan sesuai kebutuhan lahan,” ujarnya dalam rapat koordinasi dengan pemerintah daerah pada 25 Oktober 2023 di Surabaya. Data dari Kementan menunjukkan bahwa kebutuhan benih jagung nasional mencapai 150.000 ton per tahun, dan inisiatif ini diharapkan dapat memenuhi sekitar 8% dari total kebutuhan tersebut.
Implementasi dan Dampak Jangka Panjang
Pelaksanaan program ini akan dimulai pada musim tanam gadu 2023/2024, dengan penyebaran benih di 13.000 hektare yang tersebar di 15 kabupaten. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyambut baik langkah ini dan menyatakan kesiapan daerahnya sebagai pilot project. “Jawa Timur akan menjadi sentra utama penggunaan benih hibrida ITS, dan kami telah menyiapkan sistem pendampingan bagi petani melalui penyuluh pertanian,” kata Khofifah dalam sambutan di acara sosialisasi di Malang pada 28 Oktober 2023. Sosialisasi melibatkan 500 penyuluh dan perwakilan gapoktan dari seluruh provinsi.
Menurut kajian dari Lembaga Riset Pertanian, penggunaan benih hibrida berkualitas dapat meningkatkan pendapatan petani hingga 30% karena efisiensi biaya produksi dan hasil panen yang lebih tinggi. Kepala Badan Ketahanan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan visi pemerintah untuk swasembada jagung pada tahun 2026. “Kami akan terus memantau realisasi pengadaan benih ini dan melakukan evaluasi berkala untuk memastikan dampak positif bagi kesejahteraan petani,” ujarnya dalam rapat koordinasi dengan Komisi IV DPR RI pada 30 Oktober 2023. Investasi ini juga diharapkan dapat memacu inovasi teknologi pertanian lainnya di perguruan tinggi Indonesia.
Selain aspek teknis, akuisisi benih ini mencerminkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta dalam mendukung industri pertanian nasional. Wakil Menteri Pertanian, Harvick Hasnul Qolbi, menyatakan bahwa kerja sama seperti ini akan diperluas ke komoditas lain pada tahun mendatang. “Kami berencana mengembangkan benih hibrida untuk padi dan kedelai melalui pendekatan serupa, guna memperkuat ketahanan pangan secara holistik,” katanya saat diwawancarai di Jakarta pada 1 November 2023. Langkah ini dianggap strategis dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan yang terus meningkat.
Dengan disahakannya akuisisi ini, Kementan menunjukkan komitmen nyata dalam modernisasi pertanian melalui pemanfaatan riset dalam negeri. Data dari Kementerian Keuangan mengindikasikan bahwa alokasi dana untuk benih unggul telah meningkat 25% dalam tiga tahun terakhir, mencapai Rp200 miliar pada tahun fiskal 2024. Para analis pertanian menilai bahwa kebijakan ini dapat menjadi model bagi negara-negara berkembang lainnya dalam memperkuat sektor pertanian melalui inovasi teknologi.
Comments (0)