Kemenkes Peringatkan Lima Ancaman Penyakit Akibat Gigitan Nyamuk di Rumah

Jakarta, Apaberita – Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa gigitan nyamuk di kawasan permukiman tidak hanya berpotensi menularkan demam berdarah dengue (DBD), tetapi juga empat penyakit infeksius l...

Jul 12, 2026 - 05:33
0 1

Jakarta, Apaberita – Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa gigitan nyamuk di kawasan permukiman tidak hanya berpotensi menularkan demam berdarah dengue (DBD), tetapi juga empat penyakit infeksius lainnya yang selama ini kurang mendapat perhatian publik.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr. Maxi Rein Rondonuwu, dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Vektor, Kamis (12/06/2025) di Jakarta. "Analisis data surveillance kami sepanjang Januari hingga Mei 2025 menunjukkan bahwa selain DBD yang mencapai 68.753 kasus, terdapat pula 1.204 kasus chikungunya, 8.312 kasus malaria, 47 kasus infeksi Zika, dan 83 kasus Japanese encephalitis yang dilaporkan dari 34 provinsi," tegas Maxi.

Angka tersebut, lanjut Maxi, memperlihatkan bahwa ancaman dari vektor nyamuk bersifat multi-penyakit dan memerlukan pendekatan pengendalian yang terpadu.

Lima Penyakit, Satu Vektor: Kenali Gejala Klinis

Kelima penyakit yang dimaksud disebarkan oleh nyamuk dari genus Aedes, Anopheles, dan Culex. Masing-masing memiliki manifestasi klinis yang khas. Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditularkan oleh Aedes aegypti diawali demam tinggi mendadak (39–40°C), nyeri di belakang mata, mual, serta munculnya bintik merah atau ruam pada kulit. Pada fase kritis, terjadi kebocoran plasma yang berisiko menyebabkan syok dan pendarahan.

Chikungunya, juga dibawa oleh Aedes aegypti dan Aedes albopictus, ditandai demam tinggi yang disertai nyeri sendi hebat hingga penderitanya sulit bergerak. Nyeri tersebut bisa bertahan selama berbulan-bulan, mengakibatkan penurunan produktivitas jangka panjang.

Malaria, yang endemik di kawasan timur Indonesia, disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditransmisikan oleh nyamuk Anopheles. Gejalanya berupa demam paroksismal dengan periode menggigil, demam, dan berkeringat, sering kali disertai anemia dan pembesaran limpa.

Infeksi virus Zika, yang sempat menjadi wabah di beberapa negara tropis, membawa risiko serius bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan mikrosefali pada janin. Gejala umumnya berupa demam ringan, ruam, nyeri sendi, dan konjungtivitis non-purulen.

Sementara Japanese encephalitis, yang ditularkan oleh Culex tritaeniorhynchus, merupakan infeksi radang otak dengan tingkat kematian tinggi. "Pasien bisa mengalami kejang, penurunan kesadaran, hingga defisit neurologis permanen. Vaksinasi anak di daerah endemis menjadi prioritas," ujar Maxi.

Strategi Pencegahan Terintegrasi

Maxi menegaskan bahwa program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan pendekatan 3M Plus — menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas, ditambah penggunaan larvasida, kelambu, dan repellent — masih menjadi intervensi esensial di tingkat rumah tangga. "Fogging hanya efektif membunuh nyamuk dewasa, sedangkan larva harus ditangani dengan partisipasi aktif warga," tegasnya.

Untuk malaria, distribusi kelambu berinsektisida (LLIN) dan pengobatan ACT (Artemisinin-based Combination Therapy) diperkuat di 63 kabupaten endemis tinggi. Sementara untuk Japanese encephalitis, imunisasi JE telah dimasukkan ke dalam program vaksinasi wajib anak usia 9 bulan di sembilan provinsi.

Dukungan Politik dan Anggaran

Anggota Komisi IX DPR RI, drg. Sri Rahayu, mengingatkan bahwa tanpa alokasi anggaran yang memadai, pengendalian penyakit tular vektor hanya akan berjalan setengah hati. "Dalam fungsi penganggaran, kami mendorong Kemenkes dan Bappenas untuk memprioritaskan dana APBN 2026 bagi percepatan eliminasi malaria dan pengendalian dengue terintegrasi di 250 kabupaten/kota rawan," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Kemenkes, Jumat (13/06/2025).

Sri Rahayu juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap implementasi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 50 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Vektor. "Aturan itu harus ditegakkan, bukan sekadar dokumen. Sanksi bagi pemda yang lalai mengendalikan vektor di permukiman perlu diperjelas," tegasnya.

Dengan dasar hukum yang telah ada dan peningkatan kasus lima penyakit bawaan nyamuk, Kemenkes menargetkan penurunan insidensi DBD dan malaria sebesar 25 persen pada 2026. "Kunci utamanya adalah sinergi antara pemerintah, legislatif, dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat," tutup Maxi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User