Kemarau Panjang Singkap Jejak Permukiman Tenggelam di Bendungan Karian
Lebak, Apaberita — Ratusan warga di Kecamatan Maja dan sekitarnya menyaksikan pemandangan yang membangkitkan memori kolektif mereka pada Sabtu (24/7/2026). Permukaan air Bendungan Karian yang menyus...
Lebak, Apaberita — Ratusan warga di Kecamatan Maja dan sekitarnya menyaksikan pemandangan yang membangkitkan memori kolektif mereka pada Sabtu (24/7/2026). Permukaan air Bendungan Karian yang menyusut drastis akibat kemarau panjang menampakkan kembali sisa-sisa bangunan, jalanan, dan perkampungan yang telah belasan tahun berada di dasar waduk. Fenomena ini langsung menyedot perhatian publik, mengundang gelombang nostalgia sekaligus keprihatinan atas dampak perubahan iklim di Banten selatan.
Menurut data Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3), elevasi muka air Bendungan Karian pada tanggal 24 Juli 2026 tercatat hanya 88,5 meter di atas permukaan laut (mdpl), turun 12 meter dari ambang normal 100,5 mdpl. Penurunan ini merupakan yang terparah dalam lima tahun terakhir, mengakibatkan tampaknya fondasi rumah, balai desa, dan jalan desa yang dulu menjadi urat nadi kehidupan warga Kampung Karian dan sekitarnya sebelum digenangi pada tahun 2015.
Penyusutan Drastis Akibat Kemarau
Kepala BBWS C3, Ir. H. Dedi Kusnadi, menegaskan bahwa fenomena ini sepenuhnya dipicu oleh rendahnya curah hujan di daerah tangkapan air (DTA) Bendungan Karian sepanjang musim kemarau 2026. “Berdasarkan pantauan kami, debit masuk waduk pada bulan Juli ini hanya 2,3 meter kubik per detik, jauh di bawah rata-rata normal 15 meter kubik per detik. Kondisi ini diperparah oleh tingginya penguapan akibat suhu udara yang mencapai 34 derajat Celsius,” ujar Dedi dalam keterangan tertulis yang diterima Apaberita, Minggu (25/7).
Bendungan Karian yang memiliki kapasitas tampung 314 juta meter kubik ini dibangun pada era 2011-2015 sebagai infrastruktur strategis penyedia air baku bagi Kota Serang, Kabupaten Serang, dan kawasan industri Cilegon. Namun, musim kemarau tahun ini yang diprediksi BMKG akan berlangsung hingga Oktober, membuat volume air efektif waduk menyusut hingga 42 persen, hanya menyisakan 182 juta meter kubik. Dampak visualnya langsung terlihat: hamparan tanah retak, batang pohon kering, dan sisa-sisa permukiman yang biasanya tak terlihat.
Kenangan Warga yang Tergusur
Bagi ratusan eks warga Kampung Karian, pemandangan ini menjadi pemicu kenangan manis dan pahit. Sumirah (58), warga yang kini menetap di Desa Pasir Kembang, tak kuasa menahan tangis saat berdiri di atas teras beton bekas rumahnya. “Rumah ini adalah warisan orang tua saya. Setiap sudutnya penuh cerita. Dulu kami diminta pindah untuk pembangunan, sekarang air yang menutupi kampung kami malah hilang,” tuturnya dengan suara bergetar.
Kampung Karian dan tiga dusun di sekitarnya — Cilutung, Cikopak, dan Panyaungan — direlokasi pada 2014 sebagai bagian dari proyek strategis nasional yang digagas pemerintah pusat. Sekitar 1.200 kepala keluarga dipindahkan ke tempat relokasi yang telah disediakan, lengkap dengan kompensasi lahan dan rumah. Namun, trauma kehilangan ruang hidup tak sepenuhnya hilang. “Anak cucu saya tidak akan pernah bisa menapaki jalan tempat saya bermain dulu. Munculnya kembali kampung ini seperti membuka luka lama,” imbuh Kosim (63), mantan Ketua RW 04 yang kini tinggal di perumahan relokasi Karian Indah.
Sosiolog Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dr. Dwi Lestari, menilai fenomena ini lebih dari sekadar nostalgia. “Re-emergence kampung tenggelam ini merupakan representasi fisik dari belum tuntasnya proses resiliensi warga. Secara sosiologis, tempat bukan hanya ruang fisik, tetapi juga konstruksi identitas dan memori kolektif. Ketika air yang dulu menenggelamkan kini justru menghilang, warga mengalami disorientasi memori yang kompleks,” jelasnya saat dihubungi Apaberita.
Peringatan dari Pengelola Bendungan
Di tengah animo warga yang datang beramai-ramai untuk bernostalgia, pengelola bendungan mengeluarkan peringatan keras. “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak memasuki area kubangan yang baru kering karena struktur tanah sangat labil dan berpotensi amblas. Selain itu, sisa-sisa bangunan yang terbuka dapat membahayakan karena banyak unsur logam tajam dan puing-puing berbahaya,” tegas Manajer Operasional PT. Brantas Abipraya (kontraktor pengelola teknik), Ir. Andi Pramono, dalam konferensi pers di lokasi.
Pihaknya bersama BBWS C3 dan aparat TNI-Polri telah memasang garis pengaman dan rambu peringatan. Petugas gabungan disiagakan selama 24 jam untuk mencegah warga mendekati zona berisiko. Meskipun demikian, rasa penasaran publik sulit dibendung. Data sementara, lebih dari 3.000 pengunjung telah datang sejak Sabtu hingga Minggu sore, mengubah lokasi ini menjadi destinasi spontan yang memicu kerawanan sosial baru.
Kemunculan ekosistem baru ini juga dipantau oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak. Kepala Dinas, Ahmad Yani, memperingatkan potensi ledakan populasi nyamuk dan bakteri patogen di genangan-genangan kecil yang terbentuk di bekas dasar waduk. “Kami sedang melakukan penyemprotan fogging di radius 500 meter dari zona terbuka. Warga diimbau untuk tidak menjadikan lokasi ini sebagai tempat wisata dadakan karena berisiko bagi kesehatan,” katanya.
Refleksi Iklim dan Masa Depan
Fenomena di Bendungan Karian menambah daftar panjang kejadian serupa di sejumlah waduk Tanah Air. Pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, menyebut ini sebagai sinyalemen perubahan iklim yang semakin nyata. “Kemarau panjang ini bukan anomali, melainkan bagian dari siklus yang diprediksi makin sering terjadi. Kita harus mulai serius menghitung ulang neraca air di setiap bendungan, termasuk kemungkinan relokasi permanen jika beberapa waduk tidak bisa lagi memenuhi fungsi idealnya,” paparnya.
Sementara itu, Pemprov Banten melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiagakan armada tank air bersih untuk mengantisipasi kekeringan di daerah hilir. Kepala Pelaksana BPBD Banten, Nana Suryana, memastikan bahwa hingga saat ini pasokan air baku masih terkendali meskipun harus dilakukan pembatasan distribusi ke sektor industri. “Prioritas utama adalah kebutuhan air bersih warga dan pertanian. Kami berkoordinasi intensif dengan BBWS C3 untuk memastikan Bendungan Karian tetap dapat mengalirkan air meski dalam kondisi tanggap darurat kekeringan,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada jadwal pasti kapan air Bendungan Karian akan kembali ke level normal. BMKG memprediksi hujan baru akan turun dengan intensitas cukup pada November mendatang. Bagi warga eks Kampung Karian, jeda waktu sebelum air kembali menenggelamkan kampung mereka berarti tambahan waktu untuk bertandang ke tanah leluhur, sembari meraba-raba masa depan yang tak pasti di tengah ganasnya cuaca.
Comments (0)