Kekeringan Ancam 201 Hektare Sawah di Kabupaten Tangerang
KABUPATEN TANGERANG — Sebanyak 201 hektare lahan sawah di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, terancam mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan yang melanda sepanjang musim kemarau tahun ...
KABUPATEN TANGERANG — Sebanyak 201 hektare lahan sawah di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, terancam mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan yang melanda sepanjang musim kemarau tahun ini. Demikian hasil pendataan sementara Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang yang dihimpun dari sejumlah kecamatan sentra produksi padi.
Kepala DPKP Kabupaten Tangerang menyatakan, angka tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah apabila curah hujan tidak kunjung turun dalam beberapa pekan ke depan. Ia menegaskan, seluruh petugas penyuluh lapangan telah diperintahkan memantau kondisi tanaman padi dan memperbarui data secara berkala.
"Berdasarkan hasil pendataan di lapangan, terdapat sekitar 201 hektare lahan sawah yang masuk kategori terancam puso. Kami terus memantau perkembangan kondisi tanaman padi di seluruh kecamatan dan memperbarui data secara berkala," ujar Kepala DPKP Kabupaten Tangerang dalam keterangannya.
Pendataan Dilakukan di Sejumlah Kecamatan Sentra Padi
Berdasarkan laporan petugas lapangan, lahan sawah yang terdampak kekeringan tersebar di beberapa kecamatan yang selama ini menjadi kantong produksi padi Kabupaten Tangerang, khususnya di wilayah pesisir utara kabupaten tersebut. Sebagian lahan mengalami kekeringan kategori ringan hingga sedang, sementara sebagian lainnya berada pada kondisi kritis dengan tanah retak dan tanaman padi menguning sebelum memasuki masa panen.
DPKP mencatat, kekeringan terjadi lantaran pasokan air irigasi menurun signifikan selama musim kemarau. Saluran irigasi teknis di sejumlah wilayah tidak mampu mengairi lahan sawah secara optimal, sementara sebagian petani mengandalkan sistem tadah hujan yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
"Kondisi debit air di saluran irigasi menurun drastis. Petani yang menanam padi pada akhir musim tanam menjadi kelompok paling rentan karena kebutuhan air tanaman justru meningkat pada fase pengisian bulir," kata Kepala DPKP.
Pemerintah Daerah Salurkan Bantuan Pompa Air
Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui DPKP telah menyalurkan bantuan pompa air kepada kelompok tani di wilayah terdampak. Bantuan tersebut dimaksudkan untuk mengangkat air dari sumber alternatif, seperti sungai dan sumur dalam, guna menyelamatkan tanaman padi yang masih dapat dipulihkan.
Selain pompa air, dinas juga berkoordinasi dengan balai wilayah sungai untuk mengatur pola distribusi air irigasi agar menjangkau lahan-lahan yang paling membutuhkan. Pengaturan gilir giring air dilakukan supaya pasokan yang terbatas dapat dimanfaatkan secara merata oleh para petani.
"Kami telah menindaklanjuti laporan kekeringan dengan menyalurkan bantuan pompa air dan mengatur distribusi air irigasi bersama instansi terkait. Upaya ini difokuskan pada lahan yang masih berpeluang diselamatkan," ujarnya.
DPKP juga mengimbau petani yang lahannya terancam puso untuk segera melapor kepada petugas penyuluh di wilayah masing-masing. Pelaporan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menetapkan langkah lanjutan, termasuk fasilitasi klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bagi petani yang terdaftar sebagai peserta program tersebut.
Antisipasi Dampak terhadap Produksi Pangan Daerah
Kekeringan yang mengancam ratusan hektare sawah tersebut dikhawatirkan berdampak pada produksi gabah Kabupaten Tangerang. Meski demikian, DPKP menegaskan pasokan pangan di wilayah kabupaten sejauh ini masih terkendali karena panen raya pada musim tanam sebelumnya berlangsung dengan hasil yang baik.
Pemerintah daerah, lanjut dia, akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten dan kementerian terkait untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya dampak kekeringan. Langkah adaptif yang disiapkan antara lain penyesuaian pola tanam, percepatan perbaikan jaringan irigasi, serta penyuluhan kepada petani mengenai varietas padi yang lebih toleran terhadap kekeringan.
"Kami menegaskan komitmen untuk menjaga ketahanan pangan daerah. Seluruh jajaran di lapangan diminta aktif memantau kondisi lahan dan mendampingi petani hingga musim hujan tiba," kata Kepala DPKP.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sebelumnya mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah Banten untuk mewaspadai dampak musim kemarau, termasuk kekeringan lahan pertanian dan krisis air bersih. Pemerintah Kabupaten Tangerang pun menyiagakan posko pengaduan bagi petani yang membutuhkan bantuan darurat air untuk lahan sawahnya.
Comments (0)