Kebakaran Hutan dan Lahan Capai 107 Ribu Hektare di Indonesia
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menghanguskan 107 ribu hektare hutan dan lahan di Indonesia pada musim kemarau 2026, dengan Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, menjadi salah satu wilayah...
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menghanguskan 107 ribu hektare hutan dan lahan di Indonesia pada musim kemarau 2026, dengan Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Pada Selasa, 11 Agustus 2026, petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan api yang membakar lahan gambut di daerah tersebut. Luasan itu merupakan akumulasi kebakaran yang tercatat di sejumlah provinsi sejak awal musim kemarau dan menegaskan bahwa karhutla tetap menjadi persoalan nasional yang menuntut koordinasi lintas sektor.
Kalimantan Barat menjadi salah satu fokus utama penanganan karena sebagian besar lahannya merupakan ekosistem gambut yang rentan terbakar. Di Kubu Raya, asap tebal membubung dari sejumlah titik, sementara petugas bekerja membasahi lahan secara bergantian. Karhutla tahun ini terjadi di tengah musim kemarau yang lebih kering dibandingkan periode sebelumnya, sehingga potensi meluasnya kebakaran menjadi perhatian serius pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Pemadaman di Lahan Gambut Berlangsung Berat
Upaya pemadaman di lahan gambut tidak berlangsung singkat. Petugas terus menyiramkan air ke permukaan lahan secara berulang, namun api yang telah menjalar ke lapisan gambut bagian dalam dapat membara dalam waktu lama dan menyala kembali begitu kondisi kering. Kondisi ini menuntut pembasahan berulang, pembuatan sekat kanal, serta patroli rutin untuk mencegah api meluas ke kawasan permukiman dan kebun masyarakat.
"Api pada lahan gambut tidak cukup dipadamkan dari permukaan. Kami harus membasahi hingga ke lapisan dalam agar tidak kembali menyala, dan ini membutuhkan waktu serta dukungan peralatan yang memadai," ujar koordinator pemadaman di lokasi.
Keterbatasan akses dan jarak tempuh menuju titik api menjadi kendala yang kerap dihadapi di lapangan. Sebagian titik berada di kawasan yang hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki atau melalui kanal, sehingga waktu tiba petugas menjadi lebih lama. Meski demikian, penambahan pasukan dan peralatan terus dilakukan seiring meluasnya areal terdampak.
Musim Kemarau Perparah Kerentanan Gambut
Kerentanan lahan gambut terhadap kebakaran meningkat pada musim kemarau, terutama pada lahan yang telah mengalami pengeringan dan tidak dikelola dengan baik. Lapisan gambut yang kering berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar, dan api yang muncul di permukaan dapat merambat cepat saat angin bertiup kencang. Pemantauan titik panas dilakukan secara berkala melalui citra satelit sebagai dasar penetapan status siaga di masing-masing daerah.
Menurut catatan yang beredar di kalangan penanganan kebencanaan, wilayah terdampak tidak hanya terpusat di Kalimantan Barat. Sejumlah provinsi lain di Sumatra dan Kalimantan juga melaporkan kejadian serupa, sehingga pemerintah menetapkan status siaga darurat di beberapa kabupaten. Penetapan status tersebut dilakukan dalam rapat koordinasi yang melibatkan instansi terkait untuk mempercepat mobilisasi sumber daya.
Pemerintah Mengerahkan Seluruh Sumber Daya
Dalam menindaklanjuti meluasnya kebakaran, pemerintah mengerahkan tim pemadam gabungan yang terdiri atas petugas pemadam kebakaran, TNI, Polri, relawan, serta masyarakat sekitar. Operasi udara berupa pembom air juga dijadwalkan untuk membantu pemadaman di titik-titik yang sulit dijangkau dari darat. Selain itu, teknologi modifikasi cuaca disiapkan sebagai upaya mempercepat turunnya hujan di wilayah yang dilanda kebakaran.
Pemerintah menegaskan bahwa penegakan hukum tetap berjalan bagi pihak yang dengan sengaja membakar lahan. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, pelaku pembakaran hutan dan lahan dapat dikenai sanksi pidana maupun denda. Kewajiban pengelola lahan untuk mencegah kebakaran di arealnya juga ditekankan dalam setiap rapat koordinasi tingkat provinsi dan kabupaten.
Dampak dan Kewaspadaan Hingga Akhir Musim Kemarau
Karhutla tahun ini membawa dampak yang meluas. Asap kebakaran mengganggu kesehatan masyarakat, menurunkan kualitas udara, dan mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah bandara. Secara ekologis, kebakaran gambut turut melepas karbon dalam jumlah besar dan merusak habitat satwa, sementara secara ekonomi masyarakat kehilangan lahan produktif dan pendapatan dari hasil kebun.
Sampai akhir musim kemarau, pemerintah daerah diimbau menjaga kewaspadaan dengan memperkuat patroli terpadu dan mempercepat penanganan setiap titik api yang muncul. Koordinasi antara pusat dan daerah, serta keterlibatan masyarakat dalam mencegah pembakaran, dinilai menjadi kunci menekan perluasan karhutla. Dengan luas terdampak yang telah mencapai 107 ribu hektare, perhatian terhadap kebakaran hutan dan lahan tidak boleh kendur hingga musim hujan tiba.
Comments (0)