JAKARTA — Pengusaha teknologi sekaligus pendiri DCI Indonesia, Toto Sugiri, menyatakan kapasitas data center komersial yang beroperasi di Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 200 megawatt (MW). Angka tersebut disampaikan dalam forum Indonesia Knowledge Forum (IKF) XV-2026 yang digelar di Mal Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa (13/10/2026), dan dinilainya masih jauh di bawah kebutuhan riil nasional.
Menurut Toto, kapasitas yang tersedia saat ini memang masih mencukupi untuk melayani permintaan pasar yang ada. Namun ia menegaskan kondisi tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk mengabaikan kesenjangan antara pasokan dan potensi kebutuhan jangka panjang, terutama karena jumlah penduduk Indonesia yang telah menembus sekitar 280 juta jiwa.
“Data center kita memang masih terbelakang dari volume. Totalnya ada aktif adalah sekitar mungkin 200 megawatt, sekarang 200 megawatt itu mencukupi,” ujar Toto dalam forum tersebut.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan Singapura dalam hal kapasitas infrastruktur pusat data, meskipun volume pengguna layanan digital di dalam negeri terus bertumbuh.
Kebutuhan Dasar 2,8 GW Sebelum Era AI
Toto mengungkapkan bahwa sebelum teknologi kecerdasan artifisial berkembang pesat, kebutuhan kapasitas data center Indonesia sudah berada pada kisaran 2,8 gigawatt (GW). Perhitungan tersebut disusun berdasarkan kebutuhan listrik pusat data sebesar 10 hingga 15 watt per kapita untuk melayani seluruh penduduk Indonesia.
Pada saat perhitungan awal dilakukan, jumlah penduduk Indonesia masih diproyeksikan sekitar 260 juta jiwa. Dengan pertambahan penduduk yang kini mencapai sekitar 280 juta jiwa, Toto menilai angka kebutuhan tersebut justru berpotensi meningkat lebih besar lagi.
“Data center waktu itu pun sudah hitungannya dengan 260 juta, sekarang sudah 280 juta penduduk, itu Indonesia butuh 2,8 gigawatt size data center tanpa AI,” katanya.
Ia menambahkan, kesenjangan antara kebutuhan 2,8 GW dan kapasitas terpasang 200 MW menjadi persoalan struktural yang perlu ditindaklanjuti secara serius oleh para pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun pelaku industri.
AI Dorong Lonjakan Kebutuhan Hingga Empat Kali Lipat
Perkembangan teknologi AI, menurut Toto, akan semakin memperbesar tekanan terhadap kebutuhan kapasitas pusat data nasional. Ia memperkirakan kebutuhan tersebut dapat meningkat minimal empat kali lipat dibandingkan kondisi sebelum AI berkembang.
“Dengan AI, itu easily kita bilang, kita katakan, silakan kali minimum 4 kali. Minimal naik 4 kali dari situ, minimal,” sebutnya.
Lonjakan itu, lanjut Toto, tidak terlepas dari besarnya konsumsi energi yang dibutuhkan untuk menjalankan layanan berbasis AI. Ia memberikan perbandingan bahwa satu pencarian melalui mesin pencari konvensional memerlukan sekitar 0,3 watt-hour energi di pusat data, sedangkan satu permintaan melalui layanan AI seperti ChatGPT membutuhkan sekitar 3 watt-hour.
“Satu Google search membutuhkan listrik di data center sekitar 0,3 watt-hour. Satu ChatGPT butuhnya 3 watt-hour, 10 kali lipat lebih. Sebetulnya kan begitu,” terang Toto.
Berdasarkan data tersebut, ia menilai wacana penolakan terhadap pembangunan pusat data perlu dikaji ulang secara proporsional. Menurutnya, tanpa pengembangan infrastruktur yang memadai, Indonesia berisiko tertinggal dalam penguasaan teknologi dan layanan digital di masa depan.
Dorongan Pembangunan Infrastruktur Digital
Dalam forum yang sama, Toto mempertanyakan arah kebijakan nasional apabila muncul banyak suara negatif terhadap keberadaan pusat data. Ia menilai keberadaan infrastruktur tersebut merupakan prasyarat bagi kedaulatan digital dan daya saing ekonomi nasional.
Pandangan tersebut memperkuat urgensi penyusunan peta jalan kapasitas pusat data nasional, termasuk penyediaan pasokan listrik yang andal dan ramah lingkungan. Pasalnya, selisih antara kapasitas terpasang 200 MW dan kebutuhan hingga 2,8 GW atau lebih menuntut investasi besar, perencanaan tata ruang, serta kepastian regulasi lintas sektor.
Dengan populasi sekitar 280 juta jiwa dan penetrasi layanan digital yang terus meningkat, kebutuhan pusat data nasional diproyeksikan tidak dapat dipenuhi hanya melalui kapasitas eksisting. Pernyataan Toto dalam IKF XV-2026 menegaskan bahwa pengembangan kapasitas pusat data harus diposisikan sebagai agenda strategis, bukan semata persoalan komersial.
Comments (0)