Kampung Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Kembali Saat Kemarau
Lebak, Banten – Ribuan hektare permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak menyusut tajam akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Peristiwa ini membawa pemandangan yang tak lazim: sisa-sisa...
Lebak, Banten – Ribuan hektare permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak menyusut tajam akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Peristiwa ini membawa pemandangan yang tak lazim: sisa-sisa sebuah perkampungan yang telah puluhan tahun terendam kembali muncul ke permukaan. Fondasi rumah, jalan beton, sumur, dan tanggul batu kini terhampar kering di atas tanah retak, menandai lokasi desa yang dulu ramai dihuni sebelum proyek bendungan raksasa itu menenggelamkannya.
Kenangan yang Terkubur Air
Kampung yang kini dikenal sebagai "kampung hilang" itu dulunya adalah sebuah permukiman padat penduduk bernama Kampung Cikaret, bagian dari Desa Karian. Proyek pembangunan Bendungan Karian yang dimulai awal dekade 2000-an memaksa seluruh warga direlokasi ke lahan pengganti yang disediakan pemerintah. Ketika penggenangan dimulai tahun 2022, sedikit demi sedikit rumah, sawah, kebun, dan fasilitas umum tenggelam. Kini, di tengah kemarau, air surut hingga 12 meter dari ambang normal, menyingkap area seluas sekitar 18 hektare dari dasar waduk.
Sukardi (61), warga yang kini menetap di Desa Cimarga, tak bisa menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca saat menatap bekas pondasi rumahnya. “Saya dibesarkan di sini. Pohon jambu di pojokan itu dulu tempat saya berteduh sepulang sekolah,” ujarnya dengan suara bergetar. Ia dan puluhan mantan penghuni lain rela berjalan sejauh dua kilometer di atas lumpur kering hanya untuk bernostalgia. Sebagian membawa kamera, sebagian lagi hanya duduk termenung di atas bongkahan beton yang dulu adalah teras depan rumah mereka.
Debit Air dan Ancaman Kekeringan
Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3) mencatat volume air Bendungan Karian pada akhir Juli 2026 hanya tersisa 47 persen dari kapasitas total 314,7 juta meter kubik. Penurunan ini merupakan yang paling ekstrem dalam empat tahun terakhir, didorong oleh dampak El Niño moderat yang mengurangi curah hujan di Daerah Aliran Sungai Ciujung hingga 60 persen di bawah normal.
Kepala BBWS C3, Ir. Haris Supriyadi, M.T., dalam keterangannya menegaskan bahwa situasi ini belum memasuki kategori darurat, tetapi kewaspadaan ditingkatkan. “Kami terus memantau elevasi muka air dan berkoordinasi dengan Perum Jasa Tirta II selaku operator. Prioritas utama adalah menjaga pasokan air baku bagi Serang, Cilegon, dan sebagian Kabupaten Tangerang, serta mendukung irigasi 22 ribu hektare sawah,” jelasnya. Meski begitu, reruntuhan kampung yang mencuat menjadi pengingat keras tentang betapa ekstremnya siklus hidrologi tahun ini.
Bendungan Strategis di Bawah Tekanan Iklim
Bendungan Karian diresmikan Presiden Joko Widodo pada 15 Desember 2022 sebagai bendungan serbaguna dengan fungsi utama penyediaan air baku, irigasi, pengendalian banjir, dan pembangkit listrik mikrohidro. Namun, kemunculan kembali perkampungan yang tenggelam memunculkan diskusi tentang ketahanan iklim dan desain operasional waduk di era cuaca ekstrem. Sejumlah akademisi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa menyerukan evaluasi model pengelolaan air serta kemungkinan pengerukan sedimen agar kapasitas tampung tetap optimal.
Di sisi lain, fenomena ini menjadi magnet bagi wisatawan lokal yang mencari lokasi foto eksotik. Beberapa orang mendatangi bekas sumur yang masih memancarkan sisa-sisa air, sementara yang lain mengamati sisa-sisa batang pohon yang menghitam. Pemerintah Kabupaten Lebak mengimbau pengunjung agar berhati-hati dan tidak mengambil artefak apapun dari lokasi. “Ini adalah situs yang sarat memori dan kami ingin agar nilai sejarahnya tetap dihormati,” ujar Sekretaris Daerah Lebak, H. Dede Jaelani, usai meninjau lokasi.
Nostalgia dan Harapan
Seorang sejarawan lokal, Muhtar Sanusi, menyebut kemunculan ini sebagai "arsip alam" yang memungkinkan generasi muda melihat langsung topografi asli sebelum bendungan dibangun. Ia mendokumentasikan temuan-temuan itu untuk arsip museum desa. Sementara itu, mantan kepala dusun Cikaret, Jamhari (73), yang ikut memimpin proses relokasi, menyampaikan bahwa pengalaman ini membuatnya ikhlas namun tetap haru. “Dulu kami menangis saat air datang. Sekarang, saat tanah ini kembali tampak, air mata kami menetes lagi, tapi kali ini karena ingatan yang manis,” tuturnya.
Jika kemarau terus berlanjut dan hujan belum turun dalam dua bulan mendatang, area yang tersingkap bisa bertambah hingga 25 hektare. BBWS C3 bersama BMKG memprediksi musim hujan baru akan tiba pada awal November 2026, sehingga pemandangan kampung tenggelam ini diperkirakan masih akan terlihat setidaknya hingga pertengahan Oktober. Warga setempat berharap agar kenangan fisik ini bisa diabadikan dengan baik sebelum limpasan air hujan kembali menyembunyikan semuanya di dasar waduk.
Comments (0)