Jenazah Dokter Internship yang Jatuh dari Apartemen Jaksel Dibawa ke Makassar
JAKARTA — Jenazah seorang dokter internship berinisial SZM yang ditemukan tewas setelah terjatuh dari lantai 18 sebuah apartemen di kawasan Jakarta Selatan pada Jumat dini hari telah diterbangkan ol...
JAKARTA — Jenazah seorang dokter internship berinisial SZM yang ditemukan tewas setelah terjatuh dari lantai 18 sebuah apartemen di kawasan Jakarta Selatan pada Jumat dini hari telah diterbangkan oleh pihak keluarga menuju Kota Makassar, Sulawesi Selatan, untuk dimakamkan di tanah kelahirannya. Proses pemulasaraan dan evakuasi jenazah rampung dilaksanakan pada Sabtu petang setelah pihak kepolisian menyelesaikan rangkaian identifikasi dan pemeriksaan awal di lokasi kejadian.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Selatan, Komisaris Besar Irwandy Idrus, menegaskan bahwa penyidik masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi dan menganalisis rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi untuk merekonstruksi detik-detik menjelang peristiwa nahas tersebut. “Kami belum dapat menyimpulkan apakah ini murni kecelakaan, tindak pidana, atau faktor lain. Saat ini statusnya masih dalam penyelidikan intensif,” ujar Irwandy dalam keterangan resmi yang disampaikan di Markas Polres Jakarta Selatan.
Kronologi Penemuan dan Identifikasi Awal
Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, jasad dr SZM pertama kali ditemukan oleh petugas keamanan apartemen yang tengah melakukan patroli rutin pada Jumat sekitar pukul 03.15 WIB. Petugas tersebut mendapati sosok perempuan dalam kondisi tidak bernyawa di area taman bagian belakang gedung. Laporan segera diteruskan ke kantor polisi sektor setempat, dan dalam waktu kurang dari dua puluh menit, tim identifikasi dari Polres Jakarta Selatan telah tiba untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.
Hasil identifikasi awal memastikan bahwa korban merupakan dokter muda yang sedang menjalani program internship di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Pusat. Dokter SZM diketahui tinggal di apartemen tersebut bersama seorang rekan sesama dokter internship. Rekan korban yang dimintai keterangan oleh penyidik mengaku terkejut dan tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi karena saat kejadian ia sedang bertugas jaga malam di rumah sakit.
Respons Institusi Pendidikan dan Rumah Sakit
Pihak fakultas kedokteran asal korban di Makassar menyampaikan belasungkawa mendalam melalui pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan. Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin membenarkan bahwa dr SZM merupakan alumnus yang lulus pada tahun 2024 dan sedang menjalani masa internship sebagai bagian dari syarat memperoleh Surat Tanda Registrasi Dokter penuh. “Kami sangat kehilangan. Almarhumah dikenal sebagai mahasiswi yang berprestasi dan berdedikasi tinggi,” demikian pernyataan yang dikutip pada Sabtu sore.
Rumah sakit tempat korban menjalani internship juga mengeluarkan pernyataan resmi. Direktur Utama rumah sakit tersebut, dr Hendra Wijaya, menyatakan bahwa manajemen rumah sakit tengah berkoordinasi penuh dengan pihak kepolisian dan keluarga korban. “Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan memberikan dukungan penuh kepada keluarga almarhumah, termasuk dalam proses pemulangan jenazah ke Makassar,” ujarnya.
Keluarga Tolak Autopsi dan Bawa Jenazah ke Makassar
Pihak keluarga yang tiba di Jakarta pada Jumat siang langsung berkoordinasi dengan kepolisian dan manajemen apartemen. Setelah melalui musyawarah internal, keluarga menyatakan menolak dilakukannya autopsi terhadap jenazah dr SZM. “Kami sudah ikhlas dan menerima kepergian ananda sebagai takdir. Kami tidak ingin jenazah diperlakukan lebih lanjut dan meminta agar segera dapat dibawa pulang ke Makassar untuk disemayamkan secara layak,” ujar juru bicara keluarga, Andi Rasyid, yang merupakan paman korban.
Permohonan tersebut dikabulkan oleh penyidik setelah pihak keluarga menandatangani surat pernyataan penolakan autopsi. Jenazah kemudian diberangkatkan dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta menggunakan maskapai penerbangan nasional pada Sabtu pukul 19.30 WIB dan diperkirakan tiba di Makassar pada malam harinya. Prosesi pemakaman direncanakan akan dilaksanakan pada Ahad pagi di pemakaman keluarga di Kabupaten Gowa.
Sementara itu, kepolisian memastikan bahwa penolakan autopsi tidak serta-merta menghentikan proses penyelidikan. “Penyelidikan tetap berjalan. Kami masih mengumpulkan bukti-bukti pendukung lainnya, termasuk keterangan saksi-saksi baru dan hasil analisis digital forensik terhadap gawai milik korban,” tegas Komisaris Besar Irwandy. Penyidik juga tengah menelusuri riwayat komunikasi dan aktivitas korban dalam kurun waktu dua puluh empat jam sebelum kejadian.
Tekanan Psikologis dan Evaluasi Program Internship
Peristiwa ini turut memantik diskusi di kalangan organisasi profesi kedokteran mengenai beban kerja dan tekanan psikologis yang dihadapi dokter internship. Ikatan Dokter Indonesia wilayah DKI Jakarta dalam pernyataannya mendesak agar rumah sakit penyelenggara program internship lebih memperhatikan aspek kesehatan mental para peserta. “Ini momentum bagi kita semua untuk mengevaluasi sistem pendampingan dan pengawasan selama masa internship berlangsung,” ujar perwakilan IDI DKI Jakarta.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum menetapkan tersangka ataupun menyimpulkan penyebab pasti kematian dr SZM. Masyarakat diimbau untuk tidak berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada aparat berwenang. Jenazah dr SZM kini telah berada di Makassar dan akan segera dimakamkan dengan dihadiri oleh keluarga besar serta rekan-rekan sejawat dari fakultas kedokteran almamaternya.
Comments (0)