Data Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) menunjukkan bahwa total realisasi pemanfaatan biodiesel mencapai
12,2 juta kiloliter dari alokasi yang ditetapkan sebesar 13,15 juta kiloliter untuk tahun 2023. Capaian ini merepresentasikan
92,8 persen dari target tahunan, dengan rata-rata serapan bulanan berada pada kisaran 1,02 juta kiloliter. Penyaluran tertinggi tercatat pada bulan Agustus 2023 yang menembus
1,18 juta kiloliter, didorong oleh peningkatan aktivitas logistik dan distribusi bahan bakar menjelang kuartal akhir.
Program mandatori biodiesel dengan komposisi
35 persen (B35) mulai diberlakukan secara nasional sejak
1 Februari 2023, meningkat dari skema B30 yang berjalan sejak 2020. Peningkatan persentase campuran ini menambah permintaan bahan baku nabati, terutama minyak sawit, yang menjadi komponen utama biodiesel dalam negeri. Kementerian ESDM memperkirakan bahwa implementasi B35 menyerap tambahan
1,2 juta ton minyak sawit per tahun dibandingkan skema sebelumnya.
Dampak Ekonomi dan Penghematan Devisa
Penghematan devisa sebesar Rp38,31 triliun berasal dari substitusi impor solar konvensional dengan biodiesel berbasis minyak sawit produksi dalam negeri. Dengan asumsi harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar
78 dolar AS per barel sepanjang 2023, setiap kiloliter biodiesel yang disalurkan berkontribusi pada penghematan devisa sekitar
3,14 juta rupiah. Total penghematan kumulatif sejak program mandatori dimulai pada 2018 kini telah melampaui
Rp200 triliun.
“Program biodiesel ini bukan sekadar kebijakan energi, melainkan instrumen fiskal yang sangat efektif untuk menjaga neraca perdagangan,” ujar Dr. Ahmad Faisal, ekonom energi dari Universitas Indonesia, saat dihubungi terpisah. Ia menambahkan bahwa efek berganda dari program ini juga dirasakan oleh sektor perkebunan dan industri pengolahan minyak sawit yang menyerap
lebih dari 1,5 juta tenaga kerja langsung di sepanjang rantai pasok.
Perbandingan Realisasi Biodiesel 2022–2023
| Indikator | Tahun 2022 (B30) | Tahun 2023 (B35) | Perubahan |
| Target Alokasi | 11,03 juta KL | 13,15 juta KL | +19,2% |
| Realisasi Penyaluran | 10,45 juta KL | 12,2 juta KL | +16,7% |
| Persentase Campuran | 30% | 35% | +5 poin |
| Penghematan Devisa | Rp32,8 T | Rp38,31 T | +16,8% |
| Serapan CPO Tambahan | — | 1,2 juta ton | Baru |
Tantangan dan Proyeksi 2024
Kendati realisasi menunjukkan tren positif, sejumlah tantangan masih membayangi. Fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global berpotensi memengaruhi keekonomian produsen biodiesel, mengingat selisih harga indeks pasar (HIP) biodiesel terhadap solar masih memerlukan dukungan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Sepanjang 2023, BPDPKS telah menyalurkan insentif senilai
Rp15,6 triliun kepada 22 badan usaha penerima alokasi.
Pemerintah tengah mengkaji peningkatan mandatori ke B40 yang ditargetkan mulai diujicobakan pada pertengahan 2024. Uji jalan dan uji ketahanan mesin masih berlangsung, melibatkan
delapan pabrikan otomotif dan
tiga lembaga penelitian, termasuk Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas). Jika implementasi B40 berjalan sesuai rencana, kebutuhan biodiesel domestik diperkirakan melonjak ke
15,8 juta kiloliter per tahun dengan tambahan serapan CPO mencapai
2,1 juta ton.
Direktur Bioenergi Kementerian ESDM menyatakan bahwa kesiapan infrastruktur pencampuran dan tangki timbun di
114 titik terminal BBM menjadi prasyarat utama sebelum B40 diterapkan secara penuh. “Kami optimistis, tapi kehati-hatian tetap dikedepankan agar tidak mengorbankan kualitas dan keandalan mesin pengguna,” tegasnya dalam konferensi pers virtual, Senin (12/2).
Dengan tren realisasi yang konsisten meningkat, biodiesel diproyeksikan tetap menjadi tulang punggung bauran energi baru terbarukan Indonesia, setidaknya hingga teknologi elektrifikasi transportasi mencapai skala ekonomi yang memadai di pasar domestik.
Comments (0)