Jakarta — Purbaya Minta Tanyakan BI Soal Rupiah Tembus Rp 18.000
Aula Gedung DPR RI bergema dengan deru langkah para pejabat yang baru saja menyelesaikan rapat kerja. Pagi itu, Rabu (8/7/2026), Menteri Keuangan Purbaya Y
Aula Gedung DPR RI bergema dengan deru langkah para pejabat yang baru saja menyelesaikan rapat kerja. Pagi itu, Rabu (8/7/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melangkah keluar dengan langkah cepat, rompi gelapnya menjadi penanda yang dikenali kerumunan wartawan. Pertanyaan yang paling pertama meluncur bukan tentang postur anggaran atau utang negara, melainkan satu isu yang sedang meresahkan: mengapa nilai tukar Rupiah kembali tertekan dan sempat menyentuh angka Rp 18.000 per Dolar Amerika Serikat?
Ekspektasi akan penjelasan panjang dari sang menteri pupus seketika. Purbaya — yang dikenal kerap memberi komentar ekspansif — justru tampak enggan berkomentar. Jawabannya singkat, terlontar hampir tanpa jeda, tetapi justru menyiratkan arah kewenangan yang jelas.
Pertanyaan Mengarah ke Bank Indonesia
Senyum tipis mengiringi kalimat pembuka Purbaya. Ia sama sekali tidak mengulas penyebab atau dampak depresiasi, melainkan langsung menunjuk otoritas moneter.
"Oh itu tanyakan ke bank sentral kita lah. Saya pikir bank sentral ngerti lah," ujar Purbaya seraya terus berjalan melewati kerumunan.
Pernyataan itu langsung menciptakan jeda sejenak. Para pewarta yang semula berebut mikrofon seolah memahami: Menteri Keuangan tidak ingin menjelaskan urusan yang berada di luar domain kebijakan fiskal. Isyaratnya tegas — penanganan nilai tukar adalah ranah Bank Indonesia (BI), bank sentral yang memiliki amunisi intervensi dan instrumen moneter.
Bagi sebagian pengamat, jawaban ini bukan sekadar pelimpahan tanggung jawab. Ini adalah sinyal bahwa Kementerian Keuangan tidak akan mengintervensi diskursus stabilitas nilai tukar yang tengah panas di pasar. Dengan pola komunikasi seperti ini, pasar mendapat kepastian bahwa kebijakan fiskal dan moneter tetap berjalan di jalurnya masing-masing.
Konteks Pelemahan Rupiah di Pasar
Pada sesi perdagangan pagi menjelang siang, nilai tukar Rupiah tercatat menyentuh level Rp 18.005 per Dolar AS — titik terlemah dalam beberapa bulan terakhir. Tekanan datang seiring menguatnya Dolar AS secara global menyusul data tenaga kerja Amerika yang lebih kuat dari perkiraan, serta meningkatnya probabilitas penundaan pemangkasan suku bunga The Fed.
Dalam dua pekan terakhir, Rupiah memang sudah menunjukkan kecenderungan melemah. Dari posisi Rp 17.600-an, mata uang Garuda perlahan terkikis hingga menembus level psikologis Rp 18.000. Situasi ini memicu kekhawatiran tentang potensi lonjakan inflasi impor, terutama untuk bahan baku industri dan energi yang harganya dalam denominasi dolar.
Meski demikian, pelemahan ini bukan semata cermin fundamental domestik. Sebagian besar mata uang Asia, termasuk Baht Thailand dan Peso Filipina, juga mencatat depresiasi serupa. Namun begitu, tembusnya level Rp 18.000 tetap menjadi alarm bagi publik yang masih mengingat trauma krisis sebelumnya.
Respons Bank Indonesia dan Analisis Pasar
Meskipun Purbaya enggan berkomentar, sumber internal Bank Indonesia mengonfirmasi bahwa bank sentral sudah melakukan intervensi ganda — di pasar valas domestik dan melalui pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder — untuk meredam volatilitas. Langkah ini dijuluki sebagai "triple intervention" oleh para analis karena melibatkan operasi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian obligasi.
Gubernur BI yang sebelumnya menyatakan akan menempuh langkah stabilisasi, diperkirakan esok hari akan merilis data cadangan devisa untuk memberi sinyal kekuatan amunisi intervensi. Pasar menanti apakah BI akan lebih agresif menahan Rupiah di bawah Rp 18.000 atau justru membiarkan level baru ini sebagai titik keseimbangan sementara.
Penolakan Purbaya untuk berkomentar justru menghindarkan pasar dari kebisingan spekulatif. Fokus kini tertuju pada rapat dewan moneter BI yang akan menentukan apakah suku bunga acuan perlu dinaikkan lagi. Jika ya, maka sinyal hawkish itu bisa menjadi rem bagi laju pelemahan Rupiah. Hingga sore ini, kurs di pasar forward tercatat masih stabil di rentang Rp 17.990–Rp 18.010, mengindikasikan pelaku pasar menunggu langkah konkret, bukan sekadar komentar pejabat.
Pantauan di Gedung DPR memperlihatkan Purbaya berlalu begitu saja, meninggalkan satu pesan tanpa tendensi: urusan fiskal tetap berjalan, urusan moneter jangan dicampuradukkan. Sebuah batas kewenangan yang digariskan rapi di tengah turbulensi pasar yang tak kunjung reda.
Comments (0)