Iran Umumkan Penutupan Total Selat Hormuz Tanpa Batas Waktu

Teheran, Apaberita — Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi mengumumkan penutupan total Selat Hormuz terhadap seluruh lalu lintas pelayaran internasional mulai Kamis dini hari ...

Jul 12, 2026 - 18:38
0 0
Iran Umumkan Penutupan Total Selat Hormuz Tanpa Batas Waktu

Teheran, Apaberita — Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi mengumumkan penutupan total Selat Hormuz terhadap seluruh lalu lintas pelayaran internasional mulai Kamis dini hari waktu setempat, tanpa menetapkan tenggat waktu pencabutan. Keputusan ini diumumkan melalui pernyataan resmi IRGC yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran.

Dalam pernyataan tersebut, Komandan Angkatan Laut IRGC Laksamana Muda Shahram Irani menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai respons terhadap eskalasi ancaman keamanan di kawasan Teluk Persia dan untuk menjaga kedaulatan wilayah Iran. “Selat Hormuz akan ditutup bagi seluruh kapal asing, termasuk kapal tanker minyak, hingga pemberitahuan lebih lanjut. Ini adalah keputusan strategis yang diambil berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap situasi geopolitik terkini,” ujar Irani.

Penutupan ini langsung memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan jalur maritim paling vital di dunia. Sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak mentah global melewati selat ini setiap hari, menghubungkan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab ke pasar dunia. Setiap gangguan terhadap arus lalu lintas di titik sempit ini dapat memicu lonjakan harga minyak internasional secara dramatis.

Kronologi Eskalasi

Keputusan penutupan Selat Hormuz tidak terjadi tiba-tiba. Dalam tiga pekan terakhir, terjadi peningkatan signifikan aktivitas militer Iran di sekitar selat. IRGC mengerahkan puluhan kapal cepat bersenjata dan rudal pantai di sepanjang garis pantai selatan Iran. Latihan maritim skala besar bertajuk “Mihrab-e Velayat” juga digelar di perairan Teluk Oman dan Selat Hormuz sejak minggu lalu, yang melibatkan kapal selam dan drone tempur.

Selain itu, Menteri Luar Negeri Iran sebelumnya telah menyampaikan peringatan bahwa setiap provokasi oleh “kekuatan ekstra-regional” akan mendapat balasan setimpal. Menurut analis politik, ketegangan ini dipicu oleh penolakan Iran terhadap kehadiran kapal perang Amerika Serikat di Teluk Persia, serta upaya Teheran untuk menekan sanksi ekonomi yang kembali diperketat oleh Washington.

Respons Internasional

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat melalui juru bicaranya menyatakan “keprihatinan mendalam” atas penutupan ini dan menyebutnya sebagai “tindakan ilegal yang melanggar kebebasan navigasi.” AS telah mengirimkan kapal induk USS Ronald Reagan yang sedang berpatroli di Samudera Hindia untuk mendekat ke kawasan Teluk Oman sebagai langkah antisipasi. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak semua pihak menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi.

Di sisi lain, Rusia dan Tiongkok mengkritik langkah Barat yang dinilai ikut memprovokasi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan bahwa “situasi ini harus diselesaikan melalui mekanisme dialog regional tanpa campur tangan pihak luar.” Harga minyak mentah Brent langsung melonjak 8,7 persen dalam perdagangan elektronik pasca-pengumuman, menyentuh level $107 per barel sebelum sedikit mereda.

Reaksi Negara Teluk dan OPEC

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua produsen minyak utama yang akses ekspornya paling terpengaruh, menggelar pertemuan darurat untuk membahas alternatif rute pengiriman. Otoritas Pelabuhan Fujairah di UEA langsung meningkatkan kapasitas penampungan karena banyak kapal tanker yang terpaksa menunggu di luar selat. Sementara itu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam pernyataan tertulis menyatakan kesiapannya untuk “mengaktifkan mekanisme penyesuaian produksi guna menstabilkan pasar jika gangguan berlangsung lebih dari satu minggu.”

Analisis Dampak Ekonomi

Penutupan Selat Hormuz tanpa batas waktu akan memberikan pukulan telak bagi perekonomian global yang masih dalam pemulihan pascapandemi. Ekonom senior Bank Dunia memproyeksikan bahwa jika penutupan berlangsung lebih dari sepekan, harga minyak bisa menembus $130 per barel dan memicu inflasi global dua digit. Negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan India yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah akan paling terdampak.

Selain minyak, Selat Hormuz juga menjadi jalur utama pengiriman LNG dari Qatar. Penutupan ini akan mengganggu rantai pasok energi di musim dingin mendatang. Pelaku industri pelayaran global telah mengaktifkan rencana kontingensi, termasuk mengalihkan rute melewati tanjung Afrika Selatan, namun opsi itu akan menambah waktu tempuh hingga dua pekan dan meningkatkan biaya logistik secara signifikan. Pasar asuransi pengapalan London (Lloyd’s) segera menaikkan premi risiko perang untuk kapal yang beroperasi di kawasan Teluk hingga 300 persen, menambah beban biaya bagi pemilik kapal.

Reaksi Domestik Iran

Di dalam negeri, pemerintah menyatakan bahwa penutupan ini mendapat dukungan penuh dari parlemen dan rakyat Iran. Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, melalui pernyataannya menyebut langkah ini sebagai “tindakan patriotik untuk menjaga martabat bangsa.” Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan bahwa rapat gabungan antara Dewan Keamanan Nasional dan pimpinan militer telah menyetujui penutupan ini secara aklamasi pada Selasa malam.

Namun, beberapa pengamat menilai keputusan ini adalah upaya Iran untuk meningkatkan posisi tawarnya dalam negosiasi nuklir yang sedang berlangsung dengan kekuatan dunia. Dengan menutup akses pasokan minyak vital, Iran ingin menunjukkan bahwa sanksi ekonomi terhadapnya juga akan berbalik merugikan pihak yang menerapkan sanksi.

Sementara itu, belum ada informasi resmi tentang kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali. Seorang pejabat senior IRGC yang menolak disebutkan namanya hanya menyatakan bahwa “pencabutan penutupan akan bergantung pada perkembangan situasi di lapangan dan jaminan keamanan yang memadai.”

Dengan bergulirnya hari tanpa tanda-tanda pelonggaran, dunia kini menatap krisis energi yang kian membayangi. Langkah-langkah darurat kemungkinan akan segera dibahas dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB akhir pekan ini.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User