Iran Tegaskan Negosiasi dengan AS Terhenti, Selat Hormuz Belum Dibuka
TEHERAN — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan perundingan langsung antara Teheran dan Washington belum dapat dilanjutkan, menyusul tudingan bahwa Amerika Serikat melanggar kesepakatan...
TEHERAN — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan perundingan langsung antara Teheran dan Washington belum dapat dilanjutkan, menyusul tudingan bahwa Amerika Serikat melanggar kesepakatan perdamaian sementara yang ditandatangani kedua pihak pada Juni lalu. Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui televisi pemerintah Iran pada Minggu (9/8), sekaligus memperpanjang ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak dan gas paling strategis di dunia.
Sikap keras Teheran ini menjadi kemunduran signifikan dalam proses diplomatik kedua negara. Sebelumnya, Araghchi menyatakan kesepakatan pembentukan jalur pelayaran sementara di selat tersebut telah berada sangat dekat dengan tahap finalisasi. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan kedua negara masih berjauhan dalam menyepakati mekanisme pembukaan kembali jalur yang selama ini menjadi urat nadi pasokan energi global.
Iran Tuding Washington Langgar Nota Kesepahaman
Araghchi menyatakan, peluang untuk kembali ke meja perundingan sepenuhnya bergantung pada langkah Washington memperbaiki pelanggaran terhadap nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang telah disepakati. Ia menegaskan Teheran tidak akan menindaklanjuti proses negosiasi selama pelanggaran tersebut masih berlangsung.
"Selama pelanggaran Amerika terhadap MoU terus berlanjut dan AS tidak memperbaiki pelanggarannya, tidak ada kemungkinan untuk melanjutkan kembali negosiasi," kata Araghchi.
Kendati demikian, Menteri Luar Negeri Iran itu tidak merinci bentuk pelanggaran yang dimaksud. Pemerintah Amerika Serikat juga belum memberikan tanggapan resmi atas tudingan tersebut hingga berita ini disusun.
Teheran Ajukan Sejumlah Syarat Pembukaan Selat
Sebelumnya, pada Sabtu (8/8), pemerintah Iran kembali mengajukan sejumlah tuntutan kepada Washington sebagai prasyarat pembukaan penuh Selat Hormuz. Langkah itu mengindikasikan bahwa normalisasi pasokan minyak dan gas dunia melalui jalur tersebut diperkirakan belum akan terwujud dalam waktu dekat.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik ketegangan utama dalam konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang pecah pada akhir Februari lalu. Penyempitan akses pelayaran di kawasan itu telah menimbulkan kekhawatiran luas terhadap stabilitas harga energi global, mengingat sebagian besar ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk Persia harus melintasi perairan tersebut.
Trump Ancam Serangan Baru, Vance Sebut Ada Kemajuan
Di pihak Amerika Serikat, Presiden Donald Trump berulang kali mendesak agar pelayaran melalui Selat Hormuz segera dibuka kembali. Trump bahkan beberapa kali mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi Teheran.
Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance pada Sabtu (8/8) menyatakan terdapat kemajuan dalam proses negosiasi yang tengah berjalan. Namun, ia mengakui belum dapat memastikan apakah hasil pembicaraan tersebut akan memenuhi kepentingan Washington. Menurut Vance, pertanyaan utama saat ini adalah apakah Iran mampu memberikan hal-hal yang diperlukan dalam kesepakatan.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti bagaimana sikap resmi pemerintahan Trump apabila kesepakatan dengan Iran benar-benar tercapai, termasuk mekanisme pengawasan dan jaminan keamanan pelayaran di kawasan Teluk.
Ketegangan Meluas, Kilang Aramco di Jizan Diserang
Di tengah kebuntuan diplomatik, situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap kilang minyak Jizan milik Saudi Aramco di Arab Saudi. Sebelumnya, otoritas Saudi melaporkan terjadinya kebakaran di fasilitas energi tersebut.
Peristiwa itu terjadi di tengah upaya kedua negara menyelesaikan sengketa melalui jalur perundingan. Klaim serangan tersebut sekaligus menandai meluasnya ketegangan kawasan yang telah berlangsung sejak konflik terbuka antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pecah pada akhir Februari.
Dengan belum adanya titik temu antara Teheran dan Washington, pembukaan kembali Selat Hormuz diperkirakan masih akan tertunda. Kondisi ini berpotensi menahan laju normalisasi pasokan minyak dan gas dunia yang terganggu akibat konflik berkepanjangan di kawasan Teluk Persia.
Comments (0)