Iran Klaim Hancurkan Pangkalan Udara AS di Kuwait, Qatar, dan Bahrain

Teheran, Rabu (12/4) — Militer Iran menyatakan telah meluncurkan serangan rudal presisi terhadap tiga pangkalan udara milik Amerika Serikat di wilayah Teluk, yaitu di Kuwait, Qatar, dan Bahrain, pad...

Jul 13, 2026 - 07:16
0 2

Teheran, Rabu (12/4) — Militer Iran menyatakan telah meluncurkan serangan rudal presisi terhadap tiga pangkalan udara milik Amerika Serikat di wilayah Teluk, yaitu di Kuwait, Qatar, dan Bahrain, pada dini hari tadi pukul 02.15 waktu setempat. Serangan ini, menurut klaim Garda Revolusi Iran (IRGC), berhasil menghancurkan sejumlah hanggar, landasan pacu, dan infrastruktur vital di Pangkalan Udara Ali Al Salem (Kuwait), Pangkalan Udara Al Udeid (Qatar), serta Pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain.

Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Panglima Angkatan Udara IRGC, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, menegaskan bahwa operasi yang dijuluki ‘Badai Al-Aqsa 3’ ini merupakan respons langsung atas serangan mematikan pekan lalu oleh pesawat nirawak AS terhadap pos perbatasan di Zahedan yang menewaskan 19 personel IRGC. “Ini hanyalah gelombang pertama. Jika Amerika tidak menghentikan agresinya, kami akan mengubah pangkalan-pangkalan mereka di seluruh kawasan menjadi kuburan bagi para prajuritnya,” tegas Hajizadeh.

Tiga Target Kunci Dilumpuhkan

Berdasarkan data yang dirilis Pusat Komando Strategis Iran, serangan dilakukan secara simultan menggunakan 15 rudal jelajah Soumar dan 12 rudal balistik jarak menengah Dezful. Ketiga pangkalan yang menjadi sasaran merupakan titik krusial bagi Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam menjaga keamanan Selat Hormuz dan operasi di Irak serta Suriah. Di Pangkalan Ali Al Salem, citra satelit awal menunjukkan kerusakan parah pada dua hanggar pesawat nirawak MQ-9 Reaper dan satu landasan pacu utama. Sementara itu, di Al Udeid—pangkalan udara terbesar AS di kawasan—ledakan dilaporkan menghantam sektor operasional yang menjadi tempat parkir pesawat tanker KC-135.

Pangkalan NSAB di Bahrain, yang juga digunakan oleh Armada Kelima AS, mengalami kebakaran di beberapa fasilitas logistik pascaserangan. Pemerintah Iran mengklaim tidak ada serangan yang diarahkan ke permukiman warga sipil dan menuduh AS menggunakan fasilitas sipil di Bahrain sebagai tameng. “Semua target adalah aset militer murni penjajah,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, dalam konferensi pers darurat.

“Kami memperingatkan rezim di kawasan yang memberikan basis bagi teroris Amerika untuk segera mengusir mereka. Nyawa warga kalian tak sebanding dengan petualangan bodoh Washington.”

Sistem Patriot Kewalahan

Yang menjadi sorotan utama dalam serangan ini adalah kegagalan sistem pertahanan udara Patriot yang selama ini diandalkan oleh AS dan sekutu. Sistem rudal antirudal buatan Amerika Serikat tersebut, yang dalam doktrin pertahanan dikenal sebagai alat deteksi, pelacak, dan penghancur ancaman balistik, tampaknya tidak mampu membendung serangan gelombang bertubi dari Iran. Pakar pertahanan dari International Institute for Strategic Studies (IISS), Dr. Firas Abi-Ali, menduga serangan dilancarkan dengan siasat penjenuhan (saturation attack).

“Dalam skenario ini, puluhan rudal diluncurkan bersamaan untuk membanjiri radar dan kanal tembak sistem pertahanan. Setiap baterai Patriot hanya mampu mengenai beberapa target sekaligus; sisanya lolos. Ini adalah kelemahan doktrinal yang sudah lama diketahui.”

Seorang sumber intelijen regional yang enggan dikutip namanya mengungkapkan bahwa Iran juga mungkin menggunakan rudal hipersonik Fattah generasi pertama yang mampu bermanuver di lintasan terminal, sehingga menyulitkan intersepsi. Meski demikian, klaim ini masih dalam tahap verifikasi. Pihak CENTCOM sendiri belum merilis data rinci tentang jumlah rudal yang berhasil dicegat.

Reaksi Cepat Washington dan Sekutu

Komando Pusat AS melalui akun resminya mengonfirmasi terjadinya serangan, namun meremehkan dampaknya. “Sistem pertahanan udara gabungan berhasil mencegat sebagian besar ancaman. Kerusakan terbatas pada infrastruktur tidak vital dan tidak menimbulkan korban jiwa di pihak koalisi,” demikian pernyataan singkat CENTCOM. Pentagon menambahkan, kapal perusak USS Carney yang berada di Teluk Persia turut membantu mencegat beberapa proyektil. Namun, informasi yang beredar di media sosial menunjukkan serangkaian kilatan dan dentuman yang konsisten dengan laporan Iran.

Pemerintah Kuwait dan Qatar segera memanggil kuasa usaha Iran di masing-masing negara untuk menyampaikan protes. “Kami tidak akan mentoleransi pelanggaran kedaulatan ini,” ujar Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. Sementara itu, Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa menyatakan solidaritas penuh dengan Washington dan meminta Liga Arab untuk bersidang darurat. Harga minyak mentah jenis Brent langsung melonjak 5,3% ke level $92,1 per barel beberapa jam setelah serangan.

Ancaman Eskalasi Regional

Insiden ini menandai babak baru ketegangan yang kian memanas sejak AS memberlakukan sanksi penuh terhadap ekspor minyak Iran dan serangkaian serangan udara terhadap basis proksi Iran di Suriah dan Irak sebulan terakhir. Analis politik Timur Tengah, Dr. Fatima al-Samadi, menilai bahwa Iran kini memilih strategi konfrontasi langsung alih-alih perang bayangan. “Teheran telah menghitung bahwa setiap eskalasi akan memicu respons berantai yang bisa menyeret sekutu AS, terutama Israel, ke dalam konflik terbuka,” ujarnya.

Pemerintahan Presiden AS saat itu tengah berada di bawah tekanan besar dari Kongres untuk memberikan jawaban tegas. Namun, para pengamat mengingatkan bahwa Perang Teluk dalam format baru akan memiliki dampak ekonomi global yang jauh lebih parah, mengingat sekitar 20% suplai minyak dunia melewati Selat Hormuz. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar rapat darurat pukul 22.00 WIB malam ini atas permintaan Perancis dan Inggris.

Hingga berita ini diturunkan, Iran masih menerbangkan drone pengintai di sekitar perairan Teluk dan memperingatkan seluruh penerbangan komersial untuk menghindari wilayah udara Bahrain, Qatar, dan Kuwait. “Ini adalah pesan pertama. Kami menunggu langkah musuh,” pungkas Hajizadeh tanpa perincian lebih lanjut.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User