IPB University Luncurkan Teknologi Dederan Lobster, Solusi Hilirisasi dan Budidaya Berkelanjutan
Bogor, 12 Juni 2026 – Institut Pertanian Bogor (IPB) University secara resmi memperkenalkan inovasi teknologi lobster dederan yang dirancang untuk mentransformasi rantai pasok benih bening lobster (...
Bogor, 12 Juni 2026 – Institut Pertanian Bogor (IPB) University secara resmi memperkenalkan inovasi teknologi lobster dederan yang dirancang untuk mentransformasi rantai pasok benih bening lobster (BBL) menjadi komoditas bernilai tambah tinggi. Dalam acara peluncuran yang digelar di Kampus IPB Dramaga, tim peneliti memaparkan bahwa pendekatan baru ini mampu mendorong efisiensi budidaya dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi pembudidaya skala kecil di seluruh Indonesia.
Teknologi dederan yang dimaksud adalah proses pembesaran BBL menjadi lobster ukuran 10–50 gram di dalam sistem terkontrol, sebelum didistribusikan ke petambak untuk pembesaran lanjutan. Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. Ir. Haryo Wibisono, M.Sc., menegaskan bahwa konsep ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk mengurangi angka kematian BBL yang selama ini mencapai 70 persen dan menciptakan unit usaha baru di segmen pendederan. “Kami tidak hanya mengejar peningkatan produktivitas, tetapi juga menata ekosistem budidaya lobster yang lebih adil dan berkelanjutan,” ujarnya di hadapan audiens yang terdiri dari akademisi, praktisi, dan perwakilan kementerian.
Konsep Dederan dan Nilai Tambah
Berdasarkan data riset yang dikumpulkan sejak 2024, pemeliharaan BBL hingga ukuran 50 gram melalui sistem resirkulasi air dan pemberian pakan buatan mampu menekan tingkat kematian menjadi di bawah 30 persen. Lebih jauh, tim peneliti membuktikan bahwa lobster yang telah melalui fase dederan memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap perubahan lingkungan tambak, sehingga masa pembesaran di petani mitra dapat dipersingkat dari delapan menjadi lima bulan. “Ini artinya, satu siklus produksi bisa menghemat biaya operasional hingga 25 persen dan meningkatkan pendapatan pembudidaya,” jelas Dr. Ir. Rina Suminar, anggota tim yang bertanggung jawab pada aspek sosial-ekonomi.
Inovasi ini juga diharapkan menjadi jawaban atas persoalan ekspor BBL ilegal yang kerap menjadi sorotan. Dengan membangun sentra dederan di daerah pesisir, IPB University menawarkan model bisnis yang mengintegrasikan penangkapan BBL sesuai kuota dengan unit pendederan berbadan hukum. Prof. Haryo menambahkan bahwa teknologi ini telah diujicobakan di tiga lokasi, yakni Pangandaran, Lombok Timur, dan Pulau Seram, dengan melibatkan 20 kelompok pembudidaya. “Hasil uji coba menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup lobster ukuran 50 gram mencapai 68 persen, jauh di atas metode konvensional,” tegasnya.
Dukungan Pemerintah dan Prospek Ekonomi
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Sc., yang hadir secara virtual memberikan apresiasi atas terobosan ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan memfasilitasi regulasi yang mendukung penerapan skema dederan, termasuk penataan jalur distribusi dan sertifikasi benih. “Kami melihat potensi besar untuk menjadikan lobster sebagai komoditas unggulan nasional. Oleh karena itu, KKP siap mengalokasikan anggaran pendampingan teknis dan akses permodalan bagi calon pelaku usaha dederan,” ucapnya.
Dalam paparannya, Slamet juga mengungkapkan bahwa permintaan lobster hidup ke pasar Tiongkok, Hong Kong, dan Uni Emirat Arab terus meningkat dua digit setiap tahun, namun Indonesia baru mampu memenuhi 12 persen dari total permintaan global. Dengan adopsi teknologi dederan, pemerintah menargetkan peningkatan produksi lobster nasional hingga 30 persen dalam dua tahun ke depan. Hal ini, lanjutnya, sejalan dengan program hilirisasi perikanan yang dicanangkan Presiden untuk mendongkrak ekspor produk olahan bernilai tambah.
Ketua Asosiasi Pengusaha Lobster Indonesia (APLI), Hendra Gunawan, yang turut hadir, menyambut baik inisiatif kampus tersebut. “Selama ini kami kesulitan memperoleh calon indukan yang berkualitas dan seragam. Jika model dederan ini bisa direplikasi, maka investor akan lebih tertarik menanamkan modal di sektor budidaya lobster,” katanya. Ia menambahkan, APLI siap menjadi mitra offtaker hasil panen dederan dari kelompok-kelompok kecil di daerah, asalkan kualitas dan kontinuitas pasokan terjamin.
Langkah Strategis ke Depan
IPB University, melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), telah menyusun roadmap pengembangan sentra dederan di 12 provinsi pesisir hingga tahun 2028. Rektor IPB University, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menyatakan bahwa pendekatan ini adalah bagian dari komitmen institusi untuk menghadirkan sains yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. “Kami tidak berhenti pada publikasi jurnal, tetapi mendorong hilirisasi riset menjadi produk inovasi yang dimanfaatkan luas,” ujarnya.
Prof. Arif juga mengumumkan bahwa universitas sedang menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan benih lobster adaptif iklim yang cocok dengan metode dederan. Selain itu, IPB akan membuka pusat pelatihan bagi penyuluh perikanan dan generasi muda yang ingin menekuni usaha pendederan lobster. “Transfer pengetahuan ini krusial agar teknologi tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar menjadi penggerak ekonomi rakyat,” pungkasnya.
Dengan fondasi riset yang kuat dan dukungan kebijakan yang terbuka, teknologi lobster dederan diyakini akan menjadi game changer dalam peta jalan budidaya lobster Indonesia, sekaligus memperkuat posisi tawar negeri ini di rantai pasok global.
Baca juga:
Comments (0)