IIFTIHAR dan detik.com Gelar Leaders Forum Bedah Visi Teknologi Habibie

Jakarta, 27 Juli 2026 – Ikatan Ilmuwan dan Teknolog Islam Indonesia (IIFTIHAR) bersama portal berita detik.com menggelar Leaders Forum tingkat nasional untuk memperingati 30 tahun perjalanan organis...

IIFTIHAR dan detik.com Gelar Leaders Forum Bedah Visi Teknologi Habibie

Jakarta, 27 Juli 2026 – Ikatan Ilmuwan dan Teknolog Islam Indonesia (IIFTIHAR) bersama portal berita detik.com menggelar Leaders Forum tingkat nasional untuk memperingati 30 tahun perjalanan organisasi dan 90 tahun kelahiran mantan Presiden RI, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie. Forum yang berlangsung di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, pada Senin (27/7) itu mengusung tema “Visi Teknologi B.J. Habibie untuk Kemajuan Dunia Islam” serta menghadirkan para tokoh nasional, cendekiawan, dan praktisi teknologi.

Acara dibuka oleh Ketua Umum IIFTIHAR, Dr. Ir. H. Ahmad Fauzi Rahman, M.Eng., Ph.D., yang menekankan bahwa forum ini tidak sekadar seremoni, melainkan panggilan untuk merevitalisasi gagasan besar Habibie. Dalam laporannya, Rahman mengungkapkan bahwa selama tiga dekade, IIFTIHAR telah berkontribusi dalam mencetak lebih dari 25.000 sarjana teknik dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia. “Kami berdiri di atas fondasi yang dibangun Pak Habibie, dan tugas kami adalah memastikan fondasi itu menjadi mercusuar peradaban,” ucapnya.

“Habibie selalu menekankan bahwa penguasaan sains dan teknologi tinggi adalah kunci kebangkitan umat. Forum ini adalah ruang untuk menyambungkan kembali visi itu dengan generasi digital masa kini,” tegas Rahman.

Mengenang Warisan Sang Visioner

Sepanjang forum, sosok Habibie menjadi pusat pembahasan. Putra sulung Habibie, Dr. Ilham Akbar Habibie, S.E., MBA., yang hadir selaku pembicara kunci, menyatakan bahwa sang ayah telah mewariskan peta jalan yang jelas bagi kebangkitan teknologi dunia Islam. “Beliau bukan hanya merancang pesawat, tetapi merancang masa depan. Konsep pembangunan industri strategis yang beliau canangkan sejatinya adalah cetak biru bagi kedaulatan teknologi seluruh negara Muslim,” ungkap Ilham.

“Ayah saya selalu mengatakan, 'Kuasai teknologi, maka kau akan menguasai masa depan.' Pesan ini tidak pernah lekang waktu, justru semakin relevan di era kecerdasan buatan dan transisi energi yang menentukan peta kekuatan global,” papar Ilham.

Ia mencontohkan, proyek pesawat N-250 Gatotkaca yang menjadi simbol keberanian intelektual Indonesia kini menemukan relevansinya kembali dalam pengembangan kendaraan listrik, baterai, dan teknologi dirgantara oleh para insinyur muda Muslim di berbagai negara. Menurutnya, kolaborasi antarnegara Muslim dalam riset dan produksi menjadi kunci.

Kolaborasi Media dan Teknologi

Direktur Pemberitaan detik.com, Sapto Anggoro, menjelaskan bahwa kerja sama dengan IIFTIHAR merupakan wujud tanggung jawab media untuk mendorong literasi teknologi di tengah masyarakat. “detik.com memiliki jangkauan lebih dari 60 juta pembaca per bulan. Kami ingin memanfaatkan kekuatan ini untuk menyebarkan gagasan-gagasan besar seperti yang diajarkan Habibie,” kata Sapto.

“Media massa harus menjadi katalis bagi semangat inovasi. Forum ini juga menjadi ajang untuk mempertemukan para pemangku kepentingan dalam ekosistem inovasi Islam, dari perumus kebijakan hingga pelaku startup,” imbuhnya.

Pada sesi panel, sejumlah narasumber seperti Prof. Dr. Ing. H. Dwi Larso, M.Sc., dari Institut Teknologi Bandung, dan Dr. H. Muhammad Dimyati, M.Sc., dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan data bahwa kontribusi negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) terhadap produksi ilmiah global masih di bawah 7 persen. Padahal, populasi Muslim dunia mencapai hampir seperempat penduduk bumi. “Ini kesenjangan yang harus segera ditutup dengan investasi riset yang masif,” ujar Dimyati.

Peta Jalan dan Rekomendasi

Forum merumuskan sejumlah rekomendasi konkret. Pertama, pembentukan pusat unggulan riset bersama (Center of Excellence) di bidang energi hijau dan manufaktur pintar yang melibatkan universitas-universitas Islam di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Kedua, peluncuran program Habibie Fellowship untuk membiayai 100 peneliti muda Muslim setiap tahunnya agar melanjutkan studi di bidang teknik kedirgantaraan, bioteknologi, dan kecerdasan buatan. Ketiga, pengembangan aplikasi dan sistem digital berbasis etika Islam yang dapat diterapkan di sektor keuangan syariah, rantai pasok halal, dan zakat digital.

Ketua Panitia, Ir. H. Nasiruddin, MBA., mengungkapkan bahwa rekomendasi ini akan disampaikan langsung kepada Presiden RI dan Sekretaris Jenderal OKI melalui audiensi khusus. “Kami tidak mau ini sekadar menjadi wacana. Kami ingin ada tindak lanjut nyata, seperti yang selalu diajarkan Habibie: 'Bekerjalah, jangan banyak bicara,'” tegasnya.

Di sisi lain, forum juga dimeriahkan dengan pameran prototipe dari startup binaan IIFTIHAR, seperti GreenDrone (drone untuk pemetaan lahan wakaf produktif), HalalChain (sistem pelacakan rantai pasok halal berbasis blockchain), dan SolarPesantren (pembangkit listrik tenaga surya untuk pondok pesantren). Partisipasi ini memperlihatkan bahwa visi Habibie telah menjelma menjadi gerakan nyata dari generasi muda.

Dengan berakhirnya Leaders Forum yang berlangsung hingga sore hari, harapan besar tertumpu pada implementasi rekomendasi tersebut. Peringatan 30 tahun IIFTIHAR dan 90 tahun B.J. Habibie menjadi tonggak sejarah yang menandai bahwa kaum muslimin di Indonesia dan dunia siap memainkan peran sentral dalam lanskap teknologi global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User