IHSG Ditutup Melesat 1,92%, Rupiah Terdepresiasi ke Rp 18.109

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan dengan lonjakan signifikan pada Senin (13/7). Indeks acuan bursa domestik ini mencatatkan penguatan sebesar 113,48 poin atau ...

Jul 13, 2026 - 20:56
0 0
IHSG Ditutup Melesat 1,92%, Rupiah Terdepresiasi ke Rp 18.109

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan dengan lonjakan signifikan pada Senin (13/7). Indeks acuan bursa domestik ini mencatatkan penguatan sebesar 113,48 poin atau 1,92 persen, sehingga berakhir di level 6.037,84. Kenaikan tersebut membalikkan pelemahan pada akhir pekan sebelumnya dan menjadi yang tertinggi dalam dua pekan terakhir, mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi domestik.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang yang cukup lebar dengan tekanan beli yang konsisten sejak sesi pembukaan. Minat investor terhadap saham-saham unggulan, khususnya dari sektor keuangan dan konsumsi, mendorong indeks menembus level psikologis 6.000. Penguatan ini juga didukung oleh sentimen positif yang berasal dari ekspektasi perbaikan data makroekonomi serta aksi korporasi emiten besar yang tengah memasuki musim laporan keuangan.

Kinerja Perdagangan

Nilai transaksi yang tercatat di seluruh papan perdagangan mencapai Rp12,15 triliun, menunjukkan likuiditas yang masih terjaga meskipun terdapat ketidakpastian di pasar global. Volume perdagangan terhitung sebanyak 26,34 miliar lembar saham yang berpindah tangan, dengan frekuensi transaksi mencapai 2,70 juta kali. Data tersebut menegaskan tingginya partisipasi investor, baik institusional maupun ritel, dalam mendorong laju indeks.

Berdasarkan data papan perdagangan, sebanyak 377 saham mencatatkan kenaikan harga, sementara 250 saham mengalami pelemahan, dan 167 saham lainnya tidak bergerak. Dominasi saham yang menguat menciptakan market breadth yang positif, menandakan bahwa arah penguatan indeks ditopang oleh mayoritas konstituen. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi motor utama penguatan, diikuti oleh emiten barang konsumsi yang kembali diminati seiring turunnya kekhawatiran inflasi.

Pergerakan Rupiah

Bertolak belakang dengan kinerja IHSG, nilai tukar rupiah justru mengalami tekanan. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 44 poin atau 0,24 persen, sehingga ditutup di posisi Rp18.109 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS secara global yang dipicu oleh ekspektasi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat yang masih ketat. Pelaku pasar valuta asing mengantisipasi kemungkinan penundaan pemangkasan suku bunga acuan The Fed yang membuat aset-aset berdenominasi dolar kembali menarik.

Depresiasi rupiah kali ini relatif terbatas karena adanya intervensi Bank Indonesia di pasar spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF). Bank sentral disebut terus menjaga stabilitas rupiah agar sesuai dengan fundamental dan mendukung kebutuhan impor serta pembayaran utang luar negeri korporasi. Meski demikian, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek seiring dengan ketidakpastian geopolitik dan pergerakan harga komoditas global.

Bursa Asia Bervariasi

Pergerakan bursa saham di kawasan Asia pada penutupan sore hari ini menunjukkan arah yang beragam. Indeks Nikkei 225 di Jepang justru terpuruk hingga 1,92 persen atau -1.315,00 poin, berakhir di level 67.242,70. Penurunan tajam di Tokyo dipicu oleh koreksi saham-saham teknologi setelah rilis data manufaktur yang kurang menggembirakan serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global. Kondisi ini menekan sektor ekspor yang menjadi andalan Jepang.

Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong berhasil membukukan penguatan tipis 0,16 persen, atau bertambah 38,60 poin, menjadi 24.213,72. Bursa Hong Kong ditopang oleh rebound saham-saham properti dan keuangan setelah pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan stimulus baru. Di China daratan, Indeks SSE Composite justru merosot tajam 2,06 persen, kehilangan 82,37 poin ke level 3.913,79, yang mencerminkan kekecewaan investor terhadap lambatnya pemulihan konsumsi domestik. Adapun Indeks Straits Times di Singapura bertambah tipis 0,02 persen atau 1,05 poin, ditutup pada 5.470,34, dengan pergerakan yang minim di tengah minimnya sentimen baru.

Analis menilai, divergensi arah bursa regional ini menunjukkan bahwa investor masih mencermati data ekonomi masing-masing negara serta kebijakan moneter yang bakal ditempuh. Pasar Asia cenderung wait and see menjelang rilis data inflasi dari beberapa negara maju serta hasil rapat dewan gubernur bank sentral di kawasan. Di sisi lain, penguatan IHSG yang cukup signifikan menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi destinasi investasi yang menarik di tengah ketidakpastian global, terutama didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang solid serta prospek pertumbuhan yang tetap terjaga.

Dengan penutupan ini, IHSG berhasil keluar dari tren konsolidasi yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Para pelaku pasar diperkirakan akan memantau data perdagangan dan cadangan devisa yang akan dirilis dalam waktu dekat sebagai indikator arah pergerakan berikutnya. Sementara itu, Bank Indonesia diharapkan terus menjaga stabilitas rupiah di tengah tantangan eksternal agar tidak mengganggu momentum pertumbuhan pasar modal yang tengah membaik.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User