IHSG Diperkirakan Menguat di Akhir Pekan, Target 6.554–6.616

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan akhir pekan, Jumat (21/8), dengan estimasi pergerakan berada pada rentang 6.554 hingga 6.616. P...

IHSG Diperkirakan Menguat di Akhir Pekan, Target 6.554–6.616

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan akhir pekan, Jumat (21/8), dengan estimasi pergerakan berada pada rentang 6.554 hingga 6.616. Proyeksi tersebut muncul sehari setelah indeks menutup perdagangan Kamis (20/8) dengan kenaikan 107,46 poin atau setara 1,67 persen ke level 6.501,59.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, dalam keterangan resminya yang diterima Jumat (21/8), menyatakan bahwa sejumlah indikator teknikal kini menunjukkan sinyal yang mendukung kelanjutan penguatan. Ia menegaskan bahwa momentum positif tersebut terlihat dari pergerakan rata-rata pergerakan harga jangka pendek maupun jangka menengah.

“Berdasarkan indikator, MA20&60 telah menunjukkan positive crossover, sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Di sisi lain, volume terus mengalami penguatan,” kata Nafan.

Menurut Nafan, kombinasi sinyal dari indikator teknikal tersebut menjadi dasar bagi pelaku pasar untuk mengantisipasi pergerakan indeks yang lebih tinggi. Ia menambahkan, penguatan volume perdagangan turut memperkuat keyakinan investor terhadap arah pergerakan IHSG pada sesi perdagangan kali ini.

Sentimen Global dan Tekanan Inflasi

Dari sisi eksternal, Nafan mengungkapkan bahwa investor masih mencermati peningkatan tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kian memanas. Kondisi tersebut, menurut dia, berdampak pada lonjakan harga minyak mentah jenis Brent yang telah menembus level USD 93 per barel.

“Hal ini turut meningkatkan risiko inflasi. Ditambah lagi, notula rapat The Fed menunjukkan ketidakpastian inflasi yang tinggi, memicu kecemasan market atas potensi kenaikan suku bunga lanjutan,” kata Nafan.

Kenaikan harga komoditas energi tersebut, lanjut Nafan, berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan mendorong bank sentral Amerika Serikat untuk mempertahankan sikap hati-hati dalam kebijakan moneternya. Kekhawatiran terhadap kemungkinan pengetatan suku bunga lanjutan pun menjadi salah satu faktor yang terus dipantau pelaku pasar dalam menentukan strategi investasi jangka pendek.

Defisit Transaksi Berjalan Diprediksi Menyempit

Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia untuk kuartal II 2026 yang dijadwalkan diumumkan pada 21 Agustus 2026. Berdasarkan estimasi Trading Economics, defisit transaksi berjalan pada kuartal kedua 2026 diprediksi masih terkendali, yakni berada di kisaran USD 1,8 miliar.

Angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan realisasi kuartal I 2026 yang mencatat defisit sebesar USD 4,0 miliar. Nafan menilai pasar tengah mengantisipasi adanya perbaikan yang cukup signifikan pada neraca transaksi berjalan dibandingkan periode sebelumnya.

“Artinya, market mengantisipasi perbaikan yang cukup signifikan pada neraca transaksi berjalan dibandingkan kuartal sebelumnya,” sebutnya.

Apabila realisasi data kelak mendekati angka USD 1,8 miliar atau bahkan lebih rendah dari perkiraan awal, Nafan menyatakan hal tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi IHSG dan nilai tukar rupiah. Hal itu lantaran menunjukkan bahwa tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia masih relatif terkendali di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Rekomendasi Saham Dua Sekuritas

Mirae Asset Sekuritas Indonesia merekomendasikan sejumlah saham untuk diperdagangkan pada Jumat (21/8), yakni BIPI, DEWA, dan INCO. Ketiga emiten tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan kondisi teknikal dan fundamental terkini di pasar modal.

Sementara itu, MNC Sekuritas memberikan proyeksi yang lebih bervariasi terhadap pergerakan IHSG. Menurut analisisnya, indeks pada Jumat (21/8) berpeluang menguat dengan target 6.544, tetapi tetap terbuka potensi koreksi dalam skenario terburuk.

“IHSG berpeluang menguat dengan target 6.544. Worst case (merah), IHSG sudah menyelesaikan wave (a) pada pola diagonal dan rawan terkoreksi ke rentang 6.056-6.230 untuk membentuk wave (b),” tulis MNC Sekuritas dalam keterangannya.

MNC Sekuritas menjelaskan bahwa dalam skenario terburuk, indeks dikhawatirkan tertekan hingga rentang 6.056 hingga 6.230 sebelum kembali membentuk pola pergerakan baru. Adapun saham-saham yang direkomendasikan MNC Sekuritas pada Jumat (21/8) meliputi ARCI, BIPI, NCKL, dan RMKE.

Kedua lembaga sekuritas tersebut menegaskan bahwa seluruh proyeksi dan rekomendasi yang disampaikan didasarkan pada analisis teknikal serta data pasar terkini. Pelaku pasar diimbau untuk tetap mencermati perkembangan indikator ekonomi dan geopolitik sebelum mengambil keputusan investasi, mengingat volatilitas pasar yang masih tinggi.

Disclaimer: Seluruh keputusan investasi berada sepenuhnya pada pertimbangan pembaca. Laporan ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli, menahan, ataupun menjual produk investasi tertentu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User