Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak melemah menuju rentang 6.016 hingga 5.973 pada pembukaan perdagangan Kamis (8/10). Proyeksi tersebut disampaikan menyusul penutupan sebelumnya pada Rabu (7/10) yang tercatat turun 46,2 poin atau setara 0,74 persen ke level 6.146,72.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa sentimen perdagangan pada Kamis cenderung mixed dengan bias cautious. Menurutnya, pergerakan indeks masih dibayangi sejumlah faktor eksternal yang belum menunjukkan arah positif bagi pasar modal domestik.
Risalah FOMC dan Yield Treasury Tekan Sentimen
Nafan menuturkan, pelaku investor global tengah mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September yang dinilai memberikan pesan cukup hawkish secara fundamental. Risalah tersebut mengungkapkan pandangan mayoritas pembuat kebijakan yang menilai bahwa satu kali kenaikan Fed Funds Rate kemungkinan masih diperlukan hingga akhir tahun.
Selain itu, para pelaku pasar juga menyoroti kenaikan Yield Treasury 10 tahun sebesar 0,34 persen menjadi 5,286 persen, sementara harga minyak Brent naik 0,33 persen di posisi USD 101,29 per barel.
"Kombinasi yield obligasi yang tinggi dan energi yang mahal berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, sehingga dapat membatasi ruang bagi bank sentral dunia untuk melonggarkan kebijakan moneter," tutur Nafan dalam keterangannya, Kamis (8/10).
Kondisi tersebut, lanjutnya, turut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap prospek pelonggaran moneter global dalam waktu dekat, yang pada gilirannya menekan minat investor terhadap aset berisiko di negara berkembang.
Rupiah dan Arus Dana Asing Jadi Perhatian
Dari sisi domestik, Nafan menegaskan bahwa pergerakan rupiah dan arus dana asing menjadi dua indikator penting yang perlu dicermati. Nilai tukar rupiah pada Rabu (7/10) sempat menguat 0,07 persen ke level Rp 17.887 per dolar AS, namun penguatan dolar serta tingginya Treasury yield tetap menjadi risiko bagi stabilitas rupiah.
Ia menambahkan, keputusan FTSE Russell yang mempertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan tidak memasukkannya ke dalam watchlist merupakan katalis positif bagi stabilitas pasar modal. Kendati demikian, keputusan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menjadi katalis pembalikan arus dana asing secara signifikan.
"Keputusan FTSE Russell menjadi katalis positif bagi stabilitas pasar modal, meski belum cukup kuat menjadi katalis pembalikan arus dana asing," jelasnya.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati pada Kamis (8/10), meliputi AMMN, RAJA, dan TLKM.
Proyeksi MNC Sekuritas: IHSG Bergerak Bervariasi
Senada dengan itu, MNC Sekuritas memproyeksikan IHSG pada Kamis (8/10) bergerak bervariasi. Indeks berpotensi melemah pada rentang 6.118-6.141, dan menguat pada kisaran 6.342-6.430.
"Adapun area koreksi terdekat berikutnya berada di 6.118-6.141. Namun demikian, pada label merah IHSG akan menguji area 6.342-6.430 sekaligus cluster MA20 dan MA60," tulis MNC Sekuritas dalam keterangannya, Kamis (8/10).
Berdasarkan catatan tersebut, pelaku pasar diimbau untuk mencermati level support dan resistance yang telah ditetapkan sebelum mengambil keputusan investasi. Sejumlah saham juga direkomendasikan MNC Sekuritas untuk diperhatikan pada perdagangan hari ini.
Secara keseluruhan, proyeksi pelemahan IHSG menuju level 6.016 mencerminkan masih dominannya sentimen eksternal terhadap pergerakan indeks. Ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat, tingginya imbal hasil obligasi, serta harga energi yang mahal menjadi faktor utama yang membatasi ruang penguatan pasar modal domestik, meski stabilitas status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market tetap terjaga.
Comments (0)