Ibu Muda Tunawicara di Bojonggede Menopang Keluarga Lewat Lapak Sushi

BOJONGGEDE — Nafi Annisa, ibu muda berusia 21 tahun yang menyandang status tunawicara, setiap hari menggelar lapak sushi di Persimpangan Bambu Kuning, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Bar...

Ibu Muda Tunawicara di Bojonggede Menopang Keluarga Lewat Lapak Sushi

BOJONGGEDE — Nafi Annisa, ibu muda berusia 21 tahun yang menyandang status tunawicara, setiap hari menggelar lapak sushi di Persimpangan Bambu Kuning, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Usaha kecil tersebut menjadi tumpuan utama bagi keluarganya setelah sang ayah terserang stroke dan tidak lagi mampu bekerja.

Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas dari sore hingga malam hari, Nafi menyusun aneka sushi berwarna-warni di atas lapak sederhananya. Ia memulai aktivitas berjualan sekitar pukul 16.30 WIB dan baru mengakhiri dagangannya menjelang pukul 22.00 WIB.

Sepanjang waktu tersebut, Nafi tidak pernah sendirian. Putra semata wayangnya, Fatih Alayyubi, yang baru berusia 2,5 tahun, hampir setiap hari menemani sang ibu berjualan. Satu tangannya menata dagangan, sementara tangan lainnya menjaga tubuh mungil Fatih agar tetap berada dalam jangkauannya.

Menjadi Tulang Punggung di Usia Muda

Keputusan Nafi turun ke jalan dan berdagang bukanlah pilihan yang lahir dari keinginan semata, melainkan desakan keadaan. Ayahnya mengalami stroke sehingga kehilangan kemampuan mencari nafkah. Ibunya kini terbagi perannya, antara merawat sang ayah dan mengasuh bayi yang baru saja lahir.

Dalam kondisi tersebut, beban ekonomi keluarga praktis berpindah ke pundak Nafi. Padahal, ia sendiri tengah berjuang membesarkan putranya seorang diri setelah pernikahannya berakhir dengan perceraian. Sejak saat itu, ia kembali tinggal bersama kedua orang tua dan adiknya, sebuah kondisi yang telah dijalaninya kurang lebih empat tahun.

Adik Nafi, Hafshoh, yang masih berusia 14 tahun dan duduk di bangku sekolah, menuturkan alasan di balik keputusan kakaknya berjualan sushi di tepi jalan.

"Dia jualan sushi karena Ayah kena musibah stroke, jadi nggak bisa kerja, mama juga harus ngurus Ayah dan ada adik yang baru lahir. Jadi mau nggak mau Kakak jualan," ujar Hafshoh, Sabtu (8/8).

Adik Menjadi Jembatan Komunikasi dengan Pembeli

Keterbatasan dalam berbicara dan mendengar tidak menyurutkan langkah Nafi untuk tetap berusaha. Dalam menjalankan dagangannya, ia banyak dibantu Hafshoh, terutama ketika harus berkomunikasi dengan para pembeli. Sang adik menjadi penghubung antara Nafi dan pelanggan yang datang silih berganti ke lapaknya.

Di sela-sela waktu sekolahnya, Hafshoh menyempatkan diri mendampingi kakaknya berdagang. Kehadirannya memudahkan jalannya transaksi sekaligus memberi rasa aman bagi Nafi dalam melayani pembeli yang belum memahami kondisi yang disandangnya.

Kerja sama kakak beradik itu menjadi gambaran bagaimana keluarga kecil tersebut saling menopang di tengah keterbatasan. Sementara sang ibu fokus merawat ayah dan bayi di rumah, Nafi dan Hafshoh bahu-membahu mencari penghasilan dari lapak sushi di tepi jalan.

Lapak Sushi sebagai Jalan Bertahan Hidup

Bagi Nafi, lapak sushi bukan sekadar tempat mencari uang. Usaha tersebut merupakan jalannya untuk tetap berdiri, memenuhi kebutuhan putranya, sekaligus meringankan beban keluarga yang tengah didera musibah kesehatan.

Pemandangan seorang ibu muda yang meracik sushi sembari menjaga anaknya telah menjadi hal yang lazim disaksikan warga sekitar Persimpangan Bambu Kuning. Fatih tumbuh di bawah naungan lapak sederhana itu, menyaksikan keteguhan ibunya dari dekat setiap harinya.

Kisah Nafi mencerminkan potret ketangguhan perempuan muda penyandang disabilitas yang menolak menyerah pada keadaan. Dengan segala keterbatasan, ia memilih berdaya dan mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga di usia yang baru menginjak 21 tahun.

Hingga kini, setiap sore hingga malam, lapak sushi Nafi tetap berdiri di persimpangan tersebut. Di balik jajanan berwarna-warni yang tertata rapi, tersimpan perjuangan seorang ibu, seorang kakak, dan seorang anak yang berusaha menjaga keberlangsungan hidup keluarganya di tengah himpitan keadaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User