Hossam Hassan: Kemenangan Argentina di Piala Dunia 2026 Sudah Diatur
Aroma kekecewaan bercampur amarah begitu pekat menguar dari sektor bangku cadangan Mesir, sesaat setelah wasit Francois Letexier meniup peluit panjang tand
Aroma kekecewaan bercampur amarah begitu pekat menguar dari sektor bangku cadangan Mesir, sesaat setelah wasit Francois Letexier meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga 16 besar Piala Dunia 2026. Di tengah hingar-bingar selebrasi para pemain Argentina yang baru saja mengamankan tiket perempat final, Pelatih Mesir Hossam Hassan justru melangkah dengan raut muka penuh kemarahan menghampiri Letexier. Jari telunjuknya teracung, suara lantangnya menggema meski tertelan sorakan puluhan ribu pendukung La Albiceleste. Dalam laga yang berakhir 2–3 untuk kemenangan Argentina itu, Hassan dan anak asuhnya merasa menjadi korban dari sebuah pertunjukan yang, menurut mereka, sudah diatur sedari awal.
Kronologi Laga yang Dipenuhi Kontroversi
Laga babak 16 besar antara Argentina dan Mesir yang digelar di Stadion MetLife, New Jersey, Senin (7/7/2026) waktu setempat, berlangsung dalam tensi tinggi sejak menit-menit awal. Mesir sejatinya tampil mengejutkan. Pada menit ke-12, umpan terobosan Mohamed Salah berhasil diselesaikan dengan tenang oleh Omar Marmoush untuk membawa The Pharaohs unggul 1–0. Keunggulan itu bertahan hingga laga memasuki menit ke-28, ketika Letexier menunjuk titik putih setelah menilai Ahmed Hegazi melakukan pelanggaran terhadap Julián Álvarez di kotak penalti—sebuah keputusan yang langsung menuai protes dari seluruh pemain Mesir. Álvarez mengeksekusi penalti dan menyamakan kedudukan 1–1 pada menit ke-30.
Argentina berbalik unggul 2–1 tepat di masa injury time babak pertama. Lionel Messi, dari situasi kemelut di depan gawang, berhasil menceploskan bola hasil sepakan kaki kanan yang sempat membentur tiang sebelum masuk ke gawang. Babak pertama ditutup dengan kekecewaan Mesir, namun asa mereka kembali menyala di paruh kedua. Pada menit ke-67, sepak pojok Zizo (Ahmed Sayed) disambut sundulan keras Ahmed Hegazi yang bersarang telak di pojok kiri gawang Emiliano Martínez. Skor 2–2, dan laga kembali hidup.
Puncak kontroversi terjadi pada menit ke-83. Lautaro Martínez merangsek ke kotak penalti dan melepaskan tembakan yang sempat diblok secara spektakuler oleh kiper Mohamed El Shenawy. Bola muntah jatuh ke kaki Nicolás González yang kemudian mencungkil bola ke tiang jauh dan dikonversi menjadi gol oleh Lautaro dari posisi yang sangat tipis. Hakim garis semula mengangkat bendera tanda offside, namun Letexier berdiskusi melalui komunikasi VAR dan mengesahkan gol tersebut setelah meninjau tayangan ulang di monitor pinggir lapangan. Letexier menilai tayangan menunjukkan bahwa lutut bek kiri Mesir, Mohamed Hamdy, berada sejajar dengan Lautaro saat bola terakhir dimainkan González.
Kemarahan Pelatih yang Meledak Usai Peluit Akhir
Begitu peluit panjang berbunyi, Hossam Hassan tak kuasa menahan emosinya. Ia menghambur ke arah Letexier dan jajaran ofisial pertandingan sembari mengumbar gestur kemarahan. Dalam sesi jumpa pers yang berlangsung tak lazim—hanya sepuluh menit setelah laga usai—Hassan melontarkan tuduhan keras yang bakal menjadi perbincangan panas dalam beberapa hari ke depan.
“Kami tidak kalah karena Argentina lebih baik. Kami kalah karena wasit memberikan segalanya untuk mereka. Ini pengaturan. Semua orang bisa melihatnya. Dua keputusan besar dibuat hanya untuk satu tim. Ini bukan sepak bola. Ini sandiwara. Saya malu dengan yang terjadi malam ini,” ujar Hassan dengan suara bergetar menahan marah.
Perkataan Hassan tak berhenti di situ. Ia juga mempertanyakan integritas sistem VAR dan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 secara keseluruhan. “Kenapa tinjauan VAR selalu menguntungkan tim besar? Kenapa hanya sudut tertentu yang diperlihatkan? Kami ingin transparansi. Saya tidak akan diam,” tambahnya. Pria berusia 59 tahun itu bahkan sempat menyinggung kemungkinan adanya “tangan-tangan tak terlihat” yang ingin memastikan Argentina melaju jauh karena alasan komersial dan popularitas.
Ziko Ikut Mengecam: “Keadilan Mati Malam Ini”
Tak hanya sang pelatih, gelandang serang Ahmed Sayed “Ziko” juga melontarkan kecaman serupa. Pemain yang tampil sebagai motor serangan Mesir sepanjang turnamen itu menyebut kepemimpinan Letexier sebagai yang terburuk yang pernah ia alami. Ziko, yang pada laga tersebut mencatat satu assist dan menjadi korban pelanggaran keras yang tak diganjar kartu, menyuarakan frustrasinya di zona campuran.
“Saya melihat sendiri bagaimana mereka (wasit) membuat keputusan-keputusan yang bahkan anak kecil pun tahu itu salah. Keadilan mati malam ini. Kami mencetak dua gol, kami bertarung, tapi sepertinya Piala Dunia ini tidak ingin kami melangkah lebih jauh. Semua yang terjadi sangat menyakitkan,” kata Ziko dengan mata masih tampak berkaca-kaca.
Kekalahan ini mengakhiri perjalanan impresif Mesir yang untuk pertama kalinya lolos ke fase knock-out Piala Dunia dalam 92 tahun sejarah partisipasi mereka. Sementara itu, Argentina melaju ke perempat final dan akan menghadapi Kroasia. Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) dikabarkan tengah menyiapkan laporan resmi kepada FIFA terkait kontroversi kepemimpinan wasit pada laga tersebut.
Comments (0)