Helikopter Water Bombing Dihentikan, Kebakaran TPA Jatiwaringin Padam
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan penghentian operasi empat unit helikopter pengebom air menyusul keberhasilan pemadaman total kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwari...
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan penghentian operasi empat unit helikopter pengebom air menyusul keberhasilan pemadaman total kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Keputusan tersebut diambil setelah seluruh titik api dinyatakan padam berdasarkan hasil pemantauan udara dan laporan tim darat yang dikonfirmasi pada Sabtu sore, 26 Oktober 2024.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa status kedaruratan telah diturunkan dari level siaga menjadi pemulihan. “Operasi water bombing resmi kami setop per pukul 17.00 WIB. Seluruh titik api di area TPA Jatiwaringin sudah dapat dikendalikan dan dinyatakan padam,” ujar Muhari dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (27/10/2024).
Kronologi dan Durasi Operasi
Kebakaran di TPA Jatiwaringin pertama kali dilaporkan pada Selasa, 22 Oktober 2024. Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, api dengan cepat merambat melahap tumpukan sampah seluas hampir 15 hektare. Ketebalan asap yang mencapai ketinggian lebih dari 300 meter memaksa pemerintah daerah menetapkan status darurat dan mengajukan permohonan bantuan ke BNPB.
Menindaklanjuti permintaan tersebut, BNPB mengerahkan armada helikopter water bombing pada Rabu, 23 Oktober 2024. Empat unit helikopter dikerahkan secara bergilir, terdiri dari dua unit Sikorsky S-64 Skycrane berkapasitas 8.000 liter air per kali angkut dan dua unit Bell 412 EP dengan kapasitas 1.000 liter per sorti. Pengambilan air dilakukan dari Danau Cipondoh dan Waduk Karian yang berjarak sekitar empat hingga tujuh kilometer dari lokasi kebakaran.
Dalam operasi yang berlangsung selama empat hari tersebut, BNPB mencatat total lebih dari 2,8 juta liter air telah dijatuhkan ke area TPA melalui 812 kali sorti penerbangan. “Intensitas tertinggi terjadi pada hari kedua operasi, di mana kami mencatatkan 267 sorti dalam satu hari,” ungkap Direktur Operasi Udara BNPB, Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryo Aji, saat memberikan keterangan teknis di Posko Utama TPA Jatiwaringin.
Selain operasi udara, sebanyak 380 personel gabungan dari BPBD Kabupaten Tangerang, BPBD Provinsi Banten, TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, serta relawan dikerahkan untuk melakukan pemadaman di permukaan. Teknik pemisahan sampah menggunakan alat berat dilakukan untuk memutus jalur rambatan api di bawah permukaan tumpukan sampah yang mencapai kedalaman 15 hingga 20 meter.
Evaluasi dan Langkah Lanjutan
Meskipun operasi water bombing telah dihentikan, BNPB menekankan bahwa tahap pendinginan dan pemantauan masih terus berjalan. “Kami masih menempatkan dua unit mobil pemadam dan satu tim regu pengawas di lokasi untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api bawah permukaan,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat.
Fenomena subsurface fire atau kebakaran bawah permukaan menjadi perhatian utama dalam penanganan kebakaran TPA. Gas metana yang terperangkap di lapisan sampah yang telah terdekomposisi dapat memicu kemunculan kembali api tanpa peringatan dini. Berdasarkan data BNPB, TPA Jatiwaringin telah tiga kali mengalami kebakaran besar dalam lima tahun terakhir, masing-masing pada September 2019, Agustus 2021, dan Oktober 2024.
Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan menyatakan akan segera melakukan audit teknis terhadap sistem pengelolaan gas metana di TPA Jatiwaringin. Rencana pemasangan pipa ventilasi gas vertikal di 12 titik strategis akan dipercepat guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Dampak dan Penanganan Warga
Kebakaran TPA Jatiwaringin berdampak langsung pada sekitar 4.200 warga di tiga desa sekitar lokasi, meliputi Desa Jatiwaringin, Desa Cibodas, dan Desa Pasir Bolang. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat 187 warga mengalami gangguan ISPA dan 43 orang lainnya mengeluhkan iritasi mata selama periode kebakaran. Seluruh pasien telah mendapatkan penanganan di Puskesmas Jatiwaringin dan RSUD Kabupaten Tangerang.
Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar, yang meninjau langsung lokasi pada Kamis (24/10), memastikan bahwa pemerintah daerah telah menyalurkan 3.000 masker N95 dan mendirikan dua tenda oksigen bagi warga yang membutuhkan. “Kami juga telah menyiapkan tempat evakuasi sementara di Aula Desa Jatiwaringin, namun hingga saat ini mayoritas warga memilih bertahan di rumah masing-masing dan hanya menggunakan tempat evakuasi pada malam hari saat konsentrasi asap meningkat,” papar Zaki.
Dengan padamnya kebakaran dan dihentikannya operasi water bombing, kualitas udara di sekitar TPA Jatiwaringin menunjukkan tren perbaikan signifikan. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Tangerang, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) telah turun dari level 187 (tidak sehat) menjadi 72 (sedang) dalam dua hari terakhir. Aktivitas masyarakat pun berangsur normal, termasuk kegiatan belajar mengajar di SDN Jatiwaringin 2 dan SMPN 1 Solear yang sebelumnya diliburkan selama tiga hari.
BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah yang memiliki TPA dengan sistem open dumping untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap risiko kebakaran, khususnya menjelang musim kemarau panjang yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih akan berlangsung hingga akhir November 2024.
Comments (0)